PENGUJIAN PARAMETER KUALITAS AIR (AMONIUM, NITRIT, ALKALINITAS DAN HARDNESS) PADA TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET KABUPATEN SUMENEP

JUMIATIN (2022) PENGUJIAN PARAMETER KUALITAS AIR (AMONIUM, NITRIT, ALKALINITAS DAN HARDNESS) PADA TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET KABUPATEN SUMENEP. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23816-190351100028-LAPORAN PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23816-190351100028-LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Budidaya merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
atau melestarikan suatu produksi perikanan guna memenuhi kebutuhan pasar,
selain itu kegiatan budidaya juga dapat mencegah adanya overfishing. Adapun
syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan kegiatan budidaya menurut Arsad
et al (2017) adalah adanya organisme yang akan dibudidayakan, media hidup
organisme dan wadah atau tempat budidaya. Masyarakat pesisir pantai biasanya
dalam melakukan kegiatan budidaya menggunakan tambak sebagai wadah
budidayanya, dimana tambak itu sendiri merupakan galian tanah yang sengaja
dibuat dengan bentuk seperti kolam dengan luas tertentu dan diisi air dengan
kadar salinitas tertentu pula. Organisme yang sering dibudidayakan pada
masyarakat pesisir pantai biasanya adalah udang. Salah satu jenis udang yang
biasa dibudidayakan adalah udang vaname, dimana udang vaname ini
merupakan udang yang banyak digemari oleh konsumen baik dari dalam negri
maupun luar negri, sehingga dapat dikatakan bahwa udang vaname ini
mempunyai prospek ekonomi yang tinggi guna memenuhi kebutuhan dan
kesejahteraan bagi para pembudidayanya. Udang vaname selain digemari
karena rasanya yang enak dan gurih juga memiliki kandungan protein hewani
yang tinggi dengan kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan dengan
hewan mamalia lainnya (Darmono, 1991 dalam Maharani et al., 2019).
Kegiatan budidaya udang vaname biasanya menggunakan media
pemeliharan tambak yang bersifat intensif, dimana tambak budidaya intensif ini
cenderung memiliki padat tebar yang tinggi, sehingga apabila padat tebar tinggi
maka akan berpengaruh terhadap jumlah pakan yang diberikan. Pemberian
pakan yang banyak dapat menurunkan kondisi kualitas air karena akan terjadi
adanya akumulasi bahan organik. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari
Andriani et al (2019) yang menjelaskan bahwa bahan organik yang terus
menerus terbuang pada suatu perairan akan menyebabkan penurunan kualitas
air lingkungan. Udang vaname ini tidak akan memakan semua pakan yang
diberikan dan sisanya akan terbuang ke perairan. Menurut Primavera (1991)
dalam Supono (2018) menjelaskan bahwa 100% pemberian pakan, tidak semua
pakan tersebut dikonsumsi oleh udang, dimana yang dikonsumsi hanya 85% dan
15 % sisanya akan terbuang ke lingkungan, dari 85% yang terkonsumsi akan dipecah kembali yaitu 48% digunakan sebagai moulting dan energy, 20%
terbuang sebagai feses dan sisanya yaitu 17% akan diasimilasi menjadi daging.
Oleh karena itu manajemen kualitas air sangat diperlukan selama proses
pemeliharaan berlangsung guna menjaga kondisi kualitas air yang mendukung
pertumbuhan udang vaname ( Arsad et al., 2017).
Kualitas air sendiri merupakan salah satu factor yang menjadi penentu
utama keberhasilan dalam kegiatan budidaya udang untuk mencapai keuntungan
yang memuaskan. Upaya dalam mencegah kegagalan dari kegiatan budidaya
udang vaname ini harus memperhatikan proses pembesaran yang dilakukan
agar udang yang sedang dibudidayakan tidak terserang penyakit. Manajemen
kualitas air adalah faktor penting yang perlu diperhatikan dalam proses
pembesaran udang vaname, dimana menurut Putra dan Abdul (2014)
menjelaskan bahwa manajemen kualiatas air merupakan suatu kegiatan atau
salah satu cara yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan angka
produksi udang vaname. Oleh karena itu, pada masa pemeliharaan atau masa

pembesaran pengukuran kualitas air sangat diperlukan guna mengetahui gejala-
gejala yang terjadi akibat dari perubahan salah satu parameter kualitas air

