PENGARUH SUHU, MEDIA SIMPAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP PERKECAMBAHAN BUDSET TEBU (Saccharum officinarum L.) DI P3GI PASURUAN

SITI NURUL HIDAYAH (2021) PENGARUH SUHU, MEDIA SIMPAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP PERKECAMBAHAN BUDSET TEBU (Saccharum officinarum L.) DI P3GI PASURUAN. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23805-180311100127-SITI NURUL HIDAYAH-180311100127 PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23805-180311100127-SITI NURUL HIDAYAH-180311100127 PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu penghasil
gula utama di Indonesia. Kebutuhan gula di Indonesia setiap tahunnya mengalami
peningkatan yang signifikan, oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut
perlu peningkatan produktivitas tanaman tebu. Pada tahun 2020, Direktorat
Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, menyatakan bahwasannya luas
tanam tebu pada tahun 2019 mencapai 443.569 ha, akan tetapi dalam luasan tersebut
hanya sekitar 409.674 ha yang dapat dipanen yang artinya 33.895 ha sisa luas tidak
dapat dipanen, hal ini disebabkan karena kegagalan bibit berkecambah. Maka dari
itu perlu perhatian khusus dalam penentuan penggunaan bibit tebu yang benar agar
mendapatkan bibit yang berkualitas.
Penyediaan benih unggul tanaman tebu dapat dilakukan dengan bentuk
bagal, kultur jaringan (in vitro) dan penyediaan benih dengan metode budchip dan
budset. Pengadaan benih tebu dilakukan melalui tahapan penjenjangan kebun
pembenihan, dimulai dari Kebun Benih Pokok Utama (KBPU), Kebun Benih
Pokok (KBP), Kebun Benih Nenek (KBN), Kebun Benih Induk (KBI), hingga
Kebun Benih Datar (KBD), sebagai sumber benih bagi penanaman Kebun Tebu
Giling (KTG).
Permasalahan rendahnya produksi gula untuk memenuhi kebutuhan gula
salah satunya adalah pada metode pembenihannya. Secara konvensional benih tebu
yang digunakan dari batang tebu dengan 2-3 mata tunas yang disebut bagal, dan
satu mata tunas yaitu budset dan budchip (Indrawanto dkk, 2010). Waktu yang
digunakan untuk membenihkan adalah 6 bulan untuk sekali periode tanam. Selain
itu, kualitas benih juga harus dipertimbangkan untuk keberhasilan budidaya
tanaman tebu. Teknik pembenihan yang efektif dan kualitas tinggi dapat dilakukan
dengan metode satu mata tunas atau disebut budset (Putri dkk, 2013).
Teknik pembenihan dengan metode budset merupakan teknologi terbaru
dalam hal pemenuhan benih berkualitas. Metode ini menggunakan satu mata tunas
seperti halnya budchip, tetapi pada budset bagian batang yang digunakan lebih
banyak dibandingkan budchip. Penggunaan benih budset diharapkan dapat menghasilkan benih dengan jumlah yang besar atau memiliki anakan banyak dalam
waktu yang singkat, pertumbuhan yang seragam dan menghasilkan benih sehat
terbebas dari penyakit. Sifat benih mata tunas satu dapat cepat mengalami
kehilangan daya kecambah karena tidak memiliki masa dormansi (Adinugraha et
al, 2016). Hal tersebut menyatakan bahwa benih budset tidak dapat disimpan dalam
waktu yang lama. Penundaan dalam proses penanaman oleh petani menjadi
permasalahan saat ini karena jarak dari pengiriman benih ke lokasi yang jauh dan
kendala pengiriman yang tidak dapat diduga atau karena lahan yang belum siap
ditanami.
Kendala – kendala sebelum tanam harus dapat diselesaikan, seperti
keterlambatan penanaman benih dan lama pengiriman yang dapat menyebabkan
menurunnya kualitas benih tebu. Proses respirasi yang berlangsung pada benih tebu
dapat menjadikan viabilitas benih menurun yang menyebabkan pertumbuhan benih
kurang baik. Pengiriman dengan jarak jauh menjadi faktor penghambat karena
benih terlalu lama disimpan dalam proses kirim.
Faktor lainnya seperti lama waktu dalam penyimpanan benih juga dapat
mempengaruhi kualitas benih yang akan ditanam. Jenis media simpan yang baik
untuk mempertahankan kualitas benih dan viabilitas benih pada saat proses
pengiriman atau penundaan tanam juga perlu diperhatikan agar benih yang akan
ditanam memiliki viabilitas tinggi untuk peningkatan produktivitas tebu. Suhu,
media simpan dan lama waktu selama penyimpanan juga harus diperhatikan agar
proses metabolisme benih tetap berlangsung namun tidak mamcu perkecambahan
benih.
Penyimpanan dalam suhu ruang atau tempat yang kering biasanya akan
menurunkan daya kecambah benih karena kelembaban yang kurang seimbang dan
terjadi penurunan kadar air benih. Oleh karena itu perlu dikaji media simpan atau
kemasan simpan benih tebu yang baik dengan tetap mempertahankan kadar air
benih tebu namun tidak menurunkan viabilitas benih budset selama proses
pengiriman.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
SITI NURUL HIDAYAH
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords PERKECAMBAHAN TANAMAN; TEBU; P3GI PASURUAN
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:42
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5463

Actions (login required)

View Item
View Item