TRUNOJOYO-KP-24159-180331100075-180331100075-SHOLEH WAHYUDI-LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Industri rokok di Indonesia telah berkembang dari sebuah industri
tradisional menjadi salah satu sektor manufaktur yang penting dalam hal nilai
tambah, lapangan kerja dan pendapatan pemerintah. Menurut Rochka et al. (2019),
rokok merupakan salah satu zat adiktif yang apabila digunakan dapat
mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Menurut jenisnya
rokok ada dua yaitu rokok elektrik dan rokok non elektrik, sedangkan berdasarkan
bahan pembungkusnya ada klobot, kawung, sigaret, dan cerutu (Tanuwihardha dan
Susanto 2012). Rokok berdasarkan bahan bakunya ada rokok putih, rokok kretek,
dan rokok klembak, sedangkan rokok berdasarkan penggunaan filter disuguhkan
dalam bentuk Rokok Filter (RF) dan Rokok Non Filter (RNF) (Sendari 2020).
Bahan baku pembuatan rokok sangat menentukan kualitas dari suatu produk
rokok. Bahan baku yang digunakan harus sesuai dengan standar mutu dan SNI
produk rokok. Secara umum penerapan standar mutu tembakau berkaitan dengan
penerapan teknologi proses IHT (Industri Hasil Tembakau), penerapan cara
produksi yang baik dan penggunaan sumber daya manusia (Kemenaker 2016).
Penentu mutu rokok ditentukan oleh jenis bahan baku, proses produksi, dan
distribusi. Selain itu, sanitasi dan hygiene juga dapat mempengaruhi mutu suatu
rokok (Kemanaker 2016).
Sanitasi merupakan suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik
beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan. Sanitasi digunakan untuk
mencegah pencemaran makanan dan racun yang disebabkan oleh zat aditif (Marsati
dan Widiarini, 2018). Nuryanti et al. (2017) mengelompokkan prinsip sanitasi
dalam 8 kunci, dimana kunci 1 adalah keamanan air, kunci 2 adalah kondisi dan
kebersihan permukaan yang kontak dengan bahan pangan, kunci 3 adalah
pencegahan kontaminasi silang, kunci 4 adalah menjaga fasilitas pencuci tangan,
sanitas dan toilet, kunci 5 adalah proteksi dari bahan-bahan kontaminasi, kunci 6
adalah pelabelan, penyimpanan dan penggunaan bahan toksin yang benar, kunci 7
adalah pengawasan terhadap personil yang dapat mengakibatkan kontaminasi dan
kunci 8 adalah menghilangkan pest dari unit pengolahan.
PT. Seribu Satu Alami terletak di Jl. Raya Babato Barat Desa Kertagena
Tengah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan Jawa Timur. Perusahaan ini
bergerak dibidang pengolahan tembakau menjadi rokok. Perusahaan ini memiliki
dua gudang yang menjadi sumber produksi, dimana dari masing-masing gudang
menghasilkan 20000-25000 linting rokok setiap hari dan rokok yang dikemas
sebanyak 1700-2000 pack perharinya. Total kapasitas produksi yang dihasilkan dari
kedua di PT. Seribu satu alami adalah 170-200 bal perharinya. Perusahaan PT.
Seribu Satu Alami menghasilkan jenis rokok kretek yang dikategorikan pada rokok
SKT.
Penerapan sanitasi pada perusahaan rokok perlu diperhatikan, karena dapat
menentukan kualitas rokok yang dihasilkan. Sanitasi yang baik dapat mencegah
terjadinya kontaminasi bahan berbahaya terhadap produk. Hal ini dapat menjadikan
produk tersebut menjadi tidak berbahaya bagi kesehatan. Melalui Praktik Kerja
Lapang (PKL) ini mahasiswa dapat mengetahui penerapan sanitasi yang dilakukan
pada perusahaan secara langsung. Oleh karena itu judul dalam Laporan PKL ini
adalah “Penerapan Sanitasi Rokok (Cigarette)1001 Alami Pada Pt. Seribu Satu
Alami Kec. Kadur Kab. Pamekasan Jawa Timur”.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM SHOLEH WAHYUDI |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | SANITASI INDUSTRI; ROKOK; PT. SERIBU SATU ALAMI KEC. KADUR KAB. PAMEKASAN JAWA TIMUR |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:55 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:50 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6226 |
