TRUNOJOYO-KP-24037-190351100034-LAPORAN PKL-KRISTIN NATALIA AMBAT-190351100034.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Budidaya dalam sektor perikanan menjadi salah satu penopang kehidupan
bagi masyarakat di Indonesia guna mewujudkan kesejahteraan dan menjamin
adanya ketersediaan pangan, gizi maupun kesehatan bagi manusia. Selain
kaitannya dengan ketersediaan pangan, budidaya dapat memberikan dampak
positif dalam bidang ekonomi, sebab dapat memberikan lapangan pekerjaan serta
juga pendapatan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, budidaya perikanan diharapkan
dapat terus berjalan untuk memenuhi misi kesejahteraan masyarakat kelautan dan
perikanan (Hermawan et al., 2017).
Kegiatan budidaya tentu tidak selalu berjalan dengan lancar, ada beberapa
pemicu atau penyebab adanya kegagalan maupun kendala dalam budidaya
tersebut. Salah satu penyebab kegagalan budidaya adalah serangan penyakit ikan
atau organisme yang dibudidaya. Rahmaningsih (2018) mendefinisikan penyakit
ikan sebagai suatu penyebab dari keadaan yang tidak normal pada ikan atau
organisme budidaya dan merupakan hewan inang yang dapat disebabkan oleh
organisme, virus maupun keadaan lingkungan yang berkaitan dengan nutrisi yang
terkandung di dalamnya. Secara garis besar, penyakit atau gangguan pada ikan
disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik
meliputi segala makhluk hidup seperti, tumbuhan, hewan, mikroorganisme yang di
dalamnya terdapat jamur, alga, dan juga bakteri. Kemudian faktor abiotiknya atau
yang disebut dengan faktor lingkungan yakni seperti, suhu, pH, DO, faktor pakan
atau nutrisi (Rahmaningsih, 2018).
Permasalahan paling serius yang kini menjadi kendala dalam kegiatan
budidaya ikan air tawar adalah serangan patogen. Virus, bakteri, protozoa, jamur
ataupun parasit merupakan golongan penyakit infeksi. Berbeda dengan penyakit
non infeksi seperti penyakit yang disebabkan oleh pakan, lingkungan, genetik serta
tumor (Aryani et al., 2004). Terjadinya penularan penyakit ataupun parasit tertentu
dapat melalui beberapa cara yaitu, adanya kontak langsung antar organisme yang
sakit terhadap yang sehat, kemudian bangkai dari ikan yang sakit ataupun melalui
air juga. Penularan tersebut umumnya terjadi dalam satu kolam budidaya
(Jasmanindar, 2011). Selain itu, penularan yang lain dapat melalui peralatan dan
juga pemindahan organisme budidaya dari kolam yang telah terkontaminasi penyakit ke kolam yang masih baik kondisinya dan belum terkontaminasi oleh
penyakit apapun (Sunarto, 2005).
Kaitannya dengan permasalahan penyakit patogenik pada kegiatan
budidaya, bakteri menjadi salah satu sumber penyakit yang dapat menyebabkan
kematian bagi organisme yang dibudidaya jika konsentrasinya melebihi batas
normal. Bakteri merupakan salah satu dari banyaknya organisme mikroskopis
yang bersifat merugikan dan ada juga yang bersifat menguntungkan. Bakteri Vibrio
sp. merupakan satu dari banyaknya jenis bakteri yang merugikan kegiatan
budidaya sebab bakteri ini masuk dalam jenis patogen yang menginfeksi serta
menimbulkan penyakit pada hewan budidaya khususnya udang yang sedang
dalam keadaan lemah dan tidak didukung oleh kondisi lingkungan yang baik
(Feliatra et al., 2014). Idami dan Rizki (2020) melaporkan bahwa bakteri Vibrio sp.
dikatakan bersifat patogen jika dalam air pemeliharaan kelimpahan hingga
mencapai 8,35 x 104 CFU/ml atau lebih.
Terjadinya kegagalan panen pada tambak-tambak di Indonesia khususnya
budidaya udang menjadi suatu kejadian yang merugikan banyak pihak terutama
petani tambak. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri Vibrio sp. dikenal dengan
penyakit vibriosis. Vibrio sp. menyebabkan tingkat kematian hingga 90% pada
larva udang windu, kemudian untuk jenis Vibrio harveyi dapat membunuh larva
udang windu (Penaeus monodon) di hatchery hingga mencapai 100% (Feliatra et
al., 2014). Adapun jenis-jenis bakteri Vibrio yang berpotensi menyebabkan
penyakit vibriosis yakni Vibrio harveyi, Vibrio parahaemoliticus, Vibrio alginoliticus,
Vibrio anguilarum (Effendi, 2002). Salah satu jenis komoditas budidaya yang
rentan terjangkit penyakit vibriosis adalah udang memiliki gejala klinis seperti
adanya bercak putih, bagian telson, dan ekornya berwarna merah serta terdapat
melanoso pada tubuhnya (Sardjito et al., 2012). Keberadaan bakteri Vibrio sp.
sebagai agen penyakit vibriosis dalam lingkungan budidaya ini jika tidak dapat lagi
dicegah ataupun dikendalikan akan dapat memberikan dampak yang fatal sampai
kepada kematian massal pada organisme yang dibudidaya (Kurniawan, 2012).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kharisma dan Abdul, 2012 bahwa
telah ditemukan kelompok bakteri Vibrio sp. pada air pembesaran udang vannamei
dengan kelimpahan bakteri telah melebihi ambang batas minimal sehingga rentan
terhadap serangan penyakit Vibriosis. Bintari et al., (2016) melaporkan bahwa
pada kolam pembenihan larva di UPT Pembenihan Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi Bali ditemukan kelompok bakteri Vibrio dengan kelimpahan rata-rata sebanyak 10-103 CFU/mL. Terdapat 5 isolat bakteri paling dominan pada kolam
pembenihan larva. Berdasarkan hasil analisa Postulat Koch menunjukkan isolat
VSP06 berpotensi menyebabkan infeksi Vibriosis pada larva udang galah (M.
rosenbergii (de Man)). Hasil identifikasi VSP06 secara biokimia teridentifikasi
sebagai V. anguillarum.
Oleh karena adanya permasalahan penyakit ikan tersebut, maka
diperlukan pemeriksaan atau diagnosa yang dilakukan sejak dini guna mengurangi
dampaknya dikemudian hari yang dapat merugikan atau menjadi penyebab
kegagalan panen sebagai akibat terbatasnya informasi terkait penyakit ikan pada
para pembudidaya. Kaitannya dengan penyakit vibriosis, maka pemeriksaan
bakteri Vibrio sp. pada sampel air tambak menjadi salah satu upaya yang baik
untuk dapat mendeteksi keberadaan potensi penyakit vibriosis pada air tambak
yang diidentifikasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan Praktik Kerja Lapang (PKL)
untuk mengetahui dan memahami teknik dalam mengidentifikasi total bakteri
Vibrio sp. dari sampel tambak budidaya yang dianalisis di Unit Pelaksanaan Teknis
Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan Dan Lingkungan, Pasuruan yang
merupakan salah satu instansi dengan pelayanan di bidang mikrobiologi, residu,
PCR dan sebagainya. Keberadaan LKIL Pasuruan tersebut untuk layanan
keberlanjutan usaha budidaya yang disediakan pemerintah.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM KRISTIN NATALIA AMBAT |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | BAKTERI Vibrio sp.; AIR TAMBAK; UPT LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:50 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5924 |
