UJI ORGANOLEPTIK MUTU IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) HASIL TANGKAPAN DARI ALAT TANGKAP PANCING ULUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PONDOKDADAP KABUPATEN MALANG

Ika Faulina (2021) UJI ORGANOLEPTIK MUTU IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) HASIL TANGKAPAN DARI ALAT TANGKAP PANCING ULUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PONDOKDADAP KABUPATEN MALANG. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23756-190351100005-IKA FAULINA.190351100005.MSP.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23756-190351100005-IKA FAULINA.190351100005.MSP.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Kabupaten Malang merupakan kabupaten dengan panjang pantai 102,62
km, luas perairan sampai 12 mil laut atau 1.705,3 km2

. Potensi perikanan tangkap
di Kabupaten Malang menurut BPS tahun 2016 menghasilkan 11.318,93 ton,
produksi ikan Kabupaten Malang didominasi ikan pelagis kecil dan pelagis besar
dengan hasil tangkapan ikan cakalang sebanyak 3.169.65 ton. Salah satu
pelabuhan perikanan yang berada di kabupaten Malang adalah Unit Pelaksana
Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai (UPT PPP) Pondokdadap dengan hasil
produksi keseluruhan pada tahun 2021 sebanyak 11.251,43 ton dan ikan cakalang
sebanyak 2.328,46 ton.
UPT PPP Pondokdadap merupakan salah satu pelabuhan perikanan yang
diatur dalam Permen KKP No.PER.16/MEN/2006 tentang pelabuhan perikanan.
Letak pelabuhan yang terletak di selatan pesisir pulau Jawa yang memiliki potensi
hasil perikanan berupa ikan pelagis besar seperti ikan madidihang, tuna mata
besar, albakora, tuna sirip biru selatan, tuna abu-abu, cakalang dan lainnya. Letak
pelabuhan yang strategis dengan berhadapan langsung ke samudera hindia
membuat sumberdaya perikanan di wilayah tersebut cukup melimpah (Rachman
et al.,` 2013).
Hasil tangkapan ikan laut secara umum dipengaruhi oleh jumlah armada,
jenis alat tangkap dan nelayan, sehingga hasil tangkapan di laut ketidakpastiannya
lebih besar dibandingkan usaha budidaya ikan. Alat tangkap dan kesesuaian alat
tangkap merupakan faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan ikan di laut,
kesesuaian alat tangkap menjadi penentu keberhasilan hasil tangkap. Pada
aktifitas penangkapan ikan pelagis biasanya nelayan menggunakan alat tangkap
berupa pancing ulur, ikan yang dominan ditangkap menggunakan pancing ulur
antara lain tuna, tongkol, cakalang, dan ikan-ikan lain yang memiliki nilai
ekonomis tinggi (Fattah et. al, 2017).
Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu ikan pelagis
yang bernilai ekonomis dalam sektor perikanan. Ikan cakalang sering disebut
skipjack tuna dengan nama lokal cakalang yang mempunyai daerah penyebaran dan migrasi yang luas. Tuli (2018) menyatakan bahwa penangkapan ikan cakalang
dapat dilakukan sepanjang tahun di perairan Indonesia, hasil yang diperoleh juga
berbeda sesuai dengan lokasi penangkapan dari musim ke musim. Ikan cakalang
merupakan jenis ikan laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat dan memiliki
kandungan protein tinggi yang baik untuk tubuh manusia. Ikan cakalang
mengandung banyak histamin karena jaringan daging merahnya mengandung
asam amino histidin yang tinggi. Kadar histamin merupakan salah satu faktor
penentu kualitas ikan cakalang. Kualitas dan kesegaran ikan cakalang sangat perlu
diperhatikan. Oleh karena itu penentuan dapat dilakukan dengan melihat
kenampakan fisik ikan sepeti kenampakan mata, insang, daging, bau, lendir, dan
tekstur ikan cakalang (Tamuu et al., 2014).
Proses penurunan mutu kesegaran ikan dapat disebabkan oleh faktor
internal maupun faktor eksternal. Faktor kecepatan penurunan kesegaran ikan
meliputi suhu penyimpanan, teknis penangkapan, jenis ikan, ukuran ikan, bakteri,
dan enzim ikan (Suprayitno, 2020). Murniyati dan Sunarman (2000) menyatakan
bahwa salah satu faktor yang sangat penting dan erat hubungannya dengan mutu
ikan adalah kesegaran ikan. Ikan dalam keadaan masih segar memiliki mutu yang
baik sehingga nilai jualnya tinggi, sebaliknya jika ikan kurang segar memiliki
mutu yang rendah sehingga harganya rendah. Uji organoleptik dapat dilakukan
dengan cara melihat langsung kenampakan ikan seperti kenampakan mata, insang,
lendir, daging, bau, dan tekstur ikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Wahyu et al., (2019) bahwa ikan cakalang mengalami perubahan setelah dari
tempat pelelangan ikan, yang artinya ikan yang di gudang supplier dan kios ikan
nelayan sedikit mengalami penurunan mutu, perbedaan kesegaran ikan disebabkan
karena adanya perbedaan penanganan dan penggunaan es pada tiap lokasi. Ikan
yang bermutu dan berdaya awet panjang dapat diperoleh dengan cara
memperhatikan hal-hal penting dalam menangani ikan seperti bekerja cepat,
cermat, bersih, dan pada suhu rendah. Mutu ikan yang buruk dapat dipengaruh
oleh kenaikan suhu, penanganan yang kurang baik, dan penundaan waktu
penanganan (Ilyas, 1983).
Berdasarkan urairan di atas pengujian organoleptik penting dilakukan
karena berkaitan dengan penerimaan konsumen terhadap suatu produk perikanan.
Dalam melakukan pengujian secara organoleptik perlu diperhatikan syarat yang
harus dipenuhi dalam pelaksanaanya agar pengujian berjalan sesuai dengan
prosedur yang ada dan memiliki hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.
Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap Malang
merupakan salah satu unit pelaksana teknis yang bergerak dalam bidang
pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan sehingga kegiatan PKL
dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap
Kabupaten Malang untuk mengetahui dan memahami uji organoleptik kualitas
mutu ikan cakalang.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
Ika Faulina
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords ORGANOLEPTIK; IKAN CAKALANG; PANCING ULUR; PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PONDOKDADAP KABUPATEN MALANG
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:40
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5356

Actions (login required)

View Item
View Item