PROSES EVAPORASI PADA EVAPORATOR KEDUA DI PT MADUBARU YOGYAKARTA

JULIAN DENNY IRAWAN (2022) PROSES EVAPORASI PADA EVAPORATOR KEDUA DI PT MADUBARU YOGYAKARTA. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-24382-190331100090-Julian Denny Irawan#190331100090#Teknologi Industri Pertanian.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-24382-190331100090-Julian Denny Irawan#190331100090#Teknologi Industri Pertanian.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Industri berbasis perkebunan mempunyai kemampuan sebagai leading
sector dalam pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan juga mendorong
perbaikan distribusi pendapatan. Salah satu industri hilir perkebunan tersebut
adalah industri gula. Menurut Susila, 2008 industri ini efektif dalam meningkatkan
pendapatan tenaga kerja dan rumah tangga di wilayah perdesaan. Gula menjadi
salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal
sekitar 350 ribu hektar pada periode tahun 2000-2005, industri gula berbasis tebu
menjadi salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani. Total jumlah
tenaga kerja yang terlibat diperkirakan bahkan mencapai sekitar 1.3 juta orang
(Departemen Pertanian, 2005). Produksi gula Indonesia pada tahun 2006
mencapai 2.31 juta ton yang meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun 2004
yang hanya sebesar 2 juta ton. Pencapaian produksi ini masih lebih rendah
dibandingkan dengan angka produksi pada tahun 1993, yaitu 2.48 juta ton. Sejak
tahun 1993 jumlah produksi gula Indonesia mempunyai kecenderungan menurun.
Dari angka produksi sebesar itu, lebih dari 60 persen berasal dari pulau Jawa. Di
sisi lain, angka konsumsi gula cenderung terus meningkat. Pada tahun 1990 angka
konsumsi gula mencapai 2.39 juta ton dan mencapai di atas 3 juta ton setelah
tahun 1995 hingga tahun 1997 dan di atas 3.5 juta ton pada tahun 2004 (PSP-IPB
dan AKANI, 2005).
Suhu menjadi faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses
evaporasi. Pengaturan kenaikan dan penurunan suhu serta suplai panas dalam
sistem evaporasi harus dapat bekerja dengan baik sehingga tidak keluar dari batas
interval suhu optimum. Sistem pengaturan tersebut harus dijaga dengan baik
sehingga digunakan sistem otomatis melalui sensor termokopel yang terintegrasi
dengan pemanas (Sumarlan et al. 2020)
Gula merupakan hasil olahan dari tebu (Saccharum officinarum). Kualitas
gula harus duji untuk dapat diterima pasar (Fitri 2008). Kualitas gula diukur dengan
menganalisis Nira Perahan Pertama (NPP) tebu. Analisis kualitas nira meliputi
%brix, %pol, pH, gula reduksi %brix, Harkat Kemurnian (HK) dan Nilai Nira
Perahan Pertama (NNPP). %brix adalah zat padat kering terlarut dalam larutan
(gr/100gr larutan) yang dihitung sebagai sukrosa. %pol adalah jumlah gula (gr)
yang terlarut dalam 100 gram larutan yang mempunyai kesamaan putaran optik
dengan sukrosa murni. pH merupakan parameter keasaman yang mempengaruhi

3
kualitas nira setiap proses pengolahan menjadi gula. Gula reduksi %brix
merupakan hasil inversi dari sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. HK merupakan
persentase %pol terhadap %brix. NNPP merupakan suatu besaran yang
menyatakan kristal (%) yang diperkirakan dapat diperoleh dari NPP (Santoso
2011).
Pabrik Gula Madukismo merupakan salah satu perusahaan agroindustri
yang memproduksi gula guna memenuhi kebutuhan konsumsi gula pasir di
Indonesia. Sehingga dituntut untuk melakukan produksi secara berkelanjutan
selama musim giling. Dalam melakukan kegiatan produksinya PG Madukismo
membutuhkan bahan baku. Bahan baku utama yang dibutuhkan Pabrik Gula
Madukismo dalam proses produksinya adalah tebu. Tebu merupakan tanaman
semusim yang dapat ditebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu umur
sekitar 10 bulan. Tebu merupakan bahan baku agroindustri yang memiliki sifat
mudah rusak yaitu jika didiamkan terlalu lama kualitas tebu akan menurun.
Berdasarkan penelitian, tebu yang sudah ditebang cepat mengalami penurunan
kualitas dan mengalami penyusutan jika setelah 36 jam tidak segera dilakukan
pemrosesan. Hal tersebut mempengaruhi penurunan produksi gula yang
dihasilkan. Semakin lama penundaan, nira yang dihasilkan menurun karena kadar
air dalam tebu mengalami penguapan, sedangkan kandungan zat padat pada nira
akan meningkat dan menimbulkan terjadinya peningkatan viskositas nira. Semakin
tinggi viskositas nira maka akan menyulitkan proses pemurnian. Hal tersebut
berpengaruh terhadap penurunan produksi gula yang dihasilkan. Oleh karena itu,
Pabrik Gula Madukismo perlu melakukan standar penundaan giling yaitu selama
36 jam dan tebu yang diproses sebagai bahan baku memiliki kandungan rendemen
6-8 serta masih dalam standar kualitas yang ditetapkan, yaitu tebu Bersih Segar
dan Manis (BSM) (Agustiana dan Pardian 2019).
Pabrik Gula Madukismo dalam memenuhi kebutuhan bahan baku tebunya
yaitu dengan melakukan kerja sama dengan petani. Ada 3 pola kerja sama yaitu
Tebu Rakyat Mandiri, Tebu Rakyat Kemitraan, dan Tebu Rakyat Kerja Sama
Usaha. Tebu Rakyat Mandiri merupakan kemitraan yang keseluruhan kinerjanya
dilakukan oleh petani, mulai dari pencarian lahan, biaya, dan pengerjaan kebun.
Tebu Rakyat Kemitraan merupakan pola kerja sama yang mana Pabrik Gula
Madukismo bermitra dengan pemilik lahan dan Pabrik Gula Madukismo
sepenuhnya mengelola perkebunan dengan Sinder Kebun Wilayah (SKW)
sebagai penanggung jawab. Tebu Rakyat Kerja sama Usaha merupakan pola
kerja sama dengan pengelolaan bersama antara Pabrik Gula Madukismo dan
petani dengan menjadikan kelompok petani sebagai pengelola lahan dan Pabrik Gula Madukismo terlibat dalam aspek teknisnya (Agustiana dan Pardian 2019).

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
JULIAN DENNY IRAWAN
Department Teknologi Industri Pertanian
Uncontrolled Keywords PROSES EVAPORASI; PT MADUBARU YOGYAKARTA
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 13:05
Last Modified 24 Oct 2026 16:50
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6790

Actions (login required)

View Item
View Item