TRUNOJOYO-KP-23751-190351100045-LAPORAN PKL FARIDA FARDANI-190351100045.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Potensi budidaya udang di Indonesia cukup besar dan menjanjikan untuk
dikembangkan. Udang merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia yang
memiliki peranan sangat signifikan terhadap kinerja ekspor. Data Kelautan dan
Perikanan Tahun 2018 menyatakan bahwa produksi udang merupakan komoditas
unggulan ekspor dalam lima tahun terakhir (2013-2017). Volume ekspor udang terjadi
peningkatan hingga mencapai 180 ribu ton pada tahun 2021. Berdasarkan
komoditasnya, udang vaname merupakan komoditas terbesar. Udang vaname
merupakan salah satu komoditas yang sering dibudidayakan, hal ini disebabkan karena
udang vaname memiliki beberapa keunggulan seperti pertumbuhan yang cepat dan
ukuran panen yang seragam serta dapat dibudidayakan dengan padat tebar yang tinggi
(Fuady et al., 2013). Komoditas udang vaname sangat digemari di pasar Internasional,
saat ini negara Indonesia merupakan eksportir udang vaname terbesar keempat di dunia
setelah Tiongkok, India dan Vietnam (KKP, 2018).
Kebutuhan pasar yang semakin meningkat menyebabkan banyaknya
pembudidaya yang meningkatkan hasil produksinya. Produksi yang tinggi akan
berdampak pada bahan limbah yang dihasilkan oleh kotoran udang serta sisa pakan
apabila rasio konversi pakan tinggi (Rosyidah et al., 2020). Lailiyah (2018)
menyatakan bahwa tingginya suatu produksi hasil budidaya tidak selamanya diikuti
oleh keuntungan yang tinggi. Target produksi udang masih dihadapkan pada berbagai
tantangan, salah satunya adalah lingkungan dan hamparan budidaya yang tidak
terkontrol serta manajamen limbah yang kurang baik. Hal tersebut akan berpotensi
pada penyebarluasan hama dan penyakit udang pada usaha budidaya. Serangan wabah
hama dan penyakit udang dapat menyebabkan kematian massal dan menurunkan
produksi serta kualitas produk (Kurniawan, 2012).
Penyakit udang yang disebabkan oleh virus menjadi hal yang patut diwaspadai
dikarenakan dapat menyerang berbagai stadium larva udang yang menyebabkan
pertumbuhan menjadi terlambat, terjadi perubahan bentuk tubuh, serta risiko kematian (Nurbariah, 2015). Beberapa jenis virus yang telah diketahui menginfeksi udang di
antaranya adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV), Monodon Baculo Virus (MBV),
Bculoviral Midgut Necrosis Virus (BMNV), Infectius Hypodermaland
Haemotophoeitic Necrosis Virus (IHNV), Spawner Mortality Virus (SMV), dan
Hepatopancreatic Parvo-like Virus (HPV) (Muliani et al., 2004). Salah satu jenis virus
yang paling banyak menimbulkan kematian di tambak udang adalah virus WSSV.
Udang yang terinfeksi virus WSSV akan mengalami kematian mencapai 100% dengan
adanya tanda morfologi berupa bintik putih di karapaks. Distribusi WSSV terdapat
pada insang, kaki renang (pleiopoid), kaki jalan (pereiopoid), jantung, dan organ
lainnya. Udang yang terinfeksi WSSV mengalami perubahan tingkah laku, yaitu
menurunnya aktifitas berenang, berhenti makan, terlihat lemas, dan berenang mendekat
ke permukaan air (Yanti et al., 2017).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan,
Ikan dan Tumbuhan serta Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2002 tentang
Karantina Ikan, Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) digolongkan menjadi dua, yaitu
golongan I dan golongan II. HPIK golongan I adalah HPIK yang tidak dapat
disucihamakan dan/atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi
perlakuannya belum dikuasai. HPIK golongan II adalah HPIK yang dapat
disucihamakan dan/atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi
perlakuannya telah dikuasai. Virus WSSV merupakan HPIK golongan I. Penyakit
udang yang disebabkan oleh virus sukar diobati dan hanya dapat diantisipasi dengan
tindakan pencegahan meliputi benih yang unggul serta manajemen budidaya yang baik
(Desrina, 2017).
Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan
Surabaya II (BKIPM) merupakan tempat pengasingan dan berorientasi pada tindakan
atau upaya untuk melakukan pencegahan masuk dan tersebarnya hama penyakit agar
tidak mengganggu organisme lainnya. Untuk melindungi produksi udang dari masuk
dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina yang belum terdapat di Indonesia,
maka diperlukan tindakan karantina terhadap udang yang dimasukkan dari negara lain
(impor) untuk mengantisipasi ancaman timbulnya wabah penyakit udang terutama jenis Litopenaeus vannamei yang menjadi komoditas ekspor utama saat ini. BKIPM
bertujuan untuk membebaskan komoditas perikanan dari Hama Penyakit Ikan
Karantina (HPIK) yang mungkin terbawa dalam proses lalu lintas ikan secara impor,
ekspor, dan antar area dalam wilayah Republik Indonesia (KEP-BKIPM/2014).
Kegiatan ekspor membutuhkan serangkaian SOP yang harus dipenuhi dan ditaati
oleh pengekspor meliputi pengujian mutu dan keamanan pangan dari produk yang akan
diekspor (Dirjen PDSPKP KKP, 2015). Berdasarkan peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 19 tahun 2010 tentang Pengendalian Jaminan Mutu dan Keamanan
Hasil Perikanan menyatakan bahwa diperlukan upaya pencegahan yang perlu
diperhatikan serta dilakukan sejak praproduksi sampai pendistribusian untuk
menghasilkan perikanan yang bermutu dan aman bagi kesehatan. Proses pengendalian
mutu untuk udang vaname diperlukan adanya Sertifikat Kesehatan (Health
Certificate), yaitu sertifikat yang menyatakan bahwa ikan dan hasil perikanan telah
memenuhi persyaratan mutu dan keamanan untuk dikonsumsi oleh manusia. Oleh
sebab itu, udang yang akan diekspor harus bersih dari Hama Penyakit Ikan Karantina.
Metode diagnosis dini yang cepat, sensitif, dan akurat sebagai langkah
pencegahan khususnya pada udang yang akan diekspor maupun impor sangat
diperlukan. Diagnosis penyakit atau deteksi jenis virus ini dapat dilakukan dengan
metode molekuler, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR). Virus yang menginfeksi
udang dalam jumlah sedikit dan belum menimbulkan penyakit pada udang dapat
dideteksi sejak dini dengan menggunakan metode PCR. Bahan genetik virus yang
jumlahnya sedikit dapat digandakan dengan metode PCR sehingga keberadaannya
dapat dilacak dan diambil tindakan pencegahan khususnya pada benur yang akan
ditebar (Maryati et al., 2017). Serupa dengan penelitian Yanti et al (2017) yang
melakukan penelitian mengenai deteksi bintik putih molekuler sindroma virus WSSV
pada benur udang vaname untuk menjamin bahwa udang yang berasal dari tambak
tersebut bebas dari WSSV.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan kegiatan Praktik Kerja Lapang
(PKL) di Laboratorium Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil
Perikanan Surabaya II untuk mengetahui metode pemeriksaan White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vaname. Sampel udang vaname yang masuk merupakan
sampel dari para customer Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan
Hasil Perikanan Surabaya II untuk dilakukan prosedur pemeriksaan virus WSSV
dengan metode Nested PCR. Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui udang vaname
tersebut layak atau tidak untuk diperdagangkan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM FARIDA FARDANI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | IRUS WSSV; UDANG VANAME; METODE Nested PCR; LABORATORIUM BALAI KIPM SURABAYA II |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:40 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5348 |
