TRUNOJOYO-KP-24091-190341100103-ISMAYA KENZA CHALIZTA_190341100103_ILMU KELAUTAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (5MB)
Abstract
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua pertiga bagiannya
terdiri dari lautan dengan keanekaragaman terumbu karang yang menjadi
habitat bagi berbagai ikan hias maupun ikan konsumsi. Salah satu sumber daya
laut adalah segala jenis ikan hias laut yang memiliki peluang menjanjikan di
pasar internasional. Ikan hias laut salah satunya adalah ikan Badut (Amphiprion
ocellaris) atau biasa disebut ikan anemon adalah ikan akuarium yang hidup di
terumbu karang (Moria et al., 2007). Terumbu karang merupakan satu dari
ekosistem laut yang memiliki produktivitas primer yang sangat tinggi, dengan
produktivitasnya yang tinggi menjadikan terumbu karang sebagai sebagai salah
satu habitat serta tempat aktivitas berbagai biota laut. Dengan kelebihannya
tersebut, diperkirakan bahwa terumbu karang dihuni oleh sekitar 30% dari 15.000
spesies dari ikan laut yang ratusan jenisnya dapat hidup berdampingan
dengannya (Sari et al., 2014).
Umumnya, ikan yang menghuni terumbu karang menetap di kawasan
tersebut seumur hidup. Satu dari berbagai jenis ikan karang berasal dari Familia
Pomacentridae dengan subfamili Amphiprioninae. Semua ikan dalam subfamili
Amphiprioninae yang hidup di terumbu karang bersimbiosis dengan anemon.
Anemon berperan sebagai host (tuan rumah) untuk ikan badut (Amphiprion
ocellaris) dapat ditemukan di perairan dangkal. Turunnya kondisi terumbu karang
di Indonesia berdampak pada berbagai aspek, salah satu dari aspek tersebut
adalah penurunan jumlah spesies anemon yang berdampak langsung pada
hilangnya habitat ikan badut (Amphiprion ocellaris) yang hidupnya bergantung
pada anemon yang secara langsung mengakibatkan penurunan dalam
kelimpahan ikan badut (Amphiprion ocellaris) di alam liar (Sari et al., 2014).
Kondisi terumbu karang di Indonesia semakin menurun akibat dari degradasi
atau kerusakan ekosistem terumbu karang. Adapun penyebab dari kerusakan
terumbu karang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kerusakan yang
disebabkan oleh aktivitas manusia dan kerusakan yang disebabkan oleh alam
(Sari et al., 2014).
Rusaknya terumbu karang di Indonesia berdampak pada kebutuhan benih
ikan hias laut, salah satunya ikan badut (Amphiprion ocellaris). Jumlah
permintaan untuk Amphiprion sp. sebagai ikan hias terus meningkat, tetapi
karena kerusakan habitat alami dan efek dari penangkapan ikan yang berlebihan, jumlah ikan Amphiprion sp. menurun drastis (Abduh, M. Y et al., 2021). Ikan
badut (Amphiprion ocellaris) sangat populer di kalangan aquarist karena
warnanya yang terang, tingkah lakunya yang menarik, serta kemampuan
beradaptasi dalam penangkaran. (Raheem et al., 2021). Berdasarkan
kepopulerannya tersebut, ikan badut (Amphiprion ocellaris) jika tidak segera
dilakukan kegiatan penangkaran atau pembudidayaan, maka akan berakibat
kelangkaan populasi dari ikan badut (Amphiprion ocellaris) di alam.
Budidaya ikan badut (Amphiprion ocellaris) merupakan salah satu solusi
demi mencegah permasalahan terhadap ekosistem pantai serta kelangkaan dari
penangkapan berlebih (overfishing) di alam (Johan et al., 2019). Pembudidayaan
ikan tak lepas dari teknik pemberian pakan. Pakan dibutuhkan untuk
pengembang biakan dan pertumbuhan ikan badut (Amphiprion ocellaris). Ikan
badut (Amphiprion ocellaris) merupakan ikan omnivora atau ikan pemakan
hewan dan tumbuhan, makanan ikan badut (Amphiprion ocellaris) adalah
invertebrata kecil dengan ukuran yang sesuai dengan bukaan mulutnya.
Invertebrata tersebut dapat berupa crustacea, cacing renik, dan larva dari ikan.
Algae juga diketahui memenuhi 20 -25 dari kebutuhan nutrisi ikan badut
(Amphiprion ocellaris). Ikan badut (Amphiprion ocellaris) yang dibudidayakan
kebanyakan diberi pakan buatan berupa pellet (BPBL Ambon, 2014).
Berdasarkan alasan tersebut, diperlukannya teknik pemberian pakan pada
budidaya ikan badut (Amphiprion ocellaris) agar dapat memenuhi kebutuhan
benih yang diperlukan. Adapun pada pulau Lombok terdapat Balai Perikanan
Budidaya Laut Lombok dengan salah satu kegiatannya adalah Pembudidayaan
Ikan Badut (Amphiprion ocellaris). Hal tersebut melatar belakangi dilakukannya
Praktik Kerja Lapang dengan judul “Teknik Pemberian Pakan Pada Calon
Indukan Ikan Badut (Amphiprion ocellaris) Dengan Pakan Pelet di Balai
Perikanan Budidaya Laut Lombok”.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ISMAYA KENZA CHALIZTA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | IKAN BADUT ; PELET; BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT (BPBL) SEKOTONG LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:52 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/6053 |
