TRUNOJOYO-KP-24321-190351100046-Laporan PKL Mu’ayyanah 190351100046 MSP.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu spesies
udang air tawar di Indonesia. Secara taksonomi udang galah masuk ke dalam
kelas Crustacea, Genus Macrobrachium, dan Spesies Macrobrachium
rosenbergii. Terdapat dua siklus daur hidup udang galah, yaitu siklus pada
perairan payau dan siklus pada air tawar. Siklus pada air payau dimulai pada
saat larva sampai pasca larva, sedangkan untuk siklus di air tawar yaitu ketika
udang telah mencapai pasca larva sampai dewasa. Udang galah merupakan
udang yang paling populer dari keseluruhan udang air tawar dikarenakan ukuran
tubuhnya yang besar dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik di pasar
domestik maupun luar negeri. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pada
tahun 2001 telah menetapkan udang galah sebagai salah satu alternatif
komoditas unggulan. Pangsa pasar yang besar serta keunggulan komparatif
yang dimiliki udang galah menjadikan komoditas andalan dan mampu bersaing
dengan produk negara lain. Upaya pemuliaan udang galah menjadi salah satu
alternatif terbaik untuk mencapai sasaran tersebut (Solihin, 2019).
Potensi pasar udang galah saat ini mencapai 10.500 ton per tahun. Jika
total lahan budidaya udang galah di kolam air tawar seluas 500 hectare, maka
rata-rata panen setiap hektarnya sebanyak 4 ton sehingga pembudidaya udang
galah di kolam air tawar baru dapat memasok udang galah sebanyak 2.000 ton
per tahun atau 5,4 ton per hari untuk kebutuhan seluruh Indonesia. Angka ini
masih sangat rendah dan jauh di bawah tingkat kebutuhan udang galah yang
mencapai 28,7 ton per hari. Tingginya permintaan pasar terhadap udang galah,
perlu diimbangi dengan produksi udang galah. Peningkatan produksi udang
galah memerlukan adanya ketersediaan pasokan benih sehingga perlu dilakukan
kegiatan pembenihan udang galah untuk memenuhi permintaan pasar tersebut.
Penerapan teknologi dan pengelolaan budidaya yang kurang tepat hanya akan
menurunkan kualitas induk yang selanjutnya juga akan mempengaruhi kualitas
larva yang dihasilkan (Irianti et al., 2016).
Pemeliharaan larva sangat penting dalam budidaya perikanan karena
sampai saat ini produksi benih udang galah di tanah air masih terbatas
jumlahnya. Jumlah tempat pembenihan (hatchery) masih sangat sedikit, produksi
per siklusnya pun tidak dapat dikatakan besar. Permintaan benih udang galah oleh petani pembesaran yang tetap tinggi mengakibatkan petani tidak punya
pilihan untuk memperoleh benih yang paling baik. Sebagian besar pembenihan
udang galah yang ada saat ini masih mengandalkan induk-induk dari alam atau
dari hasil pemeliharaan di kolam pembesaran. Kegiatan manajemen induk yang
baik dan pertimbangan terhadap sifat genetik masih belum berjalan baik. Petani
masih dihadapkan pada kelangkaan benih dan seringkali menunggu antrian
untuk dapat memperoleh benih (Hadie et al., 2017).
Faktor utama yang dapat menentukan keberhasilan pemeliharaan udang
galah adalah pakan. Pakan (makanan) merupakan faktor penting dikarenakan
bеbеrара hal. Salah satunya berfungsi untuk memicu pertumbuhan organisme
budidaya dеngаn pemberian pakan уаng bergizi, tepat waktu dan dosis уаng
cukup. Pemberian pakan udang galah perlu dilihat dari umur, ukuran dan bukaan
mulut udang. Udang galah akan memijah dan bertelur di air tawar. Sejak telur
dibuahi hingga menetas diperlukan waktu 16-20 hari. Telur menetas hingga
menjadi juvenil (stadia larva) diperlukan 11 stadia dari stadia larva 1-10 hingga
menjadi juvenil dalam waktu maksimal 41 hari, stadia selanjutnya yaitu menjadi
udang dewasa (Syatriawan et al., 2019).
Larva udang galah biasanya diberikan pakan alami berupa naupli artemia.
