TRUNOJOYO-KP-23686-190311100073-ACH. HASIN SYAUQI#190311100073#AGROEKOTEKNOLOGI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan tanaman yang sudah
umum dibudidayakan di Indonesia, buah dari tanaman ini termasuk sayuran
yang digemari oleh setiap orang, ini dikarena rasanya yang enak, segar, dan
merupakan sumber vitamin. Kandungan gizi yang terdapat pada 100g buah
tomat mengandung protein 1 g, karbohidrat 4,5 g, lemak 0,3 g, kalsium 5 g,
fosfor 27 mg, zat besi 0,5 mg, vitamin A karoten 1500 SI, vitamin B tiamin
60 mg dan vitamin C 40 mg. Peranannya yang penting dalam pemenuhan gizi
masyarakat sudah sejak lama diketahui orang (Mardaus et al. 2019).
Produksi buah tomat di Jawa Timur pada tahun 2019 mencapai 4.645 ton.
Pada tahun 2020 produksi buah tomat mengalami kenaikan sekitar 465
kwintal dan mencapai 5.110 ton (BPS, 2021). Tomat di Indonesia juga
merupakan tanaman yang berumur pendek. Tanaman ini dapat hidup di
dataran rendah dan dataran tinggi dengan tanah yang tidak terlalu basah atau
tergenang air dimana ketinggian tanaman mencapai 2-3 meter. Syarat-syarat
yang perlu diperhatikan dalam pertumbuhan tanaman tomat yaitu tanah
gembur dan mengandung sedikit pasir, kadar keasaman antara 5-6, banyak
mengandung humus dan air yang cukup (Arrahma, 2010).
Untuk mendukung keberhasilan usaha budidaya tanaman tomat, maka
diperlukan pemilihan media tumbuh yang baik karena media tumbuh
merupakan faktor yang berpengaruh pada keberadaan air, suhu, bantuan
mekanisme unsur hara. Selain penggunaan media tumbuh, hormon tumbuh
juga dapat mendorong pertumbuhan. Pengaruh hormon tumbuh tergantung
pada cara pemakaiannya. Pemakaian hormon tumbuh dalam pengembangan
tanaman sudah banyak dikenal. Dalam penggunaannya, perlu diperhatikan
konsentrasinya, zat pembawanya, waktu penggunaan dan bagian tanaman
yang diperlukan. Hormon tumbuh dapat merangsang terbentuknya akar
adventif (Totong et al, 2016).
Polinasi atau penyerbukan tumbuhan merupakan proses menempelnya
serbuk sari di kepala putik. Proses polinasi pada Angiospermae memiliki
tahapan lepasnya serbuk sari dari bunga jantan, proses perpindahan serbuk sari dari kepala sari (anther) ke kepala putik atau stigma. Menurut Poehlman
(1959:373) ada beberapa jenis polinasi atau penyerbukan yaitu penyerbukan
sendiri (self pollination) dan Penyerbukan silang (cross pollination).
Penyerbukan sendiri ialah perpindahan serbuk sari dari anther ke stigma
dalam satu bunga atau perpindahan serbuk sari dari anther ke stigma dalam
satu tumbuhan sedangkan pernyerbukan silang antar tumbuhan yang berjenis
sama (Pratama, 2011).
Keberhasilan suatu persilangan pada suatu tanaman dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya pertumbuhan tanaman tetua, sinkronisasi waktu
berbunga. Kerontokan bunga sebelum atau setelah fertilisasi, rendahnya
produksi polen, polen tidak viabel, mandul jantan, dan self incompatibility
(Wiguna et al, 2019).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ACH. HASIN SYAUQI |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | POLINASI TANAMAN; TOMAT; BENIH TOMAT; CV. MERDEKA SEED TERUS BERKARYA MOJOKERTO |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:38 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5194 |
