MANAJEMEN AGRIBISNIS GARAM DI PT. GARAM KALIANGET KABUPATEN SUMENEP

Vitamami Mardatillah Imamah; Norul Hotija; Novia Faradilla Nor B (2022) MANAJEMEN AGRIBISNIS GARAM DI PT. GARAM KALIANGET KABUPATEN SUMENEP. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23762-190321100083-LAPORAN PKL PT. GARAM (Agribisnis).pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23762-190321100083-LAPORAN PKL PT. GARAM (Agribisnis).pdf
Restricted to Repository staff only

Download (11MB)

Abstract

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor terpenting dan merupakan
bahan penghasil pangan yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sektor pertanian perlu dikembangkan dengan
beberapa inovasi baru yakni seperti penggunaan alat modern dalam kegiatan
produksi. Seiring bertambahnya penduduk Indonesia, yang mana hal tersebut
juga akan mempengaruhi pertambahan jumlah bahan pertanian yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Usahatani tentunya tidak hanya
mempertimbangkan berkembangnya kegiatan produksi, namun juga
mempertimbangkan hasil yangdidapatkan oleh petani. Salah satunya yakni
pertanian garam. Usaha pegaraman tentunya akan menghasilkan jumlah
produksi yang banyak apabila input yang digunakan juga baik dan
mempermudah petani garam dalam pengolahannya.
Garam adalah salah satu komoditas agribisnis yang strategik, karena
selain untuk dikonsumsi garam juga dijadikan sebagai bahan baku industri. Di
Indonesia produksi garam terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura. Madura
merupakan pulau produksi garam terbesar dengan luas lahan 9.999,18 Ha,
Kabupaten Sampang dengan luas 4.200 Ha, Kabupaten Pamekasan 1.795,70
Ha, dan Kabupaten Sumenep 1.408,68 Ha merupakan lahan yang dikelola oleh
rakyat dan 2.595 Ha dimiliki oleh PT Garam. Garam termasuk benda padat
berbentuk kristal putih yang tersusun atas senyawa Natrium Klorida (>80 %)
dan senyawa lainnya seperti Magnesium Klorida, Magnesium Sulfat, Kalsium
Klorida dan lain-lain. Memiliki sifat mudah menyerap air, dengan tingkat
kepadatan (density) 0,8-0,9 dan memiliki titik lebur pada suhu 801oC (Purbani,
2003; Rismana, 2004). Garam di Indonesia berdasarkan SNI dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu garam konsumsi dan garam
industri. Garam konsumsi dipergunakan antara lain untuk keperluan konsumsi
rumah tangga, industri makanan, industri minyak goreng, industri pengasinan
dan pengawetan ikan, sedangkan garam industri dimanfaatkan antara lain untuk
keperluan industri perminyakan, tekstil dan industri penyamakan kulit, CAP (Chlor Alkali Plant) yang digunakan untuk proses kimia dasar pembuatan
sodadan chlor dan pharmaceutical salt (Purbani, 2003). Pada tahun 2019-2023
diperkirakan bahwa produksi garam di Indonesia akan mengalami penurunan
jumlah produksi, sehingga kegiatan impor juga diperkirakan akan mengalami
peningkatan yang signifikan yakni sebesar 107.101 ton/tahun. Peramalan
mengenai menurunnnya jumlah produksi garam di Indonesia disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya yakni jumlah penduduk yang meningkat di setiap
tahunnya.
Kabupaten Sumenep merupakan Kabupaten yang terletak di ujung timur
PulauMadura yang menjadi salah satu penyumbang produksi garam terbesar di
Jawa Timur. Kabupaten Sumenep memiliki luas sebesar 209345,8 Ha
sedangkan penggunaan lahan yang digunakan untuk tambak garam sebesar
3.067 ha sekitar3,86 % dari luas total. Kabupaten Sumenep didukung kedalam
SSWP yang pengembangannya berfungsi untuk penggaraman. Berdasarkan
PDRB pada Tahun 2014, kontribusi sektor garam dalam total PDRB sektor
garam seluruh Jawa Timur adalah sebesar 25 % (Kabupaten Sumenep Dalam
Angka 2011). Dari data tersebut menunjukkan bahwa sektor garam merupakan
salah satu penyumbang yang cukup besar jika dilihat dari posisi sektor garam
seluruh JawaTimur. Namun produksi dan sumbangan sektor garam di Sumenep
cenderung stagnan dan menurun hal ini bisa dilihat dari PDRB sektor garam
sejak 2014 hingga 2017. Pada tahun 2014 sektor garam menyumbang 3,3 %
dari keseluruhan PDRB Kabupaten Sumenep. Tahun 2015 menurun menjadi
2,9 %dari total PDRB pada tahun 2016 menjadi 2,6%. Jika dilihat dari jumlah
produksi garam pada tahun 2014 Kabupaten Sumenep memproduksi garam
sebanyak 94.000 ton sedangkan pada tahun 2016 produksi garam yang
dihasilkan sebanyak 17.000 ton.
PT. Garam termasuk suatu perusahaan terbesar yang memproduksi
garam di Indonesia. Hal ini didukung dari kepemilikan lahan yang telah tersebar
di PulauMadura serta menyuplai garam langsung dari petani garam. Telah
beroperasi selama kurang lebih 74 tahun sehingga bisa dikatakan bahwa PT.
Garam adalah perusahaan BUMN tertua di Indonesia yang bergerak pada
bidang manufaktur produksi garam. Walaupun menjadi perusahaan BUMN tertua namun masih banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dihadapi
PT. Garam mulai dari target produksi yang menurun, kondisi gudang yang tua,
kurangnya inovasi produk dan dari uraian latar belakang tersebut maka penulis
ingin mengkaji lebih lanjut mengenai manajemen agribisnis garam yang
diterapkan di PT. Garam Sumenep dalam mengatasi berbagai permasalahan
yang ada.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
Vitamami Mardatillah Imamah; Norul Hotija; Novia Faradilla Nor B
Department Agribisnis
Uncontrolled Keywords MANAJEMEN AGRIBISNIS; GARAM; PT. GARAM KALIANGET KABUPATEN SUMENEP
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agribisnis
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:40
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5371

Actions (login required)

View Item
View Item