TRUNOJOYO-KP-23826-180311100161-ZAHRATUS SYAMSIYAH_180311100161_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Pendidikan merupakan salah satu dari sebuah sistem dimana
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dengan menambah ilmu pengetahuan
yang baru di dalamnya. Perguruan tinggi sendiri merupakan salah satu intansi
berbasis ilmu pengetahuan untuk sekolah menengah ke atas yang akan
melanjutkan pendidikannya dengan lulusan sarjana atau diploma. Peserta didik
dalam perguruan tinggi disebut mahasiswa sedangkan para tenaga pendidikannya
disebut dengan dosen sehingga perguruan tinggi ini diselenggarakan agar dapat
dihasilkannya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademis,
profesional serta dapat menerapkan dan mempraktikkan ilmunya kepada
masyarakat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang nomor 22 tahun 1961 tentang
perguruan tinggi yang menyatakan bahwa Presiden Republik Indonesia
menetapkan Undang-Undang tentang Perguruan Tinggi di bab 1 kententan umum
pasal 2 ayat 3 yang berisi Perguruan Tinggi bertujan agar mahasiswa dapat
melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan
yang didapat serta dari kebudayaan dan kehidpan masyarakat .
Dalam upaya untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas
maka Perguruan Tinggi menetapkan program Pelatihan Kerja Lapangan atau
Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswanya. Pelatihan Kerja Lapangan
atau on-the-job training atau biasa disebut dengan PKL adalah salah satu kegiatan
pelatihan dan cara penerapan ilmu kuliah yang didapatkan untuk mahasiswa dari
proses pembelajaran pada saat berada di bangku kuliah yang dilakukan di sebuah
perusahaan atau instansi yang memiliki relevansi erat dengan penerapan dan
pengembangan ilmu oleh mahasiswa. Dengan mengikutiPKL diharapkan
mahasiswa dapat menambah pengalaman dan pengetahuannya dalam
mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Selain itu,
mahasiswa juga dapat memperoleh pengalaman baru dalam dunia kerja dengan
menambah pengetahuan dan memiliki pandangan bekerja di dunia kerja.Lokasi PKL dipilih di Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
karena beberapa pertimbangan. P3GI merupakan lembaga penelitian yang
mengkaji teknologi, produk pergulaan dan pemanis yang berumur lebih dari 133
tahun sehingga akan sangat baik untuk mahasiswa mendapatkan pengetahuan
terkait gula. Selain itu komoditas tebu dan tanaman pemanis yang diteliti di P3GI
berkaitan erat dengan bidang pertanian dan teknologi peertanian. Selain itu lokasi
P3GI di Pasuruan cukup jauh dengan Universitas Trunojoyo. Fasilitas untuk PKL
di P3GI juga cukup lengkap sehingga memudahkan mahasiswa melaksanakan
PKL di P3GI.
Selama ini penelitian yang dilakukan di P3GI ini selalu menggunakan
prinsip-prinsip biologi, sehingga dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi
mahasiswa, P3GI merupakan salah satu instansi yang tepat sebagai tempat PKL
untuk menambah pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas
mahasiswa sesuai bidang minat mahasiswa yang sudah ditekuninya . Pelaksanaan
kegiatan PKL di P3GI diharapkan mampu memberikan kesempatan kepada
mahasiswa untuk mengenal dan mengetahui secara langsung instansi tersebut
sebagai salah satu tempat penerapan disiplin ilmu dan mahasiswa dapat
mempelajari serta menerapkan ilmu yang didapat mahasiswa di P3GI ini. Judul
PKL yang diambil adalah Uji Fungisida untuk Jamur Antagonisme Trichoderma
sp Di Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan.
Penyakit busuk akar dan pangkal batang atau disebut penyakit lapuk akar
dan pangkal batang atau juga yang disebut penyakit Xylaria merupakan salah satu
penyakit yang relatif baru di perkebunan tebu Indonesia. Penyakit tersebut
pertama ditemukan pada tahun 1993 di perkebunan tebu PT Gunung Madu
Plantation, Provinsi Lampung (Hersanti dan Sitepu 2005; Sitepu et al. 2010).
Penyakit busuk akar dan pangkal batang tebu ini memiliki arti ekonomi
yang penting pada budi daya tebu saat ini karena penyakit tersebut dapat
mengakibatkan kematian pada tanaman, menurunkan bobot batang, dan dapat
menurunkan rendemen. Selain itu penyakit ini juga dapat mengakibatkan
tanaman keprasan (ratoon cane) gagal tumbuh karena tanaman induknya mati.
Kerugian akibat penyakit busuk akar dan pangkal batang akan lebih tinggi pada tanaman ratoon dibandingkan dengan tanaman dari bibit (plant cane) dan akan
terus meningkat pada generasi tanaman ratoon berikutnya. Kerugian lainnya ialah
apabila pada tanaman ratoon pertama mengalami serangannya yang tinggi maka
harus dilakukan penanaman ulang (replanting) untuk menghindari dapat kerugian
yang lebih besar sehingga kebutuhan benih tanaman menjadi lebih banyak.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ZAHRATUS SYAMSIYAH |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | Trichoderma sp; FUNGISIDA; TEBU; PUSAT PENLITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI) PASURUAN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:43 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5507 |
