IDENTIFIKASI JENIS VEGETASI DAN INDEKS NILAI PENTING MANGROVE DI CLUNGUP MANGROVE CONSERVATION (CMC) TIGA WARNA CLUNGUP 2 BAGIAN BARAT YAYASAN SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG

MOH WASIL (2022) IDENTIFIKASI JENIS VEGETASI DAN INDEKS NILAI PENTING MANGROVE DI CLUNGUP MANGROVE CONSERVATION (CMC) TIGA WARNA CLUNGUP 2 BAGIAN BARAT YAYASAN SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23763-190351100027-Moh Wasil #190351100027 #Msp.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23763-190351100027-Moh Wasil #190351100027 #Msp.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (5MB)

Abstract

Hutan mangrove tersebar luas di dunia, terutama di sekitar khatulistiwa wilayah
tropika dan sedikit di subtropika. Hutan mangrove di dunia meliputi area seluas
kurang lebih 16.530.000 hektare yang tersebar di benua Asia sebesar 7.441.000
hektare, di benua Afrika sebesar 3.258.000 hektare, dan di benua Amerika sebesar
5.831.000 hektare. Adapun luasan hutan mangrove di Indonesia dilaporkan seluas
3.735.250 hektare. Oleh karena itu, kawasan hutan mangrove di Indonesia
membentuk hampir 50% dari luas hutan mangrove di Asia dan hampir 25% dari
luas hutan mangrove dunia (Haris, 2014).
Poedjirahajoe et al. (2017) menyatakan bahwa hutan mangrove adalah sumber
daya alam iklim tropis dengan beberapa keunggulan, baik ditinjau dari aspek sosial,
ekonomi maupun ekologi. Hutan mangrove merupakan jenis ekosistem yang tidak
terpengaruh oleh iklim, namun jenis tanah merupakan faktor yang sangat dominan
dalam pembentukan ekosistem ini. Hutang mangrove merupakan jenis hutan yang
terdapat di daerah pasang surut, yaitu komunitas vegetasi yang didominasi oleh
kandungan garam tinggi seperti pantai lindung, laguna, dan muara. Hutan mangrove
merupakan sistem multiorganisme yang tersusun atas vegetasi hutan mangrove,
hewan, dan mikroba yang berinteraksi bersama di lingkungan. Vegetasi mangrove
merupakan ekosistem yang sangat kompleks karena terdapat beberapa faktor yang
saling mempengaruhi di dalam dan di luar pertumbuhan dan perkembanganya
(Khairunnisa et al., 2020).
Kawasan hutan mangrove memiliki peranan penting dalam segi fisik, biologi,
maupun penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Beberapa peran hutan mangrove
dari segi fisik antara lain menjaga agar garis pantai tetap stabil, melindungi pantai
dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai atau angin kencang dari
laut, menahan hasil proses penimbunan lumpur sehingga memungkinkan
terbentuknya lahan baru, menjadi wilayah penyangga serta berfungsi menyaring air
laut menjadi air darat yang tawar, mengelola limbah beracun dan menghasilkan oksigen (02) dan menyerap karbon dioksida (C02). Peran biologi hutan mangrove
antara lain menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting
bagi plankton sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan; menjadi
tempat pemijahan dan perkembanganbiakan ikan-ikan, kerang, kepiting, dan udang;
menjadi tempat berlindung, bersarang, dan perkembangbiakan burung dan satwa
liar; menjadi sumber plasma nutfah dan sumber genetik; serta menjadi habitat alami
bagi beberapa jenis biota perairan (Imaduddien & Krisnadi, 2016).
Hutan mangrove berperan sebagai salah satu penunjang perekonomian
masyarakat pesisir, yaitu sebagai lahan untuk produksi pangan dan penghasil kayu
bakau yang mempunyai nilai ekspor tinggi untuk bahan baku dan bahan bagunan,
pupuk, bahan baku kertas, bahan makanan, bahan obat-obatan, minuman, peralatan
rumah tangga, bahan baku tesktil, kulit, lilin, dan madu. Selain itu, ekosistem
mangrove memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kegiatan rekreasi, tempat
memancing, dan ekowisata pesisir. Kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan
untuk pelestarian alam serta menghasilkan keuntungan ekonomi bagi kehidupan
masyarakat sekitar (Wahyuni et al., 2014).
Akan tetapi, peran hutan mangrove untuk penguatan sisi ekonomi masyarakat
ini tidak didukung dan tidak sebanding dengan tingkat kerusakan hutan mangrove
di Indonesia yang sangat luas sehingga luas ekosistem mangrove diperkirakan telah
berkurang sebesar 2,15 juta hektare dari total sebelumnya. Kerusakan hutan
mangrove mernjadi masalah serius yang kini sedang terjadi hampir di seluruh
