TRUNOJOYO-KP-24099-190341100101-Fany Prawiratama_190341100101_Ilmu Kelautan.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Sampel tambahan adalah campuran yang tidak terdapat pada bahan
utama,namun sengaja ditambahkan ke dalam makanan. Menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/X/1999 Formalin tidak boleh ditambahkan
kedalam bahan pangan. Zat Formalin bereaksi pada lapisan lendir saluran
pencernaan dan saluran pernafasan. Formalin pada tubuh akan teroksidasi
membentuk asam format yang akan mengendap pada hati dan sel darah merah
konsumen. Pemakaian formalin pada makanan terlanjur masuk kedalam tubuh akan
mengakibatkan keracunan, seperti rasa sakit perut dan muntah-muntah, munculnya
depresi pada susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah (Wardani, 2016).
Ikan merupakan salah satu bahan pangan dengan kandungan protein tinggi dan
mengandung asam amino essensial, Daging ikan memiliki jaringan pengikat sedikit
sehingga mudah dicerna. Akan tetapi, ikan memiliki resiko pembusukan lebih cepat
dibandingkan bahan pangan lainya, seperti daging, buah buahan dan sayuran.Bahan
pangan ini mudah mengalami kerusakan organoleptik, terutama kerusakan akibat
adanya bakteri dan jamur. Disamping itu, pengawetan bahan pangan menggunakan
formalin mudah untuk digunakan, namun tingkat keamanan penggunaan yang perlu
diperhatikan (Wardani, 2016).
Adanya penambahan zat formalin dikarenakan sebagai daya dukung untuk
menambah masa umur suatu bahan karena formalin dapat meminimalisir adanya
bakteri,virus dan jamur. Selain itu, Formalin yang ditambahkan dapat membuat tekstur
kuat,dan tidak rapuh. Senyawa formalin dapat membahayakan tubuh jika sudah
terlanjur mengendap. Apabila sudah terlanjur mengendap terlalu banyak dalam tubuh
senyawa tersebut akan menggangu sistem kerja fungsi sel terganggu bahkan jika
sudah fatal akan bisa berakibat kematian bagi konsumen yang terjangkit. Selain itu,
tubuh konsumen yang sudah terakumulasi formalin akan mengalami iritasi pada perut,
alergi, berakibat kanker, dapat merusak sistem fungsi, muntah dan bahkan kematian
karena kegagalan sirkulasi tubuh (Steffen et al.,2021).
Penggunaan zat formalin pada hasil perikanan tangkap khususnya di PPN
Brondong sangat meresahkan dan mengancam kesehatan. Keberadaan Formalin
yang ditambahkan pada hasil beberapa ikan yang ditangkap oleh nelayan di PPN
Brondong pada akhirnya dapat terakumulasi pada produk olahan yang berasal dari
hasil tangkapan ikan tersebut oleh konsumen. Pentingnya pengujian kadar formalin
pada hasil tangkapan ikan di PPN Brondong dilakukan untuk memastikan ada atau
tidaknya zar berbahaya ini pada hasil ikan yang ditangkap oleh nelayan di PPN
Brondong. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kesehatan dan kelayakan
ikan yang ditangkap nelayan di PPN Brondong agar aman dikonsumsi oleh
masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi kegiatan PKL dengan Judul Pengujian
Kadar Formalin Pada Hasil Tangkapan Ikan di PPN Brondong dilaksanakan. Kegiatan
Praktek Kerja Lapang (PKL) dilakukan untuk mengetahui kegiatan pengujian
kandungan formalin pada ikan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara
Brondong, Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur. Pengujian kandungan formalin
pada ikan dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapatkandungan formalin pada
ikan hasil tangkapan nelayan pada Pelabuhan Perikanan Nusantara, serta menjadi
bentuk indikasi pengendalian dan pengawasan mutu perikanan yang ada di wilayah
Brondong.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM FANY PRAWIRATAMA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | FORMALIN; IKAN; PPN BRONDONG |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:52 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6064 |
