TRUNOJOYO-KP-23916-190331100085-Charisma Intan Enggar Panjarika#190331100085.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Garam adalah suatu kumpulan senyawa kimia memiliki penyusun terbesar
yaitu natrium klorida (NaCl) dan pengotor yaitu kalsium sulfat (CaSO4), serta
magnesium klorida (MgCl2), sedangkan garam alami mengandung senyawa
magnesium klorida, magnesium sulfat, magnesium bromida dan senyawa yang
lainnya (Arwiyah et al. 2015). Garam memiliki sifat/karakteristik higroskopis yaitu
suatu benda yang mudah menyerap air dengan tingkat kepadatan sebesar 0,8-0,9
dan titik lebur pada tingkat suhu 801̊C. garam bisa berasal dari air laut dan air
danau asin, selanjutnya tersimpan di dalam tanah/tambak garam (Daulay 2019).
Terdapat dua sektor yang berkaitan dengan penggunaan komoditi garam
yaitu konsumsi rumah tangga dan industri. Dimana jumlah garam konsumsi yang
akan dibutuhkan dapat diketahui dengan cara mengkalikan jumlah penduduk
Indonesia dengan rata-rata konsumsi tiga kilogram per kapita per tahun. Di
indonesia tingkat konsumsi garam yang cukup tinggi, dapat dilihat dari
pengelompokan konsumsi garam yaitu terbagi dalam empat kelompok, yang
pertama garam konsumsi rumah tangga dan industri aneka pangan, pengolahan
minyak, industri kulit dan tekstil serta industri Chlor alkali plan dan industri obat-
obatan (Daulay 2019).
Indonesia salah satu negara pengahasil garam yang menggunakan air laut
sebagai bahan baku pembuatan garam. Garam yang dihasilkan merupakan hasil
proses penguapan dan kristalisasi air laut dikenal dengan istilah garam krosok
(kasar). Garam krosok ini tidak dapat dikonsumsi secara langsung ataupun
menjadi bahan baku dan bahan penolong untuk kebutuhan industri, karena kadar
NaCl masih dibawah Standar Nasional Indonesia (SNI). Maka dari itu perlu
dibutuhkan suatu proses untuk mengubah garam krosok (kasar) menjadi garam
konsumsi ataupun garam industri (Sumada et al. 2016).
Salah satu pulau penghasil garam terbesar yaitu pulau Madura, dimana
lahan garamnya sebesar 15.000 hektar. Sampang merupakan salah satu
kabupaten di pulau Madura yang menghasilkan produk garam paling besar di
urutan kedua di Indonesia. Pada tahun 2015 kabupaten Sampang memproduksi
sebanyak 466.200 ton. Sepanjang tahun 2019 pemerintah telah melakukan impor
garam sebanyak 2,6 juta ton, jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 5,4%
apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. PT Garam (Persero) unit
Camplong merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di Kabupaten Sampang yang mengolah garam kasar (krosok) menjadi garam
konsumsi (halus). Garam bahan baku (krosok) yang diproses oleh PT Garam
(Persero) ini berasal dari beberapa daerah yang ada di Madura, yaitu Pamekasan,
Sumenep dan Pengarengan. Hasil produksi dari PT Garam (Persero) selalu
memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. PT Garam (Persero) unit
Camplong dapat memproduksi jenis garam halus (release) kurang lebih 70 ton
dalam sehari.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran perusahaan yaitu
mengenai produksinya. Kelancaran produksi ini dapat mempengaruhi laba yang
akan diperoleh dari perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan mampu
mengendalikan persediaan bahan baku yang optimal untuk kelancaran proses
produksinya. Melalui pengendalian persediaan ini perusahaan dapat memenuhi
kebutuhan pelanggan dengan tepat waktu dan meminimalkan biaya persediaan
(Lahu 2017).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM CHARISMA INTAN ENGGAR PANJARIKA |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | BAHAN BAKU; BAHAN PENOLONG; PT GARAM (PERSERO) UNIT CAMPLONG |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:46 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5687 |