Pakan alami merupakan pakan yang disediakan secara alami dari alam dan
ketersediaannya dapat dibudidayakan oleh manusia. Larva udang galah selain
diberikan pakan alami juga diberikan pakan buatan dalam bentuk cake
menggunakan bahan-bahan pilihan sehingga mampu memenuhi kebutuhan
nutrisi untuk larva udang galah. Manajemen (pengelolaan) pakan ѕаngаt penting
dalam budidaya perikanan. Manajemen pakan memerlukan biaya yang besar
dan јugа ѕаngаt berpengaruh terhadap kualitas air dan lingkungan sekitarnya
(Raharjo et al., 2016).
Budidaya udang galah memiliki beberapa faktor permasalahan yang
harus dihadapi salah satunya yaitu kualitas air. Tjahyo et al. (2017) menyatakan
bahwa manajemen kualitas air berperan dalam menentukan keberhasilan
budidaya udang galah karena tingkat kesehatan udang galah, pertumbuhan, dan
kelangsungan hidup udang galah dipengaruhi oleh interaksi lingkungan, patogen,
dan kondisi udang galah. Kualitas air mempunyai peranan yang penting bagi
udang galah karena air berfungsi sebagai media udang galah baik sebagai
media internal maupun eksternal. Air sebagai media internal berfungsi sebagai
bahan baku reaksi di dalam tubuh, pengangkut bahan makanan ke seluruh tubuh, dan sebagai pengatur atau penyangga suhu tubuh, sedangkan sebagai media
eksternal air berfungsi sebagai habitat udang galah. Peran air bagi budidaya
udang galah sangat penting sehingga kuantitas dan kualitas air dalam budidaya
udang galah harus dijaga sesuai dengan kebutuhan udang galah (Solihin, 2019).
Udang galah merupakan biota air tawar yang sangat sensitif terhadap
perubahan lingkungan sehingga memerlukan penanganan spesifik dalam
pemeliharaannya (Rosenbergii et al., 2013). Kualitas air untuk budidaya udang
galah dapat dikatakan harus lebih bagus dari komoditas ikan tawar lainnya
karena udang sangat sensitif dan mudah stres terhadap penurunan kualitas air.
Fenomena pergantian kulit (moulting) merupakan rangkaian proses udang untuk
tumbuh dan berdampak pada melemahnya kondisi udang. Kondisi tersebut
menyebabkan udang semakin sensitif terhadap menurunnya kualitas lingkungan
hidupnya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan lingkungan optimal bagi
kehidupan udang galah, maka rangkaian pengolahan kolam harus dilakukan
secara seksama (Khasani, 2016).
Parameter kualitas air harus dimonitor sebagai pedoman dalam
manajemen kualitas air dalam budidaya udang galah untuk menghindari efek
negatif terhadap udang galah yang dipelihara. Aktivitas hidup larva udang galah
sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungannya, bahkan larva udang galah
memiliki kerentanan yang tinggi terhadap kualitas media pemeliharaan yang
kurang baik. Kualitas air yang baik mampu mendukung pertumbuhan optimal
udang galah. Parameter suhu air, salinitas, pH, dan DO akan mempengaruhi
proses metabolisme tubuh udang seperti keaktifan mencari pakan, proses
pencernaan, dan pertumbuhan udang (Irianti et al., 2016).
Salah satu instansi pemerintah yang telah berhasil mengembangkan
teknik budidaya larva udang galah adalah Unit Kerja Budidaya Air Payau
(UKBAP) Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Unit Kerja Budidaya Air
Payau (UKBAP) Samas sebagai salah satu hatchery udang galah berusaha
memproduksi benih yang berkualitas baik untuk memenuhi kebutuhan benih
petani khususnya di daerah Yogyakarta (Suwartiningsih et al., 2017).
Pemahaman mahasiswa terhadap teknik pemeliharaan larva udang galah masih
rendah sehingga untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam
pemeliharaan larva udang galah yang baik dan benar, perlu dilakukannya
kegiatan Praktik Kerja Lapang di Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas,
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MU’AYYANAH |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | LARVA UDANG GALAH; UNIT KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU (UKBAP) SAMAS, YOGYAKARTA |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 13:02 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:50 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6630 |
