TRUNOJOYO-KP-24009-180311100047-YUHAN PRATAMA PUTRA_180311100047_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Salah satu komoditas perkebunan di Indonesia yang berperan penting bagi
perekonomian nasional maupun regional adalah kakao (Theobroma cacao L.).
Produksi kakao di Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan
Ghana (Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2013). Kakao telah
memberikan sumbangan devisa negara, sumber pendapatan petani, penyedia
lapangan kerja petani, mendorong agribisnis, dan agroindustri serta
pengembangan wilayah (Rosmawaty et al., 2015). Budidaya kakao (Theobroma
cacao L.) di Indonesia terus dikembangkan seiring dengan meningkatnya
permintaan konsumsi dalam negeri maupun kebutuhan ekspor.
Sentra perkebunan kakao ini tersebar di beberapa provinsi di Indonesia
meliputi Sulawesi (63,5%), Sumatera (16,3%), Jawa (5,3%), Maluku dan Papua
(7,1%), Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali (4,0%), Kalimantan
(3,6%) (Ditjenbun, 2013). Dari seluruh luas areal perkebunan kakao di Indonesia
pada tahun 2017 sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat (97,55%),
perkebunan besar negara (0,89%) dan perkebunan swasta (1,57%) (Direktorat
Jendral Perkebunan dan Deptan, 2016).
Helopeltis sp. (Hemniptera: Miridae) merupakan salah satu hama utama
pada tanaman kakao. Serangga ini menimbulkan kerusakan dengan cara
menusuk dan menghisap cairan buah kakao maupun tunas – tunas muda.
Serangga pada buah muda menyebabkan matinya buah, dan buah yang berumur
sedang dapat menyebabkan terbentuknya buah yang abnormal. Akibat serangan
Helopeltis sp. yang berulang-ulang akan berdampak langsung terhadap kuantitas
atau kualitas buah kakao (Sulistyowati,2003).
Penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai salah satu
komponen sistem pertanian merupakan salah satu upaya strategis dalam
menciptakan pertanian sehat ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu
(PHT) adalah upaya mengendalikan tingkat populasi organisme pengganggu
tanaman (OPT) dengan menggunakan dua atau lebih teknik pengendalian dalam
satu kesatuan untuk mencegah atau mengurangi kerugian secara ekonomi dan
kerusakan lingkungan hidup. Komponen-komponen teknik pengendalian hama
dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu (1) kultur teknis
menggunakan varietas resisten dan teknik budidaya yang sesuai, (2) biologi
dengan memanfaatkan musuh alami, (3) mekanik atau fisik, dan (4) kimia dengan menggunakan pestisida nabati dan seminimal mungkin pestisida sintetik.
Berdasarkan pentingnya pengetahuan dan praktik terkait pengendalian Helopeltis
sp. sebagai hama pada perkebunan kakao, maka topik praktik kerja lapang yang
diambill yaitu Teknik Pengendalian Hama Helopeltis sp. pada Tanaman Kakao
(Theobroma cacao L.) Jenis Bulk. Oleh karena itu, diharapkan pembahasan
dalam laporan praktik kerja lapang ini dapat menyampaikan informasi secara
relevan dan konkrit sesuai data di lapangan, serta dapat membantu dalam
menambah wawasan dan ilmu baru bagi penulis maupun bagi pembaca.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM YUHAN PRATAMA PUTRA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | HAMA TANAMAN; KAKAO BULK; PTPN XII KEBUN KENDENG LEMBU BANYUWANGI |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:49 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5858 |
