TRUNOJOYO-KP-23755-180311100034-(Laporan_PKL_Sri_Mulyani).pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Refugia adalah wadah untuk perlindungan bagi musuh alami dan predator
yang bermanfaat bagi tanaman pokok (Altieri & Letourneau, 1982). Refugia
dapat mendukung kegiatan konservasi sebagai pilihan dalam menjaga
agroekosistem pada lahan pertanian (Allifah et al., 2013). Pengendalian hama
dengan cara bercocok tanam seperti pemanfaatan tanaman pinggir atau tanaman
perangkap, dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat
ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Jenis tanaman pinggir yang
dipilih harus mempunyai fungsi ganda yaitu, disamping sebagai penghalang
masuknya hama ke pertanaman pokok, juga sebagai tanaman refugia yang
berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepung sari untuk makanan
alternatif predator, jika mangsa utama populasinya rendah atau tidak ada di
pertanaman pokok.
Bunga matahari (Helianthus annuus) merupakan tanaman semusim dari
suku kenikir-kenikiran (Asteraceae) yang sangat populer, tanaman juga sebagai
tanaman hias yang menghasilkan minyak. Bunga matahari dapat tumbuh
dengan baik di daerah pegunungan, daerah yang memiliki kelembapan yang
cukup banyak mendapatkan sinar matahari secara langsung (Franzen, 2007).
Penanggulangan hama, sebagian besar penanganannya masih
menggunakan pestisida kimia terutama dari bahan aktif methyl parathion,
chlorpyriphos, phosalone, endosulfan, deltamethrindan alphamethrin.
Penggunaan insektisida kimia ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak
negatif, seperti terjadinya resistensi hama, resurgensi, keracunan pada manusia,
dan pencemaran terhadap lingkungan. Dengan adanya dampak negatif yang
ditimbulkan insektisida kimia, maka terbuka peluang untuk mengembangkan
alternatif pengendalian hama yang ramah terhadap lingkungan. Salah satu
alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan adalah pengendalian
hama menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati asap cair tembakau
(Asarko) yang dikembangkan Balittas ini dibuat dari proses pirolisis yang
merupakan proses pembakaran suhu tinggi dengan mengubah material
tembakau menjadi bahan asap cair. Dari proses pirolisis bahan baku sebanyak
1 kilogram tembakau dan akan diperoleh sebanyak 300mL asap cair tembakau. Asap cair inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati
untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Peran asap cair sebagai insektisida terlihat dari kandungan kimianya
melalui analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Asap cair
hasil pirolisis tembakau pada berbagai variasi suhu pirolisis mengandung
senyawa yang berpotensi dapat digunakan sebagai insektisida terutama dari
golongan senyawa kimia keton, furfural, dan alkohol. Asap cair ini efektif untuk
membunuh hama dengan dosis anjuran dan aplikasinya tidak menyebabkan
ledakan hama serta tidak menyebabkan fitoksitas tanaman. Kedepan,
diharapkan pestisida nabati dari asap cair tembakau ini dapat menjadi salah satu
produk unggulan Balittas yang diterapkan di kalangan petani untuk
pengendalian hama yang ramah lingkungan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM SRI MULYANI |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | ASARKO; BUNGA MATAHARI; BALAI PENELITIAN TANAMAN PEMANIS DAN SERAT (BALITTAS) |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:40 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5355 |