(Makmur et al., 2018). Kualitas air secara umum terdiri dari tiga parameter,
diantaranya yaitu parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter-parameter
tersebut saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain, sehingga apabila
ada salah satu parameter yang nilainya naik kemungkinan besar parameter yang
lainnya akan mengalami penurunan nilai atau peningkatan. Parameter kualitas
air yang sering dilakukan Analisa atau pengukuran dan berpengaruh terhadap
pertumbuhan udang vaname yaitu pH, salinitas, suhu, amonium, nitrit, alkalinitas
dan hardness.
Amonium dan nitrit sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan
kelangsungan hidup udang dan akan bersifat toksik apabila nilainya sudah
melebihi ambang batas. Nilai amonium dan nitrit dipengaruhi oleh bahan organik
yang mengendap atau terakumulasi pada tambak, dimana bahan organik
tersebut biasanya bersumber dari sisa pakan yang tidak dimakan oleh udang,
hasil dari metabolisme yang berupa feses, jasad plankton dan jasad bakteri.
Tingginya bahan organik pada suatu tambak juga dipengaruhi oleh padat tebar,
dimana menurut Wulandari et al (2015) menjelaskan bahwa semakin tinggi padat
tebar maka akan menghasilkan peningkatan limbah metabolik yang disebabkan
oleh jumlah pakan yang berlebih. Tingginya nilai ammonium dan nitrit pada suatu tambak dapat diturunkan melalui perlakuan penyiponan, pemberian probiotik
pengurai dan pergantian air tambak. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari
Putra et al (2014) yang mngatakan bahwa kegiatan penyiponan bertujuan untuk
mengurangi limbah organik yang berada pada perairan tambak. Parameter lain
yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup udang adalah alkalinitas dan
hardness, dimana alkalinitas dan hardness ini secara umum nilainya berbanding
lurus. Menurut Wurts dan Durborow (1992) dalam Supono (2018) menjelaskan
bahwa apabila kapur berperan dalam pembentukan hardness dan alkalinitas,
maka konsentrasinya akan sama, akan tetapi jika sodium bikarbonat ( )
berperan dalam pembentukan alkalinitas, maka nilai hardeness kemungkinan
akan rendah dan nilai alkalinitas akan tinggi. Oleh karena itu, perlu adanya
penelitian tentang pengukuran kualitas air agar pembudidaya udang vaname
secara intensif dapat memonitoring kualitas air pada tambaknya, sehingga
apabila parameter kualitas air sudah melebihi ambang batas atau batas optimal
dapat dilakukan suatu perlakuan yang dapat mencegah kegagalan budidaya.
Kegiatan pengujian parameter kualitas air (amonium, nitrit, alkalinitas dan
hardness) dalam Praktik Kerja Lapang ini penulis memilih Laboratorium Mandiri
Kalianget Kabupaten Sumenep sebagai tempat analisa karena laboratorium
tersebut merupakan laboratorium yang cocok dan dekat dengan tambak yang
akan diamati dan diuji parameter kualitas airnya. Laboratorium Mandiri Kalianget
merupakan laboratorium yang memegang peranan penting dalam menganalisa
kualitas air di tambak udang seluruh daerah sumenep. Laboratorium mandiri
kalianget berlokasi di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Awal mula
pendirian laboratorium mandiri kalianget ini karena banyak petani tambak yang
membutuhkan pengukuran analisa kualitas air dari tambaknya, sehingga
berdirilah laboratorium mandiri kalianget ini dengan bimbingan dibawah PT.
Central Protein Prima Paiton, Probolinggo. Ada beberapa analisa yang dilakukan
di laboratorium mandiri kalianget diantaranya adalah pengukuran pH, Salinitas,
Analisa Total Organic Matter (TOM), Total Amonium Nitrogen (TAN), nitrit,
bakteri, hardness, alkalinitas dan plankton.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
JUMIATIN
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords KUALITAS AIR; TAMBAK UDANG; UDANG VANAME; LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET KABUPATEN SUMENEP
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:42
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5485

Actions (login required)

View Item
View Item