PENGOLAHAN DATA BATIMETRI UNTUK PEMANTAUAN WILAYAH PENGERUKAN DI PELABUHAN PT. PETROKIMIA GRESIK

ERIKA QURROTUL ‘AINI (2021) PENGOLAHAN DATA BATIMETRI UNTUK PEMANTAUAN WILAYAH PENGERUKAN DI PELABUHAN PT. PETROKIMIA GRESIK. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-24320-180341100054-LAPORAN PKL_Erika Qurrotul Aini.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-24320-180341100054-LAPORAN PKL_Erika Qurrotul Aini.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (5MB)

Abstract

Pemetaan serta pengukuran dari topografi dasar laut dapat disebut
sebagai Batimetri (bathimetry). Kegiatan suatu pemanfaatan ruang – ruang
yang terdapat di wilayah pantai membutuhkan suatu informasi penting yaitu
salah satunya informasi kedalaman laut. Negara indonesia sendiri memiliki
17.504 pulau dan memiliki garis pantai sepanjang 104.000 km. Wilayah pantai
ini umumnya merupakan daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk
kegiatan manusia diantaranya dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pusat
pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian,
perikanan, pariwisata, dan lain sebagainya (Anugrah et al., 2015).
Aktivitas pembangunan di wilayah pantai diprediksi akan semakin
pesat seiring dengan peningkatan ekonomi serta populasi dalam suatu wilayah.
Aktivitas tersebut berbeda dengan aktivitas yang terjadi di daratan,
pembangunan fisik dan pemanfaatan ruang di wilayah pantai harus ditopang
oleh data dan informasi oseanografi, salah satunya terkait visualisasi kontur
dan kedalaman perairan. Data serta informasi oseanografi seperti data
kedalaman dan visualisasi kontur atau topografi dasar perairan dapat dihasilkan
dari proses survei batimetri. Teknik pengukuran kedalaman yaitu salah satunya
dengan perangkat akustik berdasarkan prinsip rambatan suara dalam media air.
Teknik ini dipandang cukup efektif dalam menghasilkan data oseanografi
(Prananda et al., 2017).
Teknologi penginderaan jauh memberikan peluang bagi pemetaan
batimetri yang mana hal ini penting untuk mengamati zona pesisir, dan
pembuatan peta navigasi keselamatan pelayaran. Pengukuran batimetri secara
konvensional di daerah dangkal dan bergelombang seperti di daerah terumbu
sangat sulit dan mahal bahkan terkadang sangat berbahaya. Instrumen akustik
kelautan seperti echosounder merupakan salah satu alat dari teknologi
hidroakustik. Teknologi ini memanfaatkan perambatan gelombang suara untuk
mendeteksi objek yang berada di kolom dan dasar perairan. Amplitudo dari sinyal pantul dapat memberikan beberapa informasi yakni mengenai dasar
suatu perairan maupun target dasar perairan yang lainnya (Tjasyono 2006).
Pengukuran batimetri bisa dilakukan dengan echo sounding (sonar),
yang dipasang di sisi dari suatu kapal kemudian gelombang suara akan
dipancarkan. Penggunaan teknologi ini lebih baik karena tidak merusak
lingkungan sekitar pada daerah penelitian, perolehan dan pemrosesan data
secara real time, akurasi dan presisi tinggi serta tidak berbahaya atau tidak
merusak objek bawah air yang diukur. Sistem batimetri dengan menggunakan
singlebeam secara umum mempunyai susunan transceiver
(transducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan
pada kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal
survei. Transceiver yang terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa
dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang suara)
secara langsung menyusuri bawah kolom air (Febrianto et al. 2015).

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
ERIKA QURROTUL ‘AINI
Department Kelautan
Uncontrolled Keywords DATA BATIMETRI; PELABUHAN; PT. PETROKIMIA GRESIK
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 13:02
Last Modified 24 Oct 2026 16:50
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6629

Actions (login required)

View Item
View Item