TRUNOJOYO-KP-24287-190351100036-LAPORAN PKL RIDHO RAMADHANI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu dari beberapa kabupaten di
Provinsi Jawa Timur dimana sebagian penduduknya bekerja sebagai
pembudidaya ikan baik di air payau maupun air tawar. Budidaya perikanan yang
telah dibudidayakan di Kabupaten Lamongan adalah : budidaya perikanan
tambak, waduk, dan budidaya tambak. Budidaya air payau terdapat di tiga
kecamatan, yaitu: Kecamatan Glagah, Paciran, dan Brondong, sedangkan
budidaya air tawar yakni, tambak yang berada di 18 kecamatan. Sampai tahun
2010 pembudidaya tambak di Kabupaten Lamongan adalah 2.282 RTP yang
memiliki luas 1.745,40 ha dengan total luas produksi sebesar 3.606,02 ton dengan
nilai produksi sebesar Rp 80.210.620.000,- (Anonim, 2010) atau produktivitas
tambak 2.066 kg/ha/tahun. Produktivitas tambak ini masih bisa ditingkatkan
melalui pengelolaan kolam yang tepat. Khusus tambak di Provinsi Jawa Timur
termasuk di Kabupaten Lamongan belum pernah dilaporkan hasil penelitian
mengenai pengelolaan yang dilakukan oleh pembudidaya tambak. Pengelolaan
kolam merupakan faktor penting setelah menentukan kesesuaian lahan budidaya
untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan budidaya berkelanjutan (Karthik et
al., 2005).
Identifikasi variabel faktor manajemen tambak yang tidak mempengaruhi
produktivitas tambak perlu diketahui agar dapat ditindaklanjuti pembudidaya untuk
mengefisienkan biaya produksi tanpa mempengaruhi produktivitas tambak. Oleh
karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor dominan
manajemen tambak yang mempengaruhi produktivitas tambak di Kabupaten
Lamongan untuk dijadikan sebagai dasar dalam upaya meningkatkan
produktivitas tambak (Yaskun Sugiarto, 2017). Budidaya perikanan menjadi
tumpuan serta perkembangan di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
Menurut (Radiarta Haryadi, 2015), Indonesia termasuk negara produsen
perikanan urutan ke-4 di dunia dengan produksi 3.067.660 ton atau 4,6% produksi
perikanan dunia. Perikanan budidaya sebagai pertumbuhan ekonomi negara yang
memiliki daya saing. Usaha pengembangan perikanan budidaya untuk
mempertahankan produksi supaya semakin bisa ditingkatkan lagi agar dapat
berkelanjutan dengan sumberdaya dan ekosistem yang ada. Potensi lahan tambak
serta sumberdaya manusia yang memadai untuk mendukung kegiatan perikanan
budidaya di Indonesia. Aktivitas budidaya perikanan yang terdapat di Indonesia
meliputi budidaya air tawar, budidaya air payau serta budidaya laut. Potensi lahan untuk pembudidayaan di pantai (tambak) sebesar 913.000 ha (Ditjen Perikanan
Budidaya, 2002).
Kualitas air sendiri merupakan suatu pengukuran kondisi air yang meliputi
fisika, kimia dan biologi. Pengelolaan kualitas air merupakan suatu cara untuk
menjaga parameter kualitas air agar sesuai dengan standart baku mutu. Kualitas
air sangat penting karena dapat menentukan pertumbuhan dan kelangsungan
hidup biota perairan. Penurunan kualitas air akan berujung pada penurunan
produksi. Sering sekali ditemukan gagalnya produksi udang vaname yang
disebabkan oleh buruknya kualitas air pada tambak. Menurut (Arsad et al., 2017)
menyatakan bahwa padat tebar yang tinggi serta pemberian pakan yang banyak
dapat memicu turunnya kualitas air, hal tersebut di pengaruhi karena adanya
akumulasi bahan organik. Kandungan bahan organik di tambak biasanya berasal
dari timbunan sisa-sisa pakan, hasil ekskresi yang berupa feses, serta sisa-sisa
ganggang yang mati. Sisa pakan akan meningkatkan bahan organik seperti kadar
amonia sehingga membuat kualitas perairan tambak menjadi buruk dan toksik.
Kandungan bahan organik dalam tambak seperti amonia dapat menyebabkan
toksik dalam perairan ketika nilainya melebihi ambang batas. Amonia dalam air
akan mempengaruhi pertumbuhan biota budidaya serta menurunkan konsumsi
dan kebutuhan oksigen. Menurut (Putra, 2014) menyatakan bahwa kadar amonia
yang tinggi dapat berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme sehingga nafsu
makan biota budidaya menurun dan menghambat daya serap terhadap oksigen.
Hal tersebut harus diperhatikan karena akan berdampak pada berat rata-rata
bandeng atau nilai ABW (Average Body Weight). Nilai ABW (Average Body
Weight) ikan bandeng juga akan semakin rendah jika suatu tambak udang memiliki
padat tebar yang tinggi, dengan adanya Kabupaten Lamongan dengan potensi
perikanan yang cukup besaer dalam sektor tambak udang, dimana Dinas Perikana
dan Kelautan yang nantinya berkewajiban untuk mengatur dan mengatasu
budidaya perikanan yang ada
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RIDHO RAMADHANI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | AMONIA; NITRIT; NITRAT; FOSFAT; UDANG VANAME |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 13:01 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:50 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6535 |
