IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON, TOTAL ORGANIC MATTER, DAN TOTAL BAKTERI Vibrio sp. PADA SAMPEL AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP

KHOSNOL KHOTIMAH (2022) IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON, TOTAL ORGANIC MATTER, DAN TOTAL BAKTERI Vibrio sp. PADA SAMPEL AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23724-190351100010-Khosnol Khotimah_190351100010_MSP.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23724-190351100010-Khosnol Khotimah_190351100010_MSP.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

Tambak merupakan habitat yang digunakan sebagai wadah atau tempat
dalam melakukan suatu kegiatan budidaya air payau di daerah pesisir pantai
(Suparjo, 2008). Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu
produk perikanan yang saat ini banyak di budidayakan karena udang jenis ini
memiliki prospek dan profit yang menjajikan. Pemerintah Indonesia menetapkan
udang vaname sebagai komoditas unggulan dari sektor perikanan budidaya.
Produksi udang vaname berdasarkan penerapan skala teknologi menunjukkan
bahwasanya udang vanamei memiliki beberapa kelebihan seperti memiliki
pertumbuhan yang cepat, dan dapat mendiami seluruh kolam, sehingga dapat di
budidayakan dengan densitas yang tinggi serta lebih tahan terhadap serangan
virus dan penyakit. Permintaan udang vaname mengalami peningkatan akibat
peranan udang sebagai salah satu sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh
manusia. Upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi jumlah peningkatan
permintaan tersebut yakni melalui kegiatan budidaya. Syarat dalam menentukan
keberhasilan suatu kegiatan budidaya tergantung pada penyediaan benih baik
kualitas maupun kuantitasnya. Ketersediaan plankton sebagai pakan alami
merupakan salah satu penunjang dalam kegiatan budidaya udang vaname
(Mansyah et al., 2020).
Plankton merupakan organisme perairan yang sangat beranekaragam baik
pada perairan tawar, payau maupun laut. Plankton merupakan organisme
perairan yang sangat memiliki peranan penting di dalam suatu ekosistem
perairan dalam menentukan status perairan dengan mengetahui kelimpahan dan
jenis-jenis yang terdapat pada perairan tersebut (Rumondang, 2017). Usman et
al., (2013) menjelaskan bahwasanya plankton mempunyai peranan yang sangat
penting di dalam ekosistem bahari karena dengan sifatnya yang autotrof mampu
merubah hara anorganik menjadi bahan organik dan penghasil oksigen yang
sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk yang lebih tinggi tingkatannya.
Plankton dapat menjadi sumber energi terhadap keberlangsungan pertumbuhan
bagi larva ikan maupun udang. Plankton dapat dijadikan sebagai pakan alami
baik fitoplankton maupun zooplankton contohnya, seperti jenis plankton dari
Chlorella, Tetraselmis chuii, Chaetoceros, Skeletoneme costatum, Spirulina dan Artemi. Plankton yang dijadikan sebagai pakan alami memiliki karakteristik, yaitu
kandungan gizi yang lengkap, tidak menyebabkan pencemaran terhadap media
budidaya, ukuran tubuh plankton yang relatif kecil sesuai dengan bukaan mulut
dari larva ikan ataupun udang, sehingga menjadikan hal tersebut suatu
keunggulan yang dimiliki oleh pakan alami dan banyak digunakan oleh petani
tambak. Fitoplankton dalam ekosistem perairan memiliki peran penting bagi
produktivitas primer perairan karena dapat melakukan proses fotosintesis yang
menghasilkan bahan organik maupun kebutuhan oksigen bagi organisme yang
tingkatnya lebih tinggi (Zaqiyah, 2015).
Peningkatan limbah metabolit di dalam suatu perairan di akibatkan oleh
adanya jumlah pakan yang berlebih atau padat tebar yang tinggi. Sisa pakan
yang berlebih akan mengakibatkan kualitas air suatu perairan menurun, hal ini
dikarenakan sisa pakan tersebut akan mengendap di dasar tambak dan berubah
menjadi senyawa toksik. Peningkatan bahan organik dan senyawa toksik didalam
perairan di akibatkan oleh adanya peningkatan jumlah pakan yang tidak
termakan oleh udang (Wulandari et al., 2015). Craba et al., (2007) menjelaskan
bahwasanya bahan organik dan anorganik seperti amonia (NH3), fosfor dan
karbon organic terlarut dapat dihasilkan dari kegiatan budidaya. Feses dan hasil
metabolisme udang termasuk bahan organik yang dapat memicu adanya
peningkatan konsentrasi senyawa beracun seperti amonia (NH3). Oksigen
terlarut (DO) di dalam air dimanfaatkan oleh bakteri jenis Nitrosomonas dan
Nitrobakter untuk melakukan kegiatan dekomposisi bahan organik di dalam
perairan. Nilai oksigen terlarut (DO) di dalam suatu perairan apabila tinggi, maka
dapat menyebabkan nilai akumulasi bahan organik menurun (Djunaedi et al.,
2016). Penurunan kualitas air tambak diakibatkan oleh tingginya kandungan
