TRUNOJOYO-KP-23640-190311100071-Alifia Aden Avisena#190311100071#Agroekoteknologi.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (5MB)
Abstract
Tanaman sawi termasuk dalam famili Brassicaceae yang masih satu famili
dengan tanaman kubis, lobak, dan brokoli yang memiliki ciri khusus yaitu terdiri
atas susunan empat kelopak bunga yang berbentuk seperti tanda silang
(Khotimah et al, 2020). Sawi tergolong pada tanaman semusim yang memiliki
batang pendek dan langsing serta berakar tunggang yang dangkal (Sunarjono
dan Nurrohmah, 2018). Tanaman sawi banyak dibudidayakan di Indonesia
karena mengandung karbohidrat, lemak, protein, kalsium, fosfor, besi serta
vitamin A, B, dan C yang dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan rasa gatal
tenggorokan, obat sakit kepala, obat batuk, anti hipertensi, dan mengobati
penyakit jantung (Khotimah et al, 2020).
Sawi hijau termasuk ke dalam sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang
tinggi dan populer di Indonesia. Sawi dikonsumsi mulai masyarakat kelas bawah
hingga kelas atas sehingga tingkat konsumsi sawi hijau dari hari ke hari semakin
meningkat karena kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi
sayuran (Wijiyanti, 2019). Konsumsi sawi di Indonesia terus meningkat per kapita
per tahunnya. Pada tahun 2011-2012 mencapai 1,251 kg, meningkat di tahun
2013 menjadi 1,304 kg, kemudian meningkat hingga 1,422 kg pada tahun 2014,
dan terus meningkat menjadi 2,086 kg pada tahun 2015. Namun, tingginya
tingkat konsumsi sawi hijau tidak diimbangi dengan tingkat produksi sawi di
Indonesia (Andriani et al, 2018).
Maghfiroh et al (2016) menyatakan bahwa produksi sawi hijau dari tahun
2010-2014 cenderung tidak stabil dan bahkan turun signifikan pada tahun 2014
jika dibandingkan dengan produksi sawi pada tahun 2013. Penurunan produksi
sawi hijau tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dalam pertanian konvensional.
Menurut Cholisoh et al (2018), Penggunaan pupuk anorganik dalam jangka
panjang dapat berpengaruh negatif terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Anjarwati et al (2017) menyatakan bahwa, bahan organik dapat menjadi salah
satu opsi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dalam
budidaya sawi hijau.
Penggunaan bahan organik sebagai input budidaya guna meningkatkan
kualitas dan kuantitas produk dapat dicapai melalui pertanian organik. Pertanian organik dapat mengantisipasi penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan
karena salah satu syarat dalam kegiatan usahatani pertanian organik adalah
penggunaan bahan organik (Utami dan Handayani, 2003). Pertanian organik
sendiri didefinisikan sebagai kegiatan usaha tani yang menggunakan input dari
bahan alami tanpa bahan kimia khususnya penggunaan pupuk, pestisida, dan
benih hasil rekayasa genetik (Kardinan, 2011).
Dalam pertanian organik media tanam mutlak diperlukan sebagai
penunjang pertumbuhan tanaman. Media tanam memiliki fungsi sebagai tempat
melekatnya akar dan penyedia hara. Media tanam dapat diperbaiki melalui
pemberian bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, dan lain-lain. Bahan
organik memiliki potensi untuk menyimpan air dan memiliki banyak pori yang
kaya akan udara. Media tanam yang diberi bahan organik memiliki pertumbuhan
tanaman sawi yang lebih baik dibandingkan tanpa bahan organik karena
komposisi tanah dan bahan organik dapat menyediakan nutrisi yang lebih baik
untuk tanaman sawi (Agustien dan Suhardjono, 2016). Selain itu, sayuran yang
dibudidayakan secara organik dipercaya memiliki banyak kelebihan yaitu
mengandung lebih banyak antioksidan dan nutrisi seperti zat besi, magnesium,
fosfor, mineral, vitamin C, dan phytonutriens yang dapat melawan kanker
(Fazrina et al, 2013).
Bahan organik yang dapat digunakan sebagai media tanam sawi adalah
pupuk kandang kambing, pupuk organik cair (POC) urine kelinci, sekam, dan
arang sekam. Ketersediaan keempat bahan limbah pertanian tersebut sangat
melimpah dan mudah didapatkan. Pemberian pupuk kandang kambing pada
tanah dapat meningkatkan daya ikat air, membentuk pori-pori mikro, dan
menambah unsur hara pada tanah (Walida et al, 2002). Urin kelinci dapat
dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair karena kandungan nitrogen, fosfor, dan
kalium yang lebih banyak dibandingkan urin sapi dan urin kambing. Urin kelinci
juga dapat digunakan sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroba tanah
sehingga meningkatkan aktivitas mikroba tanah untuk menyediakan hara bagi
tanaman (Hartini et al, 2019). Sekam padi berfungsi untuk meningkatkan
kapasitas tahan air, drainase, dan aerasi. Sedangkan arang sekam dapat
memperkuat tubuh tanaman karena mengandung Nitrogen dan Kalium (Sari dan
Fasta, 2020).
Informasi komposisi bahan organik sebagai media tanam sawi organik
belum dipraktikkan dalam budidaya. Sehingga diperlukan praktik aplikasi pengunaan beberapa bahan organik. Penambahan keempat bahan organik
tersebut diharapkan mampu menciptakan komposisi media tanam yang tepat
untuk meningkatkan hasil produksi sawi secara organik. Adanya Praktik Kerja
Lapang mengenai aplikasi bahan organik pada budidaya sawi hijau secara
organik ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan mahasiswa terkait
budidaya sawi hijau secara organik serta efek dari penambahan bahan organik
pada media tanam sawi hijau serta sebagai masukan bagi CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm untuk mendapatkan komposisi media tanam yang paling baik untuk
pertumbuhan tanaman sawi hijau.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ALIFIA ADEN AVISENA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | MEDIA TANAM; SAWI HIJAU; ORGANIK; KEBUN KURNIA KITRI AYU FARM MALANG |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:36 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5104 |
