TRUNOJOYO-KP-23656-190311100008-An Nisa Fitri Wahyu Utami#190311100008#Agroekoteknologi.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman asli dari
benua Afrika khususnya wilayah Tanzania dan Kenya sejak 4000 tahun sebelum
masehi (Xu et al., 2013) dan sudah banyak dikembangkan di berbagai negara
termasuk di Indonesia. Tanaman kenaf termasuk salah satu tanaman penghasil
serat alam dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sehingga dapat
digunakan sebagai bahan baku berbagai produk tekstil. Serat kenaf juga dapat
dimanfaatkan untuk pulp dan kertas, bahan baku pakan, berpotensi untuk
industri bioplastik dan biokomposit (Bourguignon, 2016), bahan baku bioenergi
(Saba et al., 2015), bahan baku pangan (Giwa Ibrahim et al., 2019) serta obat
tradisional (Ayadi et al., 2017). Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan
tanaman penghasil serat, selain untuk bahan baku kemasan produk-produk
pertanian/perkebunan, serat kenaf dapat dijadikan bahan baku berbagai produk,
seperti : kertas, karung goni, pelapis dinding, interior mobil, geotekstil, fiber drain
(saluran serat), particle board (papan partikel), dan reinforcement plastic (plastik
penguat) (Pranoto, 2016).
Kontribusi serat kenaf memiliki masa depan yang menjanjikan secara
ekonomi, namun produksi serat dari proses teknik budidaya tanaman kenaf
belum optimal. Berdasarkan data produksi kenaf dunia menunjukkan bahwa
produksi kenaf mengalami penurunan sekitar 13% dari 245,5 ribu ton pada tahun
2014/2015 menjadi 212,1 ribu ton pada tahun 2017/2018. Produksi kenaf di
Indonesia pada tahun 2017/2018 hanya mencapai 3,4 ribu ton (FAO, 2019).
Rendahnya produksi tanaman kenaf disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan
dan persentase perkecambahan benih kenaf (Hidayah dan Marjani, 2018).
Permasalahan rendahnya produksi kenaf yang ada di Indonesia perlu dilakukan
penanganan dengan meningkatkan produktivitasnya. Salah satunya upaya yang
dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan benih tanaman yang bermutu
sehingga dapat menimimalisir kerugian yang dialami oleh petani. Untuk memiliki
standar mutu benih yang baik dapat diperoleh dengan melakukan pengujian
mutu benih tanaman. Pengujian benih merupakan penilaian secara objektif
mengenai mutu benih yang diproduksi atau diedarkan. Pengujian benih penting
untuk dilakukan untuk mengetahui informasi maupun kualitas dari benih tersebut
(Widajati et al., 2013).
Pengujian mutu benih terdiri atas empat komponen yaitu mutu fisik, mutu
fisiologi, mutu genetik, dan mutu kesehatan benih. Benih yang bermutu fisik
tinggi terlihat dari penampilan fisiknya yang bersih, cerah, bernas, dan berukuran
seragam. Mutu fisiologis benih tercermin dari nilai viabilitas (seperti daya
berkecambah) dan nilai vigor (seperti kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh,
dan daya simpan). Mutu genetik ditunjukkan dengan keseragaman genetik yang
tinggi dan tidak tercampur varietas lain (Widajati et al., 2012). Benih bermutu
tinggi dicirikan oleh mutu fisik baik, kemurnian spesies tinggi, daya berkecambah
dan vigor tinggi, ukuran seragam, bebas dari biji gulma dan penyakit seedborne,
serta kadar air optimal. Untuk mendapatkan benih bermutu tinggi diperlukan
pengawalan mutu benih sejak tanam hingga panen, prosesing, dan
penyimpanan. Parameter utama mutu benih adalah kemurnian benih, kadar air
dan daya berkecambah. Ketiga parameter tersebut dipengaruhi oleh faktor
genetik, lingkungan, dan status benih (Sundari dan Ratri, 2018).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM AN NISA FITRI WAHYU UTAMI |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | STANDAR MUTU; BENIH KENAF; BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN (BBPPTP) SURABAYA |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:37 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5134 |