bahan organik dan unsur hara yang berasal dari sisa pakan dari buangan air
tambak. Buangan air tambak mengandung unsur yang tinggi karena berasal dari
pakan dan feses udang (Playukan et al., 2016).
Bakteri akan menguraikan bahan organik di dalam air menjadi unsur hara
atau nutrien. Pertumbuhan kelimpahan fitoplankton dan kesuburan perairan
dapat dipengaruhi oleh meningkatnya unsur hara di dalam perairan (Rasmiati et
al., 2017). Kristiawan et al., (2014) menyatakan bahwasanya proses metabolisme
mikroorganisme seperti bakteri memiliki peranan sebagai sumber energi dalam
pertumbuhan dan perkembangan mikroba, sehingga memerlukan adanya keberadaan bahan organik di ekosistem perairan. Pertumbuhan mikroba di
perairan akan mengalami peningkatan seiring dengan tingginya kadar bahan
organik (Kilne et al., 2006). Kunarso (2011)menyatakan bahwasanya bakteri
berperan aktif dalam ekosistem perairan laut, yaitu sebagai dekomposer dalam
proses mineralisasi bahan-bahan organik. Bakteri heterotrofik berperan sebagai
dekomposer yang memiliki kemampuan dalam menguraikan material organik
menjadi unsur hara yang esensial (Sutiknowati, 2013). Yuningsih et al., (2014)
menjelaskan bahwasanya terhambatnya proses dekomposisi akan
mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan organik yang pemanfaatannya tidak
dapat digunakan secara langsung oleh produsen dan nutrien.
Para pembudidaya melakukan suatu cara untuk meningkatkan produksi
udang vaname, yaitu dengan manajemen kualitas air. Manajemen kualitas air
dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor fisika, kimia, dan biologi perairan
yang meliputi kegiatan monitoring, pengelolaan kualitas air dan perlakuan jika
terjadi penyimpangan nilai optimal parameter kualitas air (Putra dan Mana,
2014). Kualitas air tambak udang yang menurun akan menimbulkan masalah
karena di dalam budidaya tambak udang terdapat komponen air yang berfungsi
sebagai media utama, sehingga memerlukan perhatian yang lebih dalam
pengelolaannya. Keberhasilan suatu usaha budidaya tambak udang ditentukan
oleh faktor kualitas air. Data dan informasi mengenai kondisi kualitas air pada
tambak udang dapat diketahui dengan melakukan evaluasi kualitas air antara
lain, berdasarkan produktivitas primer sehingga dapat diketahui tingkat
kesesuaian kualitas air tambak udang pada kondisi sekarang (Dede et al., 2014).
Laboratorium Mandiri Kalianget merupakan suatu tempat yang digunakan
oleh para pembudidaya udang untuk menganalisis kualitas air tambak udang
yang terletak di Dusun Jikantang, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget,
Kabupaten Sumenep. Laboratorium Mandiri Kalianget didirikan karena di wilayah
kalianget terdapat banyak sekali petambak udang yang membutuhkan analisis
kualitas air. Pendiri laboratorium tersebut merupakan gabungan dari beberapa
pemilik tambak udang vaname. Pengujian yang dilakukan di Laboratorium
Mandiri meliputi pengukuran pH, salinitas, analisa Total Organic Matter (TOM),
Total Amonia Nitrogen (TAN), nitrit, bakteri, alkalinitas dan plankton.
Penulis mengangkat judul tentang Plankton, Total Organik Metter (TOM),
dan Total Bakteri Vibrio sp. karena sebelumnya tidak ada yang mengambil
parameter tersebut pada saat melakukan kegiatan PKL di Laboratorium Mandiri Kalianget. Kelimpahan plankton di dalam perairan tambak apabila fluktuasinya
tinggi dan total bakteri Vibrio sp. di dalam perairan juga tinggi maka dapat
mengakibatkan peningkatan bahan organik di dalam perairan tambak.
Kelimpahan total bakteri Vibrio sp. di dalam perairan tambak juga tergantung
terhadap keberadaan bahan organik di dalam perairan, hal tersebut sama halnya
dengan Yuspita et al., (2018) yang menjelaskan bahwasanya total bakteri Vibrio
sp. sangat erat kaitannya dengan kandungan bahan organik yang tersedia di
dalam kolom air karena bahan organik merupakan sumber nutrisi bagi bakteri.
Parameter tersebut perlu dilakukan analisa untuk mengetahui apakah
kelimpahan plankton, total bakteri Vibrio sp. dan total bahan organik di dalam
perairan tambak dapat mendukung laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup
udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang di budidayakan atau bahkan dapat
memberikan dampak yang negatif pada perairan tambak seperti terjadinya
blooming alga yang dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada
udang vaname (Litopenaeus vannamei).

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
KHOSNOL KHOTIMAH
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords PLANKTON; ORGANIC MATTER; BAKTERI Vibrio sp.; AIR TAMBAK; UDANG VANAME; LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:39
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5291

Actions (login required)

View Item
View Item