TRUNOJOYO-KP-24065-180331100098-PKL_180331100098_R Zulfian Ardiansyah.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau
pengepakan,merupakan salah satu cara pengawetan bahan hasil pertanian yang
dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada
bahan yang dikemas (Julianti Nurminah, 2006). Pengemasan produk mengacu
pada obyek fisik itu sendiri, misaalnya kontainer,karton,dan botol (Irawati &
Hardiastuti, 2016). Jadi pengemasan pada dasarnya adalah sistem yang
terkoordinasi untuk membungkus,menyiapkan,dan mencegah kerusakan bahan
menggunakan bahan pengemas yang telah dipilih.
Fungsi kemasan menurut (Herminingtyas) dijabarkan dengan konsep VIEW
yang sangat membantu konsumen dalam keputusan pembelian suatu produk. VIEW
disini meliputi variabel-variabel Visibility, Information, Emotional Appeal dan
Workability. Visibility, terkait dengan kemampuan suatu kemasan untuk menarik
perhatian pada point-point pembeli.Information, berhubungan dengan instruksi
pemanfaatan produk, berbagai keuntungan yang disebut slogan serta informasi
tambahan yang dihadirkan pada atau di dalam kemasan. Emotional Appeal,
kemampuan kemasan untuk menimbulkan perasaan ingin atau suasana hati
mendukung. Terakhir Workability, merujuk fungsi kemasan lebih dari sekedar cara
berkomunikasi. Tujuannnya untuk memiliki kemasan yang menonjol dari yang lain
di atas rak, sehingga ia dapat mendongkrak penjualan produk (Herminingtyas,
2013).
Dalam proses pengemasan produk akhir, Perusahaan besar masih
menggunakan mesin dengan bantuan tenaga manusia atau disebut dengan mesin
semi otomatis, Apabila salah satu operator tidak bekerja dengan baik maka proses
pengemasan akan terhenti dan pakan akan menumpuk terlalu banyak dalam bak
penampungan(Febriana et al., 2015). Pada era modern sekarang ini situasi dunia
industri manufaktur maupun jasa mengalami persaingan yang sangat ketat. Hal ini
memicu para produsen baik manufaktur ataupun jasa berkompetisi untuk dapat
beroperasional secara efisien. Pengaturan dan perencanaan yang tidak tepat pada
stasiun kerja dapat menimbulkan ketidakefisienan pada proses. Line balancing merupakan keputusan yang tepat untuk mengatasi hal tersebut(Fardiansyah &
Widodo, 2018). Line balancing dapat meningkatkan efisiensi pada proses dengan
meminimalisir stasiun kerja, meminimalisir waktu siklus kerja, memaksimalkan
beban kerja, dan meningkatkan fleksibilitas antar stasiun kerja(Nur, 2009).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM R.Zulfian Ardiansyah |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | PROSES PRODUKSI; KRECEK; RAMBAK KULIT SAPI; UD. AMALIAH MOJOKERTO |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:51 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5995 |
