TRUNOJOYO-KP-23856-190341100057-DIAH AYU SETYAWATI#190341100057.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (21MB)
Abstract
Wilayah perairan Muara Banyuasin yang terletak di provinsi Sumatera
Selatan adalah salah satu contoh dari muara sungai yang mengalami
sedimentasi dikarenakan masih dipengaruhi oleh daratan. Kondisi ini
mengakibatkan proses pendangkalan atau pengikisan oleh arus sungai. Sungai
Banyuasin ini memiliki arus sungai yang berlawanan serta kecepatannya yang
kecil, sehingga kondisi lain yang terjadi yakni proses pengendapan di muara
sungainya (Pratama et al., 2020). Muara sungai sendiri merupakan sungai
bagian hilir yang terhubung langsung dengan laut, karakter muara sungai ini
yaitu pertemuan antara daratan dan lautan. Penilaian muara sungai dapat
ditinjau dari bagian estuari serta mulut sungai. Estuari merupakan daerah sungai
yang terkena pengaruh pasang surut air laut (Aritonang et al., 2016).
Daerah muara ialah daerah pertemuan antara sedimen dari hilir dan laut
sehingga keadaan ini tidak luput dari proses sedimentasi. Fenomena sedimen
yang bertransport kemungkinan akan merubah pola sebaran pada pergerakan
timbunan sedimen, sehingga mengakibatkan perubahan sedimen baik secara
biologis, fisika maupun kimia (Satria et al., 2017). Karakteristik ukuran butir (fisik)
sedimen dominannya dipengaruhi oleh oseanografi fisika perairan, sedangkan
secara biologis perairan muara yang berlumpur cenderung dapat mengakumulasi
bahan organik yang terbawa oleh aliran air, hal ini terjadi karena ukuran dan
tekstur dari partikel halus lebih memudahkan bahan organik untuk terserap
(Marpaung et al., 2017).
Bahan penyusun dari sedimen bisa berasal dari organik dan anorganik.
Organisme bentos yang mendiami dasar suatu perairan akan berada di sedimen
dasar. Ukuran organisme ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu
makrozoobentos dan mikrozoobentos (Musthofa et al., 2014). Mikrozoobentos
kemudian dibagi lagi menjadi tiga golongan, yakni makrofauna (berukuran >1.00
mm), meiofauna (berukuran +0.1 mm) dan mikrofauna (berukuran <0.1 mm).
Mikrofauna yang berada didalam sedimen cukup menarik untuk diteliti karena
memiliki ukuran yang sangat kecil. Mikrofauna pada sedimen juga ditemukan di
daerah muara, kondisi muara yang berbatasan langsung dengan laut juga
membuat mikrofauna yang ada berbeda dari mikrofauna di wilayah daratan atau
lautan. Foraminifera contohnya, biasa ditemukan di lingkungan laut daerah
intertidal hingga laut dalam. Sedimen dasar perairan yang mengalami transport bisa mengubah bahan penyusun sedimen, sehingga organisme seperti
foraminifera dapat ditemukan pada kandungan sedimen di wilayah perairan
dangkal, panas, dingin serta estuari seperti lokasi sampel muara sungai
Banyuasin (Sinulingga et al., 2017).
Sampel sedimen yang akan diteliti lebih lanjut akan mengalami proses
analisis ukuran butir. Analisis butir sedimen bertujuan mengetahui ukuran butir
yang akan menentukan jenis sedimen yang dianalisis. Analisis ukuran butir (grain
size) ini dapat dilakukan dengan metode pengayakan (dry sieving) dan
pemipetan (wet sieving). Hasil dari analisis ukuran butir ini selanjutnya dapat
diplotkan dan dilakukan penamaan. Sedimen juga dapat dilakukan pengamatan
yang berfungsi guna memberikan informasi mengenai karakteristik sedimen
(Aryanti et al., 2016). Pengamatan pada umumnya dibedakan menjadi dua, yaitu
secara megaskopis (menggunakan kaca pembesar) dan mikroskopis
(menggunakan mikroskop). Perbedaan di antara kedua jenis pengamatan ini
yaitu jika megaskopis bisa menentukan parameter secara umum saja, seperti
bentuk butiran, struktur sedimen serta sortasi dan bisa melakukan penamaan
berdasarkan tekstur, sedangkan mikroskopis dapat memberikan gambaran
karakteristik sedimen lebih detail serta kajian khusus mengenai mikrofauna,
mineral atau pun lainnya (Salama et al., 2021).
Perangkat lunak lain yang juga dapat digunakan dalam proses analisis
sedimen salah satunya adalah Gradistat. Gradistat merupakan perangkat lunak
opensource yang juga dapat dipelajari untuk melakukan penamaan jenis
sedimen. Sifatnya yang mudah dipelajari, ditingkatkan, dan disebarluaskan
mungkin dapat diterapkan untuk dipelajari di Universitas Trunojoyo Madura untuk
menganalisis sedimen (Arhat et al., 2014).
Hal yang melatar belakangi dipilihnya percobaan ini sebagai topik dari PKL
ini yaitu guna menguji perangkat lunak gradistat dalam proses penamaan
sedimen dan mungkin bisa diterapkan di Universitas Trunojoyo Madura, selain itu
data yang diperoleh kemudian dibandingan dengan Sel Kummod yang
merupakan perangkat lunak untuk menganalisis penamaan sedimen dan hanya
dimiliki oleh PPPGL Bandung, selain itu percobaan ini juga mengamati adanya
kandungan mikrofauna dan foraminifera pada sedimen melalui pengamatan
mikroskopis. Percobaan ini juga akan menampilkan hasil sebaran sedimen di
perairan muara sungai Banyuasin serta informasi mengenai kandungan mikrofauna dan foraminifera di beberapa titik lokasi pengambilan sampel yang
akan ditampilkan dalam bentuk peta.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM DIAH AYU SETYAWATI |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | MIKROFAUNA; FORAMINIFERA; SEDIMEN PERAIRAN; SUNGSANG, SUMATERA SELATAN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:44 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5568 |
