TRUNOJOYO-KP-24067-190341100084-Ilham Andika Aprianto#190341100084#IlmuKelautan.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Indonesia merupakan negara berbentuk kepulauan yang wilayahnya
merupakan perairan dengan luas 6.315.222 km2 dengan memiliki panjang garis
pantai 99.093 km2 dan jumlah pulau sebanyak 13.466 pulau. Salah satu provinsi
yang memiliki luas dan pulau banyak di Indonesia adalah provinsi Sumatera
Selatan dengan luas seluas 91.592 km2 dan 50 pulau (Ariyanto et al., 2019). Salah
satu Kabupaten yang sangat strategis adalah Musi Banyuasin. Kabupaten Musi
Banyuasin merupakan salah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi
Sumatera Selatan. Segi Geografis Kabupaten Musi Banyuasin, di sebelah utara
berbatasan dengan Provinsi Jambi, arah selatan berbatasan dengan Ogan
Komering Ilir dan Kabupaten Muara Enim di timur berbatasan dengan Kabupaten
Banyuasin, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas,
wilayah Kabupaten Musi terbagi atas 11 Kecamatan, 9 Kelurahan dan 209 Desa
(Najamuddin, 2015). Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan
dalam pemerataan distribusi logistik dan pembangunan. Penyediaan sarana pusat
pelayanan pelayaran transportasi laut yang memadai merupakan salah satu solusi
yang murah dan efisien. (Kurnianingsih et al., 2017).
Alur pelayaran merupakan fasilitas dasar dan memegang peranan penting
bagi kapal yang masuk dan keluar pelabuhan. Alur pelayaran merupakan aspek
penting, dan pengelolanya perlu mempertimbangkan keselamatan, keamanan,
dan kenyamanan transportasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No.
PM68 2011, alur pelayaran harus memiliki kedalaman dan lebar yang aman untuk
kapal yang melintas, lebar yang aman bagi kapal yang melintasi alur tersebut dan
juga sebuah alur pelayaran harus terbebas dari berbagai hambatan untuk
menghindari dari kecelakaan yang tidak di inginkan (Lesmana dan Haykal, 2021).
Menurut Poerbandono dan Djunarsjah (2005), informasi kedalaman laut
diperoleh melalui survei batimetri dan pemeruman. Pemeruman adalah suatu
proses dan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh gambaran (model) bentuk
permukaan (topografi) dasar perairan (seabed surface). Proses penggambaran
dasar laut (dari pengukuran, pemrosesan, hingga visualisasi) disebut dengan
survei batimetri. Model batimetri atau model survei kedalaman (depth contours)
diperoleh dengan cara menginterpolasi titik-titik pengukuran kedalaman sesuai
dengan skala model yang akan dibuat (Hidayat et al., 2014).
Kebutuhan akan data awal baik dalam rangka evaluasi rute yang aman dan
baik, kebutuhan akan data primer seperti bagan batimetri hasil survei dan data
awal berupa data sekunder seperti data kecepatan arus dan pasang surut sangat
penting. Parameter tersebut dapat membantu dalam penentuan dan perancangan
alur pelayaran dengan optimal (Ayu et al., 2020). Maka dari itu, Kegiatan PKL
(Praktik Kerja Lapang) ini bertujuan mengetahui nilai batimetri dari pemeruman
yang dilakukan dan difokuskan untuk mengevaluasi data batimetri Muara Sungai
Banyuasin yang berada di sebalah barat Sungai Musi untuk mengetahui kendala
dan mencari solusi untuk transportasi menunju Pelabuhan Tg. Api-api, baik
sebagai pelabuhan penyeberangan (ferry) ke Muntok Bangka maupun pelabuhan
peti kemas.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ILHAM ANDIKA APRIANTO |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | PEMERUMAN BATHIMETRI; ALUR PELAYARAN; PERAIRAN MUARA SUNGAI MUSI BANYUASIN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:51 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5998 |
