TRUNOJOYO-KP-23747-190311100112-ANZALNA RAHMA YASIN_190311100112_AGROEKOTEKNOLOGI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian di bidang pertanian. Sebenarnya negara ini diuntungkan
karena dikaruniai kondisi alam yang mendukung, hamparan lahan yang luas,
keragaman hayati yang melimpah, serta beriklim tropis dimana sinar matahari
terjadi sepanjang tahun sehingga bisa menanam sepanjang tahun. Realita
sumberdaya alam seperti ini sewajarnya mampu membangkitkan Indonesia
menjadi negara yang makmur, tercukupi kebutuhan pangan seluruh warganya.
Meskipun belum terpenuhi, pertanian menjadi salah satu sektor riil yang memiliki
peran sangat nyata dalam membantu penghasilan devisa negara.
Persea americana atau yang dikenal dengan buah alpukat merupakan
salah satu jenis buah yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Buah ini
dikenal memiliki banyak manfaat salah satunya yaitu untuk diet karena
mengandung banyak protein. Selain itu, terdapat banyak olahan dari alpukat baik
berupa makanan, minuman bahkan untuk perawatan kulit wajah, tubuh dan
rambut.
Kandungan gizi yang terdapat pada buah ini diantaranya yaitu, karotenoid
dan phytonutrient, lemak bermanfaat serta protein yang mudah dicerna tubuh. Hal
tersebut dikarenakan selain mengandung protein buah alpukat juga mengandung
serat. Mengkonsumsi buah ini juga dapat meningkatkan kadar HDL atau bisa juga
disebut kolesterol baik, mengandung anti-inflamasi serta bermanfaat untuk
Kesehatan jantung.
Alpukat merupakan buah yang berasal dari Amerika Tengah yaitu
Mexico, Peru dan Venezuela kemudian menyebar ke berbagai negara sampai ke
Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Afni et al. 2017). Daerah tropis dan
mengandung anti oksidan yang tinggi merupakan daerah yang bagus untuk
pertumbuhan alpukat. Artinya, tanaman alpukat tersebut dapat dibudidayakan
secara luas di Indonesia mengingat iklim yang ada merupakan iklim tropis.
Bibit alpukat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara vegetative
dan generative. Secara generative bibit alpukat diperoleh dari pertumbuhan biji
langsung. Sedangkan secara vegetative dilakukan dengan mengambil bagian dari
tanaman misalnya batang, daun, pucuk dan lain-lain. Cara perbanyakan dengan
vegetative bisa dengan cangkok, sambung atau grafting, okulasi dan setek. .
Perbanyakan vegetative yang dapat dilakukan pada alpukat yaitu dengan metode
sambung (grafting). Keunggulan dari perbanyakan ini yaitu tanaman memerlukan
waktu yang singkat untuk bereproduksi.
CV. Agro Utama Mandiri Lestari merupakan salah satu tempat yang
focus dalam memperbanyak tanaman holtikultura, salah satunya yaitu tanaman
alpukat. Perbanyakan pada alpukat yang dilakukan di CV ini yaitu dengan metode
sambung atau grafting Grafting ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
sambung pucuk dan juga sambung samping. Metode ini dilakukan dengan cara
menyatukan dua buah tanaman berbeda yang masing-masing akan memiliki peran
sebagai batang atas dan batang bawah. Syarat tumbuhan yang akan dijadikan
sebagai batang bawah yaitu memiliki perakaran yang kuat dan dapat tahan
terhadap berbagai kondisi lingkungan. Sedangkan untuk pemilihan batang atas
(entress) yaitu tumbuhan yang unggul dari segi produktifitas buah dan tahan
terhadap serangan hama. Biasanya, batang bawah diperoleh dari perbanyakan
secara generative yaitu dari biji.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ANZALNA RAHMA YASIN |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PERBANYAKAN TANAMAN; ALPUKAT ALIGATOR; SAMBUNG PUCUK; CV AGRO UTAMA MANDIRI LESTARI |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:40 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5343 |
