TEKNIK PENGENDALIAN OPT TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN

CAMELIA DWI PUSPITA (2022) TEKNIK PENGENDALIAN OPT TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23872-190311100010-Camelia Dwi Puspita#190311100010.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23872-190311100010-Camelia Dwi Puspita#190311100010.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (6MB)

Abstract

CV. Wonosari Horticulture Indonesia merupakan perusahaan yang
bergerak dibidang pertanian hortikultura. CV. Wonosari Horticulture Indonesia ini
berdiri pada bulan September 2012. CV. Wonosari Holticulture Indonesia
bergerak pada bidang produksi tanaman sayuran buah salah satunya yaitu tanaman
tomat beef dengan sistem hidroponik. CV. Wonosari Holticulture Indonesia
merupakan salah satu tempat melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL), dimana
kegiatan tersebut bertujuan sebagai sarana mahasiswa untuk mendapatkan
pengetauhuan dan pengalaman di dunia kerja dan menerapkan teori di perkuliahan
dalam dunia kerja.
Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah yang cukup
terkenal diantara banyaknya komoditas hortikultura. Menurut asal-usulnya,
tanaman melon datang dari wilayah Mediterania, yang merupakan perbatasan
antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika kemudian menyebar luas ke seluruh
penjuru dunia. Selain hasilnya yang menjanjikan, tanaman melon termasuk salah
satu tanaman yang cukup rumit dalam hal perawatannya. Bahkan banyak petani
mengalami kerugian yang cukup besar sehingga membuat petani putus asa, karena
tanaman melonnya mati dan rusak setelah terserang hama dan penyakit yang
mengakibatkan gagal panen serta tidak dapat berproduksi secara optimal.
Produksi melon di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 150.347 ton
dengan produktivitas 18,40 ton/ha. Luas panen melon di Indonesia mencapai
8.185 ha. Sedangkan di wilayah Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 bahwa
produksi melon mencapai 93 ton dengan produktivitas 15,42 ton/ha, luas panen
melon mencapai 6 ha. Tahun 2015 menunjukkan hasil yang meningkat bahwa
produksi melon mencapai 19,207 ton, dengan produktivitas 16,63 ton/ha, luas
panen 155 ha (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2015).
Melon merupakan salah satu alternatif bahan konsumsi buah-buahan
yang digemari masyarakat luas (Rukmana, 1994). Melon memiliki cita rasa yang
manis dan khas, melon juga mengandung gizi yang cukup tinggi dan komposisi
yang lengkap, tiap 100 g bagian buah melon mengandung 23 kalori energi, 0,6 g
protein, 17 mg kalsium, 2.400 IU vitamin A, 30 mg vitamin C, 0,045 mg thiamin,
0,0065 mg riboflavin, 1,0 mg niacin, 6,0 g karbohidrat, 0,4 mg zat besi, 0,5 mg
nikotinamida, 93 ml air dan 0,4 g serat (Samadi, 1995).
Tanaman melon dibudidayakan melalui beberapa tahapan yaitu
penyemaian, perawatan tanaman, panen dan pasca panen. Perawatan tanaman
melon meliputi pemupukan, pengairan, penyiangan, pemangkasan, pengendalian
hama penyakit. Kadang kala dalam upaya perawatan tanaman melon, kegiatan
penyerbukan buatan merupakan salah satu di antaranya pada kondisi cuaca yang
cerah, tanaman melon pada umumnya akan berbuah dengan bantuan serangga
penyerbuk, seperti lebah. Namun pada saat cuaca buruk, terutama pada saat
musim penghujan serangga penyerbuk jarang muncul. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan buah yang berkualitas baik perlu dilakukan penyerbukan buatan.
Penyerbukan buatan ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.30-10.00 di
mana waktu tersebut bunga betina sedang mengalami tahap mekar sempurna.
Pemeliharaan tanaman melon ini bertujuan agar tanaman dapat tumbuh baik
sesuai dengan yang diharapkan. Buah melon dapat dipanen berdasarkan
kenampakan fisiknya dan juga berdasarkan umurnya yaitu sekitar umur 75-120
hari setelah tanam. Setelah dilakukan proses pemanenan maka selanjutnya adalah
proses pasca panen yang meliputi penyimpanan, pengangkutan, pengolahan benih
