TRUNOJOYO-KP-23858-180311100081-Laporan PKL_Dhavid Setiyobudi_180311100081.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lahan kering seluas
148 juta hektar, yang mana lahan tersebut memungkinkan untuk ditanami
berbagai jenis komoditas pertanian. Salah satu komoditas yang dapat tumbuh
dengan baik di lahan kering yaitu tanaman tebu (Mulyani dan Las, 2008).
Tanaman tebu merupakan tanaman penghasil utama gula. Tanaman tebu dapat
menguntungkan karena dapat menghasilkan bobot kering rata-rata 100-120 ton
per hektar dengan budidaya yang tepat (Pratama, 2010). Diantara kendala
terbesarnya yaitu serangan hama.
Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman yang
dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi. Hama juga menyebabkan produksi
suatu komoditas dari tanaman pangan, hortikltura maupun perkebunan berkurang
dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman. Hama dari jenis serangga
merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh setiap petani yang selalu
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya dan hasil
produksi pertanian. Hama tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga
tanaman akan rusak, layu bahkan mati (Harianto, 2009). Salah satu jenis hama
utama tebu yaitu penggerek batang bergaris (Chilo saccharipaghus), penggerek
pucuk (Scirpophaga nivella) dan penggerek batang berkilat (Chilo auricilius).
Produksi gula mengalami penurunan mencapai 20% per tahun karena serangan
hama, sehingga diperlukannya pengendalian hama agar hasil panen tebu tidak
menurun (Sutejo, 2008).
Metode yang digunakan dalam pengendalian hama, diantaranya yaitu
pengendalian hama terpadu (PHT). Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah
sebuah pendekatan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan
mempertimbangkan semua aspek manajemen budidaya untuk mempertahankan
serangan hama dan penyakit dibawah ambang batas kerugian ekonomis. Aspek-
aspek yang harus dipertimbangkan, seperti pengelolaan termasuk budidaya,
lingkungan fisik, biologi, perilaku pengelola dan bahan kimia. Namun
pengendalian hama dengan metode PHT ini akan ada efek samping dari bahan
kimia dan juga biaya yang dikeluarkan akan banyak (Surachman, 2007).
Perbanyakan bunga yolanda dengan stek diaplikasikan dengan beberapa
perlakuan dengan penyemprotan asarko. Penyemprotan larutan asarko terhadap
pertumbuhan stek bunga yolanda dilakukan untuk membantu pertumbuhan stek
yolanda. Asarko diduga dapat membantu pertumbuhan stek yolanda karena asarko
mengandung senyawa-senyawa antara lain metil alkohol, etil alkohol, asam asetat,
formaldehida, asetaldehida, diasetil, fenol, tar dan air. Kandungan tambahan dari
asap cair berbahan batang tembakau antara lain mengandung senyawa keton, asam
dan beberapa senyawa aromatik (Suhendi dan Purwono, 2012).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM DHAVID SETIYOBUDI |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | ASARKO; STEK TANAMAN; BUNGA YOLANDA; BALAI PENELITIAN TANAMAN PEMANIS DAN SERAT (BALITTAS) |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:44 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5571 |
