TRUNOJOYO-KP-23882-190341100026-TIARA ISLAMI A#1903400026#ILMU KELAUTAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Negara Indonesia memiliki julukan sebagai negara maritim, memiliki
potensi sumber daya laut yang besar. Komoditas laut yang memiliki nilai
ekonomis tinggi adalah mutiara. Indonesia menjadi salah satu negara
penghasil mutiara laut selatan (Indonesia South Sea Pearl) terbesar di dunia,
pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 5,400 kg atau sebesar 50 persen dari
total tiram mutaira di dunia yaitu 12,700 kg. Wilayah yang menghasilkan
mutiara terbesar adalah Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara dan
Papua. Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sangat berpotensi adalah
Lombok Utara, terkenal dengan mutiara Lombok dimana memiliki hasil
mutiara yang berwarna warni, terdapat 27 jenis warna mutiara yang dihasilkan
di daerah Lombok (Masnun, 2018).
Tiram mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu komoditas
berasal dari sektor perikanan yang memiliki prospek pengembangan di massa
mendatang dan jangka panjang. Peningkatan minat perhiasan mutiara dan
adanya peningkatan harga dari tahun ke tahun menjadi alasan komodiitas
tiram mutiara sangat berpotensi untuk dibudidayakan. Jenis mutiara yang
paling mahal dan terkenal dari Indonesia adalah South Sea Pearl (mutiara laut
selatan), yang dihasilkan oleh kerang mutiara (Pinctada maxima)
(Syahchruddin et al, 2018).
Longline merupakan salah satu metode yang sering diterapkan dalam
budidaya air laut, biasanya diguakan untuk budidaya rumput laut, tiram
mutiara dan juga metode untuk menangkap ikan. Tiram mutiara
dibudidayakan dengan mengunakan metode longline sebagai tempat
menggangtungkan poket yang berisi spat pada tali panjang yang disebar di
laut. Tali dengan panjang 500 meter dari garis pantai yang terdiri dari satu tali
utama, tali gantung, dan pelampung serta jangkar. Kedalaman poket berada
pada tiga sampai lima meter di bawah permukaan laut dengan alasan
kelimpahan plankton sebagai makanan alami spat tiram mutiara derada pada
kedalaman tersebut (Juniadi et al, 2019).
Budidaya tiram mutiara dipengaruhi juga oleh parameter lingkungan
terutama pada tahap pembesaran. Parameter lingkungan diantaranya adalah
kualitas perairan, biota yang ada di sekitar perairan dan cuaca di sekitar lingkungan budidaya. Menurut Haris dan Yusanti (2019) yang melakukan
analisis perairan untuk kegiatan budidaya, mengidentifikasi dua faktor yang
dapat mempengaruhi kegiatan budidaya yaitu faktor lingkungan dan kualitas
perairan. Faktor lingkungan meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan arus
dan faktor kualitas perairan (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, fosfat, nitrat,
nitrit, amoniak dan silikat). Identifikasi faktor budidaya berdasarkan pada
pengaruh parameter dari faktor lingkungan akan mempengaruhi daya tahan
hidup biota laut sementara faktor kualitas perairan akan mempengaruhi
proses perkembangbiakan biota. Berangkat dari penjelasan diatas maka
kegiatan PKL (Praktik Kerja Lapang) ini dilakukan. Kegiatan PKL ini mencari
informasi terkait metode dan proses budidaya tiram mutiara serta informasi
terkait keadaan lingkungan khususnya kualitas perairan yang ada di lokasi
kegiatan praktik kerja lapang.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM TIARA ISLAMI ANANDA DIPA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | PEMBESARAN TANAMAN; TIRAM MUTIARA; LONG LINE; BPBL LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:45 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5621 |