wilayah Indonesia (Sani et al., 2019). Apabila terdapat kerusakan ekosistem, maka
kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya berbagai spesies fauna yang berasosiasi
dengan hutan mangrove. Zamdial et al. (2021) menyatakan bahwa tumbuhan
mangrove umumnya dapat beradapatasi terhadap kondisi pantai yang memiliki
salinitas tinggi, walaupun tidak semua pantai dapat ditumbuhi mangrove. Hal ini
dikarenakan pertumbuhan mangrove memiliki persyaratan tertentu seperti kondisi
pantai yang terlindungi, relatif tenang, dan mendapat sedimen dari muara sungai.
Wilayah pesisir pantai di Kabupaten Malang mempunyai pantai yang
berhadapan langsung dengan wilayah mangrove yang dikenal dengan kawasan
Clungup Mangrove Conservation (CMC). Kawasan CMC memiliki potensi
ekonomi besar yang diperoleh dari tiga sumber utama, yaitu hasil hutan, perikanan, dan pantai (perairan dangkal) yang dijadikan sebagai tempat wisata alam dengan
formasi geografis pesisir bervegetasi mangrove, terumbu karang, serta panorama
perbukitan khas pesisir selatan Jawa (Pamoengkas & Zamzam, 2018).
Keanekaragaman jenis mangrove dan keunikannya juga memiliki potensi sebagai
wahana wisata dan penyangga perlindungan wilayah pesisir pantai, serta sebagai
sumber pakan habitat biota laut (Poedjirahajoe et al., 2017).
Jenis vegetasi penyusun ekosistem mangrove di pantai selatan sangat beragam.
Penelitian yang dilakukan oleh Jati dan Pribadi (2017) hanya melaporkan
keanekaragaman dari empat jenis mangrove yang terdapat di daerah pesisir pantai
selatan Kabupaten Bantul meliputi Avicennia sp. (60%), Rhizophora sp. (20%),
Bruguiera sp. (10%), dan Nypa frutican (10%). Adapun penelitian yang dilakukan
oleh Senoaji et al. (2016) juga melaporkan keanekaragaman 9 jenis mangrove yang
ditemukan di wilayah pesisir Kota Bengkulu, yaitu Rhizophora apiculata,
Sonneratia alba, Bruguiera gymnoriza, Xylocarpus granatum, Avicennia alba,
Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littoreae, Ceriops tagal, dan Acrostichum aureum.
Baharuddin & Amri, (2020) juga melaporkan komposisi vegetasi mangrove yang
ditemukan di Pantai Cengkrong Desa Karanggandu Kabupaten Trenggale. Terdapat
12 jenis mangrove, yaitu jenis Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata,
Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Ceriops decandra, Ceriops tagal,
Avicennia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Xylocarpus
granatum, Lumnitczera racemosa dan Nypa fruticans.
Indeks Nilai Penting (lNP) merupakan parameter kuantitatif yang dapat dipakai
untuk menyatakan tingkat dominasi spesies dalam komunitas mangrove serta
merefleksikan keberadaan peran (dominansi) dan struktur vegetasi mangrove di
suatu lokasi. Apabila INP suatu jenis vegetasi mangrove bernilai tinggi, maka jenis
tersebut sangat mempengaruhi kestabilan jenis penyusun ekosistem. Hasil analisis
indeks nilai penting (INP) yang dilakukan oleh Warpur (2018) menunjukkan bahwa
jenis R. Apiculata memiliki INP tertinggi di antara jenis lainnya yaitu 53,33% untuk
tingkat pohon; kemudian 55,66% untuk tingkat pancang; serta 42,30% untuk
tingkat semai. Sedangkan jenis Xylocarpus granatum merupakan jenis dengan INP
terkecil, yaitu 20,34% untuk tingkat pohon; 20,32% untuk tingkat pancang, dan
7,75% untuk tingkat semai. Data terkait jenis-jenis vegetasi mangrove dan penghitungan Indeks Nilai
Penting (INP) mangrove di CMC Tiga Warna Clungup 2 Bagian Barat Yayasan
Sendang Biru Kabupaten Malang masih belum dilaporkan dan belum ditemukan
informasi yang cukup jelas. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan
kegiatan PKL yang tidak hanya bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis vegetasi
hutan mangrove dengan beberapa parameter yang diamati, tetapi juga bertujuan
untuk menghitung dan menentukan nilai Indeks Nilai Penting (INP) dari setiap jenis
vegetasi hutan mangrove yang terdapat di CMC Tiga Warna Clungup 2 Bagian
Barat Yayasan Sendang Biru Kabupaten Malang.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
MOH WASIL
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords VEGETASI; INDEKS NILAI; MANGROVE; CLUNGUP MANGROVE CONSERVATION (CMC) TIGA WARNA CLUNGUP 2 BAGIAN BARAT; YAYASAN SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:41
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5374

Actions (login required)

View Item
View Item