TRUNOJOYO-KP-24113-190341100020-RIO DWI SAPUTRA#190341100020#ILMU KELAUTAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Abalon merupakan salah satu jenis moluska, yang lebih dikenal dengan
kerang mata tujuh, medao, atau sea ears. Abalon juga merupakan gastropoda laut
yang hidup di daerah pasang surut dan tersebar mulai dari perairan tropis sampai
subtropis. Abalon memiliki cangkang tunggal atau monovalve dan menutupi hampir
seluruh tubuhnya. Abalon berbentuk oval dengan sumbu memanjang dari depan
(anterior) ke belakang (posterior) bahkan beberapa spesies berbetuk lebih lonjong.
Berbentuk seperti umumnya siput, cangkang abalon berbentuk spiral namun tidak
membentuk kerucut akan tetapi berbentuk gepeng (Fallu, 1991).
Abalon merupakan kelompok moluska laut, di Indonesia dikenal dengan
nama “kerang mata tujuh” atau “siput lapar kenyang” dimana beberapa jenis
merupakan komoditi ekonomis. Kerang mata tujuh ini memiliki potensi yang cukup
baik untuk dikembangkan khususnya jenis abalon H. squamata memiliki cita rasa
daging yang khas dan sebagai salahsatu komoditas yang tergolong ekspor (Hayati et
al., 2018). Pengembangan budidaya abalon sendiri sangat potensial dilakukan di
Indonesia. Perairan laut Indonesia yang luas dan juga potensi pakan abalon yang
bisa diproduksi sepanjang tahun merupakan faktor yang sangat mendukung untuk
budidaya abalone (Indarjo, 2007).
Budidaya abalon dapat menjadi alternatif atau tambahan penghasilan bagi
masyarakat pesisir dan sekaligus memberikan dampak positif secara ekologis, yaitu
mengurangi tekanan terhadap eksploitasi sumber daya abalon dari alam. Nusa
Tenggara Barat merupakan salah satu pulau di Indonesia yang mempunyai potensi
sumber daya alam yang bagus. Wilayah perairan pulau ini menunjukkan keberadaan
abalon yang cukup melimpah. Banyaknya manfaat yang menunjukkan potensi abalon
dari segi ekonomi maupun konsumsi cukup tinggi. Salah satu sebab belum
berkembangnya budidaya abalon di Indonesia adalah minimnya penelitianmengenai
abalon padahal kandungan yang dimiliki abolon sangat banyak (Indarjo 2007).
Berangkat dari latar belakang diatas, pelaksanaan praktik kerja lapang (PKL)
maka, penulis memilih pelaksanaan kegiatan teknik pembesaran kerang abalone
(Haliotis sp) di Balai Perikanan Budidaya Laut(BPBL) Sekotong Barat, Lombok Barat,
Nusa Tenggara Barat.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RIO DWI SAPUTRA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | KERANG ABALON; BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT (BPBL) LOMBOK BARAT NUSA TENGGARA BARAT |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:53 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6091 |
