TRUNOJOYO-KP-23660-190311100109-LAILATUS SHOFA 190311100109 AGROEKOTEKNOLOGI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (711kB)
Abstract
Kelengkeng (Dimocarpus longan L.) berasal dari dataran Cina, tetapi
beberapa ahli botani percaya bahwa tanaman ini berasal dari India, dan juga
banyak dibudidayakan di Thailand, Vietnam, Cina, Malaysia, dan Indonesia.
Beberapa jenis lengkeng lokal yang saat ini tumbuh di Indonesia: lengkeng
batu lokal, lengkeng celarong lokal dan lengkeng mutiara lokal. Ada dua jenis
lengkeng yang tumbuh di Indonesia: lengkeng local dan lengkeng impor
(Muhfid dkk, 2015). Pasar utama tanaman kelengkeng yakni pasar
internasional, regional, dan Kawasan dalam negeri. Artinya, pasar dan
konsumen buah di kawasan regional dan bahkan dalam negeri pun dapat
dibudidayakan untuk pasokan buah dalam negeri. Diameter batang tanaman
lengkeng mencapai 1m dan tinggi mencapai 40m (Muhfid dkk, 2015).
Buah kelengkeng memiliki banyak khasiat mulai dari kulit buah, daging
buah, bahkan bijinya. Sejak zaman dahulu hingga saat ini, daging buah
kelengkeng kering digunakan di dalam teknik pengobatan China. Ekstrak air
kulit buah kelengkeng mengandung senyawa anti-oksidan dan anti-inflamasi
sedangkan ekstrak biji buah kelengkeng mengandung senyawa anti-mikrobia
yang berasal dari senyawa fenolik. Buah kelengkeng memiliki kandungan
nutrisi yang melimpah sehingga tidak heran apabila buah ini mempunyai
banyak manfaat bagi keshatan manusia.(Budi dkk, 2015)
Salah satu alternatif yang dapat ditemukan untuk meningkatkan
pengelolaan kebun khususnya buah lengkeng adalah dengan menggunakan
benih bermutu melalui perbanyakan vegetatif dengan cara sambung pucuk.
Untuk penyambungan pucuk lengkeng, rimpang biasanya diperoleh dari biji,
dan entrenya dipilih sesuai dengan jenis tanaman yang produktif dan cepat
berbuah. Sambung pucuk merupakan cara menanam dua tanaman yang
berbeda jenis dengan cara menggabungkannya menjadi satu tanaman
(Suwandi, 2009). Sambung pucuk dapat menghasilkan bibit yang berkualitas
tinggi dengan karakteristik yang sama dengan tetuanya. Metode perbanyakan
vegetatif seperti sambung pucuk menghasilkan benih yang mempertahankan sifat unggul induknya (pohon induk). Upaya umtuk menghasilkan buah
kelengkeng yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit dan
varietasnya. Hal ini dikarenakan benih yang berkualitas dan varietas yang baik
dapat meningkatkan hasil. Perbanyakan vegetatif suatu tanaman dengan cara
sambung pucuk dapat menghasilkan biji lengkeng dalam jumlah yang banyak
dan memiliki karakteristik yang mirip dengan tanaman induk yang digunakan
sebagai batang atas (entres) (Suwandi, 2009).
Keunggulan dari sambung pucuk dantaranya adalah memiliki kesamaan
akan sifat-sifat klon, memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya
tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, temperatur yang
rendah, atau gangguan lain yang terdapat dalam tanah, memperbaiki jenis-jenis
tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak diinginkan diubah
dengan jenis yang dikehendaki, dapat mempercepat berbuahnya tanaman
(Savitri dan Afrah, 2019). Dalam Teknik sambung pucuk sering sekali terjadi
masalah yang timbul dimana pada proses penyungkupan terjadinya
pengguguran daun pada pertautan antara batang atas dana batang bawah. Daun
merupakan sumber karbohidrat yang diperoleh dari hasil fotosintesis yang
berguna untuk proses penyembuhan luka dan pertautatn antara batang atas dan
batang bawah, sehingga daun sangat berperan penting dalam keberhasilan
sambung pucuk, hal ini juga sejalan dengan pendapat perompesan entres tidak
dilakukan karena akan memperlambat pertumbuhan hasil sambungan (Savitri
dan Afrah, 2019).
Perbanyakan tanaman ecara vegetatif ini banyak dilakukan dengan
berbagai cara yaitu cangkok, setek, okulasi, dan sambungan. Salah satu
Perusahaan yang menerapkan perbanyakan secara vegetatif maupun generatif
adalah CV. Agro Utama Mandiri Lestari. Perbanyakan vegetatif tanaman
kelengkeng melalui teknik sambung pucuk terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan sambungan (Tambing,2008). oleh sebab itu dalam
kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) ini perlu diketahui bagaimana teknik,
faktor yang mempengaruhi keberhasilan, serta permasalahan dan potensi
sambung pucuk (grafting) pada tanaman kelengkeng (Dimocarpus longan) di
CV. Agro Utama Mandiri Lestari.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM LAILATUS SHOFA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PERBANYAKAN TANAMAN; VEGETATIF BIBIT; KELENGKENG ; SAMBUNG PUCUK; CV. AGRO UTAMA MANDIRI LESTARI |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:37 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5140 |
