IDENTIFIKASI Tilapia Lake Virus (TiLV) PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION DI BALAI KIPM SURABAYA II

LISARI IRMA ESTERLITA (2022) IDENTIFIKASI Tilapia Lake Virus (TiLV) PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION DI BALAI KIPM SURABAYA II. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-24265-190351100033-LAPORAN PKL. LISARI IRMA ESTERLITA. 190351100033.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-24265-190351100033-LAPORAN PKL. LISARI IRMA ESTERLITA. 190351100033.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Penyakit ikan dapat menimbulkan gangguan secara langsung maupun tidak
langsung. Gangguan tersebut dapat berasal dari organisme lain, pakan maupun
kondisi lingkungan yang kurang mendukung kehidupan ikan. Nurcahyo (2018)
membahas permasalahan penyakit yang sering ditemukan pada sektor perikanan
yang dapat disebabkan oleh penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang dapat
menyerang komoditas perikanan adalah virus.
Virus merupakan salah satu penyakit invasif yang penyebaranya mulai
ditemukan di negara berkembang seperti Indonesia. Infeksi virus yang bersifat akut
dapat menyebabkan kerugian dalam waktu yang singkat. Salah satu virus yang
dapat menyerang ikan air tawar dan mengakibabkan kerugian besar dalam kegiatan
budidaya adalah Tilapia Lake Virus (TiLV). TiLV pertama kali dilaporkan berada di
Israel dan menyebar ke Ekuador, Kolombia, Becharach, dan ke beberapa negara
seperti Mesir, Thailand, serta India. Di Indonesia, sering terjadi kematian massal
budidaya ikan nila terutama di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok. Bacharach
et al. (2016) melaporkan kejadian kematian massal hingga 100% pada ikan nila
(Oreochromis sp., Sarotherodon sp., dan Tilapia sp.) yang disebabkan oleh infeksi
jenis virus TiLV. Koesharyani et al., (2018) melaporkan kasus kematian massal ikan
nila suspektif di Lombok yang diakibatkan oleh infeksi TiLV. Hal ini dipertegas oleh
penelitian Saragih dan Juanaidi (2021) yang melaporkan bahwa ikan nila yang
berumur 30 hari dari tambak ikan nila di Kecamatan Porsea dan Laguboti, Toba
Samosir, Sumatera Utara terkonfirmasi positif oleh TiLV.
Penularan TiLV dapat melalui ikan yang telah terinfeksi ke ikan yang sehat
melalui media air dalam waktu 2-3 hari. Gejala klinis infeksi TiLV pada kasus di
Israel menunjukkan beberapa ciri seperti letargi, tubuh menghitam, endopthalmis,
erosi kulit, kongesti pada ginjal, degenerasi okular dan encephalitis (Bacharach et
al., 2016). Sedangkan pada kasus infeksi TiLV di Thailand, gejala klinis yang terlihat
adalah menurunnya nafsu makan, kondisi ikan lemah dan berenang di permukaan,
anemia, kongesti pada kulit dan otak, insang dan hati berwarna pucat (Dong et al.,
2017). Berdasarkan Kepmen No.108/KEP-BKIPM/2-2017, TiLVmerupakan salah
satu jenis virus yang masuk ke dalam HPIK golongan 1 sehingga perlu dilakukan
pemeriksan lebih lanjut untuk mengetahui adanya serangan TiLV pada ikan nila.
Cara mendeteksi virus ini dapat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan
metode Polymerase Chain Reaction (PCR) seperti yang dijelaskan oleh Mark et al.
(2005) bahwa PCR merupakan metode pemeriksaan DNA virus yang menginfeksi
suatu organisme. Metode PCR memiliki tingkat akurasi yang tinggi karena dapat
mendeteksi banyaknya segmen DNA spesifik pada sampel.
Metode PCR yang digunakan untuk mendeteksi TiLV pada ikan nila adalah
semi nested PCR (Koesharyani et al., 2018). Tahapan semi nested PCR sama
dengan tahapan PCR konvensional, yaitu ekstrasi, amplifikasi, dan elektroforesis. Hal yang membedakan adalah primer reverse yang digunakan pada tahapan
amplifikasi pertama digunakan kembali pada tahapan amplifikasi kedua.
Penggunaan kembali primer reverse pada amplifikasi kedua dikarena primer reverse
memiliki gugus basa yang sama dengan gugus basa primer reverse yang digunakan
pada amplifikasi pertama (Jamal et al., 2019).
Balai Karantina Ikan Pengendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan
Surabaya II (BKIPM) merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Dan
Badan Karantina Ikan Pendendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM).
Berdasarkan PERMEN KP No.15 tahun 2010 Pasal 1013, BKIPM bertugas untuk
melaksanakan karantina ikan serta pengendalian mutu dan keamanan hasil
perikanan. Balai KIPM Surabaya II mempunyai tugas pokok melaksanakan
pencegahan masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dari
luar negeri dan dari suatu area lain di dalam negeri (impor) atau keluarnya dari

dalam wilayah Negara Republik Indonesia (ekspor) berdasarkan peraturan undang-
undang yang berlaku. Salah satu pencegahan masuk dan tersebarnya HPIK

golongan virus di Laboratorium Biomolekuler BKIPM Surabaya II dapat
menggunakan metode PCR. Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada bidang
budidaya air tawar terkait adanya serangan penyakit pada ikan khususnya virus,
maka perlu dilakukan diagnosis penyakit pada ikan air tawar yang disebabkan oleh
TiLV pada ikan nila. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan Praktik Kerja Lapang
di BKIPM Surabaya II dengan tujuan agar dapat mengetahui status kelayakan
komoditas hasil ikan air tawar (nila) baik yang akan diimpor maupun di ekspor.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
LISARI IRMA ESTERLITA
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords Tilapia Lake Virus (TiLV); IKAN NILA; POLYMERASE CHAIN REACTION; BALAI KIPM SURABAYA II
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 13:00
Last Modified 24 Oct 2026 16:50
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6476

Actions (login required)

View Item
View Item