TRUNOJOYO-KP-23903-190341100062-PKL_Tahta Alfina_190341100062.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Wilayah laut yang dimiliki oleh Negara Indonesia sangat luas, sehingga
tidak heran Indonesia disebut sebagai negara kepulauan. Luas laut Indonesia 3⁄4
dibandingkan dengan daratannya. Indonesia memiliki garis pantai sepanjang
95.18 km. Indonesia memiliki pulau lebih dari 18.000. Wilayah Indonesia yang 70%
lautan dan 30% daratan membuat Indonesia memiliki potensi kelautan yang
sangat besar. Indonesia terletak pada garis khatulistiwa yang menjadikan
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati dan produktivitas laut yang
tinggi. Kekayaan laut Indonesia antara lain dalam sektor perikanan, terumbu
karang dan mangrove. Kekayaan sumberdaya hayati dapat meningkatkan
ekonomi Indonesia (Mambai et al., 2021)
Laut adalah deretan air asin yang sangat luas, terletak pada bagian paling
atas bumi yang memisahkan pulau-pulau. Laut mengandung sumber kehidupan
bagi makhluk hidup. Air merupakan sumber kehidupan dikarenakan di tubuh
manusia terdiri dari 70-80% air. Air berpengaruh penting dalam kehidupan. Air
tidak hanya untuk di konsumsi saja namun air berguna dalam berbagai bidang. Air
berguna pada bidang industri, pertanian, perikanan, peternakan dan masih banyak
lagi (Marlina Herlina, 2021)
Hasil sisa dari produk yang telah digunakan dan dimanfaatkan oleh
penggunanya disebut dengan sampah. Sampah sekarang menjadi permasalahan
yang serius bagi kehidupan. Penduduk yang setiap tahunnya meningkat membuat
volume sampah meningkat. Aktivitas manusia yang terus meningkat menimbulkan
timbunan sampah. Sampah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia sangat
beragam antara lain sisa makanan, bungkus makanan, kertas, kardus dan sampah
organik seperti sampah kayu dan kebun. Timbunan sampah akan menimbulkan
dampak negatif bagi lingkungan (Johan et al., 2020).
Menurut Subekti (2010) Sampah yang dibuang sembarangan tanpa dipilah
akan menimbulkan dampak yang parah bagi lingkungan. Timbunan sampah akan
hanyut dan terbawa ke laut saat musim hujan. Sampah tersebut akan masuk
kedalam perairan laut dan berdampak negatif bagi ekosistem yang ada di
dalamnya.
Sampah laut atau yang biasa disebut marine debris merupakan bahan
padat ataupun non-padat yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan dalam laut sehingga dapat berdampak buruk bagi kehidupan yang ada di laut. Sampah laut
sampah laut dapat ditemukan pada permukaan laut, dalam laut dan juga pantai.
Sampah laut terdiri dari mega debris dan macro debris yang dapat menimbulkan
bahaya bagi makhluk hidup. Sampah yang terjerat dalam lautan berbahaya bagi
biota laut karena dapat menyebabkan pendarahan internal, penyumbatan
pernapasan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi biota laut (Muti’ah et al.,
2019)
Sampah plastik saat ini telah menyebar ke perairan seluruh dunia dan
menjadi permasalahan global. Sampah plastik terus mengalami kenaikan setiap
tahunnya. Sampah plastik memiliki tingkat akumulasi yang rendah sehingga
serpihan plastik menyebar di perairan dan sedimen. Kegiatan domestik dan
industri menjadi penyumbang sampah di laut. Sampah plastik yang berada di laut
dapat berpotensi terjadinya kontaminasi terhadap biota yang berada di laut dan
lingkungan sekitar(Sandra Radityaningrum, 2021).
Sampah plastik akan mengalami degradasi menjadi partikel yang lebih
kecil kurang dari 5 mm yang disebut mikroplastik. Sampah plastik dapat masuk ke
lingkungan menjadi mikroplastik dan nanoplastik melalui proses fisika, kimia dan
biologis. Di wilayah perairan polimer plastik sulit mengalami degradasi secara
biologis namun polimer plastic dapat terdegradasi karena terpapar oleh sinar UV
dan arus air(Wijaya Trihadiningrum, 2019).
Mikroplastik memiliki ukuran yang sangat kecil dan telah ditemukan
terutama pada lingkungan sedimen pantai dan lautan. Di lingkungan akuatik
partikel mikroplastik terbentuk dengan ukuran, densitas dan bentuk yang berbeda-
beda. Mikroplastik yang berada di lingkungan mempengaruhi kesehatan
lingkungan dan dapat berdampak buruk bagi manusia (Simamora et al., 2020).
Bangkalan merupakan satu dari beberapa kabupaten Pulau Madura yang
terletak dibagian paling luar pulau. Bangkalan menjadi wilayah yang strategis
karena letaknya dekat dengan Jembatan Suramadu dan Pelabuhan Kamal serta
Pelabuhan Perak. Letak Bangkalan yang strategis ini membuat aktivitas yang
tinggi diperairan Bangkalan. Namun aktivitas yang tinggi juga menimbulkan
dampak negatif yaitu sampah hasil aktivitas yang dilakukan. Sampah plastik yang
menumpuk pada pesisir bangkalan dapat menimbulkan efek yang buruk bagi biota
maupun lingkungan sekitar. Higuchi (2021) melakukan penelitian di Kabupaten
Bangkalan menggunakan sampel biota ikan sedangkan penelitian yang
menggunakan sampel sedimen di Kabupaten Bangkalan belum ada.
Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui keberadaan mikroplastik yang
berada di Kabupaten Bangkalan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM TAHTA ALFINA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | MIKROPLASTIK; SEDIMEN PERAIRAN; DESA SUKOLILO BANGKALAN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:46 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5667 |
