TRUNOJOYO-KP-23900-190341100089-pkl_190341100089.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki daerah yang sebagian
besarnya merupakan wilayah pesisir, panjang garis pantai yang mencapai
95.181 km dan luas laut mencapai 3,1 juta km2 menjadikan Indonesia
sebagai salah satu negara yang memiliki potensi dalam bidang kelautan
dan perikanan (Wiratama 2021). Laut Indonesia yang luas ini memiliki
potensi yang dapat dimanfaatkan salah satunya yaitu ekosistem pesisir
yang harus dijaga guna menjaga kelangsungan hidup dari makhluk hidup
yang terdapat disekitarnya. Menurut Sjafrie et al (2017) ekosistem pesisir
sendiri terdiri dari tiga ekosistem penting yaitu terumbu karang, lamun dan
mangrove dan memiliki peran penting yaitu sebagai penyeimbang ekologis
di wilayah perairan pesisir. Setiap ekosistem ini memiliki peran masing-
masing dalam fungsinya menjaga keseimbangan ekologi. Pentingnya peran
dari ekosistem laut saat ini mulai disadari oleh masyarakat terutama
masyarakat pesisir, namun dari ketiga ekosistem tersebut, ekosistem lamun
lah yang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat
Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem penting di
kawasan pesisir karena memiliki fungsi yang tidak kalah penting dari
ekosistem pesisir yang lain. Ekosistem lamun berfungsi sebagai produsen
primer, yaitu sebagai habitat biota pesisir, perangkap sedimen, penjernih
air, penyerap karbon, serta untuk mengurangi kecepatan gelombang agar
tidak terjadi erosi (Fajarwati et al, 2015). Banyak masyarakat yang masih
belum mengetahui dan menyadari pentingnya manfaat ekosistem lamun,
hal ini bisa dibuktikan dari kondisi padang lamun yang mengalami
penurunan selama beberapa tahun terakhir. Menurunnya kondisi padang
lamun ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu kegiatan
manusia itu sendiri, perubahan iklim, ataupun kondisi perairan sekitar
(Taurusman 2013).
Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang terletak di
Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau Pramuka merupakan pulau
yang memiliki kepadatan cukup tinggi, hal ini dikarenakan Pulau Pramuka
dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu dan juga merupakan daerah pemukiman yang padat, tak hanya itu, Pulau Pramuka
juga merupakan salah satu tempat wisata di Jakarta yang menjadi salah
satu tujuan wisatawan (Jalaludin et al, 2020). Padatnya kegiatan yang
terdapat di Pulau Pramuka tentunya akan memberikan dampak pada
lingkungan, salah satunya yaitu ekosistem lamun. Berdasarkan data yang
dipublikasi oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, menjelaskan
bahwa kondisi lamun mengalami penurunan dari tahun 2009-2012.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RINDANG ATRAS SATRIANI |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | LAMUN; PULAU PRAMUKA, PROVINSI DKI JAKARTA |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:46 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5662 |
