TRUNOJOYO-KP-23772-180311100128-LAPORAN PKL IKROMAR RUSYDAH_180311100128.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas
pertanian yang mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian Indonesia
dengan nilai strategis dan ekonomis yang tinggi sebagai bahan baku pembuatan
gula (Sukmadjaja et al., 2014). Namun, pengembangan industri pergulaan tidak
hanya untuk meningkatkan perekonomian negara, akan tetapi juga sangat
berperan dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat (Sukmadjaja dan Mulyana,
2011). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018 produksi tebu
Indonesia mengalami penurunan hingga mencapai 2.171.726 ton pada luas areal
perkebunan tebu Indonesia 415.663 ha. Sebelumnya di tahun 2008 mencapai
2.551.513 ton dengan luas areal perkebunan tebu Indonesia 434.540 ha. Menurut
Hapsoro (2019), permasalahan tanaman tebu di Indonesia adalah pemenuhan
kebutuhan gula nasional dengan ketidakseimbangan antara produksi gula yang
rendah dan konsumsi gula yang tinggi.
Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi ketidakseimbangan produksi
gula dan konsumsi gula melalui peningkatan produktivitas tanaman tebu dan
perluasan areal penanaman. Menurut Sukmadjaja et al (2014), apabila dilakukan
pembongkaran ratoon dan penanaman baru dari 30% lahan dengan luas 454.297
hektar, maka dibutuhkan benih yang sangat banyak sekitar 3,4 miliar mata tunas.
Saat ini telah dilakukan pengadaan benih tebu secara konvensional yaitu
perbanyakan tanaman secara vegetatif melalui bagal. Metode tersebut memiliki
kekurangan seperti waktu yang dibutuhkan lebih lama karena rendahnya laju
multiplikasi, membutuhkan tanaman induk dan tenaga kerja yang banyak,
terjadinya kontaminasi patogen sistemik yang sulit dihindarkan dan
ketergantungan terhadap musim tanam.
Perbanyakan vegetatif secara kultur in vitro menjadi salah satu metode
perbanyakan tanaman yang mampu menghasilkan benih yang dihasilkan dari satu
tanaman induk dalam jumlah yang besar dan dapat mengembangkan varietas tebu
baru secara massal. Metode ini selain digunakan sebagai perbanyakan tanaman,
juga digunakan untuk mengeliminasi virus sehingga dapat menghasilkan benih
bebas penyakit terutam penyakit – penyakit sistemik (Basri, 2016). Penggunaan meristem apikal sebagai bahan perbanyakan kultur in vitro paling banyak
diaplikasikan karena menghasilkan fenotipe yang sama seperti induknya, lebih
cepat menghasilkan planlet baru, menghindari terjadinya dormansi tunas, serta
tanaman akan bebas penyakit, seperti ratoon stunting diseases (RSD) dan
Sugarcane yellow leaf virus (SCYLV). Eksplan yang digunakan harus memenuhi
persyaratan benih unggul seperti true to type atau terjaminnya stabilitas genetik
dari tanaman yang dihasilkan, seragam, tegar, dan bebas penyakit agar
menghasilkan individu tanaman baru sesuai harapan (Sukmadjaja et al., 2014).
Metode perbanyakan vegetatit tanaman tebu secara kultur in vitro menjadi
solusi untuk menunjang produksi gula Indonesia. Metode ini mampu
menghasilkan bibit yang melimpah dalam waktu yang relatif singkat dan
berkualitas bebas hama penyakit. Dengan demikian praktik kerja lapang di Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan tentang teknik
perbanyakan vegetatif tanaman tebu secara kultur in vitro yang tepat sangat perlu
dipelajari untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi dengan kualitas yang
unggul.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM IKROMAR RUSYDAH AR. ROSYID |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PERBANYAKAN TANAMAN; TEBU; IN VITRO; PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI) PASURUAN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:41 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5396 |