hingga pengemasan produk dari tanaman melon tersebut.
Buah melon dimanfaatkan sebaga makanan buah segar dengan
kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Melon merupakan buah-buahan yang
kini berkembang sebagai komoditas agribisnis. Buah melon mempunyai nilai
ekonomis dan prospek untuk dikembangkan. Komoditas ini cukup banyak
diminati, selain rasanya enak, juga mempunyai harga yang relatif tinggi baik
untuk pasar domestik maupun ekspor.
Di pulau Jawa dewasa ini telah mengalami penyusutan lahan tanam,
pelandaian produksi dan produktivitas, cuaca yang sering berubah dan tidak
menentu bahkan tidak dapat diprediksi, serta Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT) yang sering menyerang adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan
nasional (Pracaya, 1991).
Tanaman melon banyak dibudidayakan dan menghasilkan keuntungan
ekonomis, budidaya melon memiliki kendala-kendala di lapang yang dapat
menurunkan kualitas maupun kuantitas produksi melon. Salah satu kendala yang
sering dihadapi petani melon dari segi penyakit adalah serangan penyakit layu
fusarium yang disebabkan oleh F.oxysporum. Cendawan F. oxysporum mampu
menyerang pada semua tahap pertumbuhan tanaman melon, baik pada fase
vegetatif maupun fase generatifnya.Pengendalian penyakit menggunakan pestisida
kimia kini dialihkan menggunakan teknik pengendalian yang ramah lingkungan.
Salah satupengendalian yang ramah lingkungan dengan menggunakan agen
pengendali hayati seperti diketahui secara umum menghasilkan senyawa
antibiosis.
Kurangnya pengetahuan dan pemahaman petani (khususnya petani
melon) akan cara pengendalian hama dan penyakit tanaman secara tepat dan benar
serta untuk memperoleh data yang akurat tentang gejala yang diakibatkan lalat
buah cukup sulit, sehingga para petani cukup kebingungan dalam memilih metode
pengendalian yang tepat. Untuk memperoleh semua pengetahuan yang dibutuhkan
tentunya waktu yang dibutuhkan tidaklah sebantar dan biaya yang cukup besar.
(Arrum, 2017).
Banyak faktor yang mempengaruhi produksi tanaman yang dibudidayakan
secara hidroponik antara lain adalah organisme pengganggu tanaman. Organisme
pengganggu tanaman (OPT) adalah organisme yang dapat menyebabkan penurunan dalam hal potensi hasil yang secara langsung karena dapat
menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi
hara terhadap tanaman budidaya Melon. Hal ini mengakibatkan perlu adanya
penanggulangan serangan OPT karena perkembangan serangan OPT yang tidak
dapat dikendalikan, akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah lain
yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi.
Ada beberapa jenis hama dan penyakit yang sering dijumpai ditanaman
melon mulai dari saat benih dan bibit disemai hingga panen diantaranya hama
thrip, hama lalat buah, penyakit layu fusarium, penyakit bercak bakteri dan lain
sebagainya.(Sobir,2010). Hama pada tanaman adalah salah satu kendala terbesar
dan sangat mengganggu dalam usaha pertanian. Serangannya terhadap tanaman
bisa secara tiba – tiba dan mendadak serta bersifat eksplosif (meluas) sehingga
dalam waktu yang tidak lama, serangan tersebut bahkan dapat membunuh seluruh
tanaman yang berakibat pada gagal panen (puso). (LITBANG, 2009).
Teknik pengendalian yang dilakukan dengan penyemprotan
menggunakan fungisida maupun Insektisida seperti Mancozeb 80% dan Lamda
Sihalotrin. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan
cendawan atau fungi. Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam
tubuh tanaman sasaran yang di aplikasi yakni fungisida sistemik, sistemik dan
sistematik lokal.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
CAMELIA DWI PUSPITA
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords MELON; HIDROPONIK FERTIGASI; CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:44
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5599

Actions (login required)

View Item
View Item