TRUNOJOYO-KP-23672-180331100008-LAPORAN PKL WIDIA AGUSTINA.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Indonesia merupakan produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar
kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia
diperoleh dalam bentuk tempe sedangkan 40% dalam bentuk tahu, dan 10%
dalam bentuk lainnya. Konsumsi tempe rata-rata pertahun di Indonesia saat ini
sekitar 6,45 kg/orang. Produksi kedelai Indonesia hanya mencapai 779.740 ton
atau 29 persen dari total kebutuhan nasional, sedangkan total kebutuhan kedelai
nasional mencapai 2,2 juta ton. Akibatnya, setiap tahun Indonesia harus
mengimpor kedelai sebanyak 2.087.986 ton untuk memenuhi 71% kebutuhan
kedelai dalam negeri. Sebagai sumber bahan pangan, tempe merupakan salah
satu makanan pokok yang dibutuhkan oleh tubuh (Winarno 1985). Peningkatan
permintaan produk pertanian yang begitu cepat dan adanya persaingan maka
diperlukan inovasi terhadap produk olahan yang terus menerus dalam hal jenis,
bentuk, kemasan, teknik pemasaran maupun mutu produk yang dihasilkan secara
terpadu. Industri juga dituntut untuk menyediakan produk pangan yang menarik,
bergizi, aman dan memiliki harga jual yang terjangkau dikalangan masyarakat.
Tempe banyak diminati oleh masyarakat selain dari harganya yang murah
dan juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Kandungan yang ada pada
tempe antara lain kalsium, fosfor, zat besi, vitamin dan karoten. Tempe
mempunyai daya simpan yang singkat dan akan segera membusuk selama
penyimpanan. Hal ini disebabkan oleh proses fermentasi lanjut, menyebabkan
degredasi proten lebih lanjut sehingga terbentuk amoniak. Amoniak yang
terbentuk menyebabkan munculnya aroma busuk. Umumnya, masyarakat
Indonesia mengkonsumsi tempe sebagai panganan pendamping nasi. Dalam
perkembangannya, tempe diolah dan disajikan sebagai aneka panganan siap saji
yang diproses dan dijual dalam kemasan. keripik tempe, misalnya adalah salah
satu contoh panganan popular dari tempe yang banyak dijual di pasar.
Keripik tempe merupakan makanan tradisional yang terbuat dari tempe,
yang bahan dasarnya kedelai sehingga memiliki cita rasa yang khas. Keripik
tempe mempunyai bentuk yang tipis sehingga dapat menghasilkan tekstur yang
renyah karena menggunakan bahan tepung yang sudah dibumbui sedangkan rasanya itu gurih. Di Indonesia keripik tempe biasanya diolah dengan berbagai
rasa maupun bentuk yang berbeda-beda sehingga setiap daerah bisa memiliki ciri
khasnya masing – masing. Keripik tempe termasuk makanan yang sudah tersebar
luas hampir merata di Pulau Jawa.
Produk keripik tempe yang disimpan terlalu lama dapat menyebabkan
terjadinya penurunan beberapa mutu, sehingga dapat menurunkan umur simpan
produk. Kerusakan pada produk keripik tempe juga disebabkan oleh ketengikan
akibat terjadinya oksidasi lemak. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menghambat ketengikan dan perubahan tekstur yaitu dengan adanya pememilih
pengemasan yang tepat.
UMKM Keripik Tempe Rohani adalah salah satu UMKM unggulan
yang ada di kota Malang dan tempatnya berada di daerah Sentra Keripik Sanan.
UMKM Keripik Tempe Rohani sudah berdiri sejak tahun 1988 dan
menghasilkan produk olahan makanan berupa keripik tempe yang mempunyai
berbagai macam rasa. Tidak hanya berupa keripik tempe tetapi juga
menghasilkan produk sampingan seperti keripik buah, keripik singkong dan
keripik ubi ungu. Sektor pemasaran yang dipakai yaitu dipasarkan di daerah
malang dan luar malang.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM WIDIA AGUSTINA |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | PROSES PRODUKSI; KERIPIK TEMPE; UMKM |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:37 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5166 |
