TRUNOJOYO-KP-23639-190311100048-Siti Ayu Amaliatus Solicha#190311100048#Agroekoteknologi.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract
Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman jenis sayuran yang berasal dari
Amerika Tropik. Bayam awalnya dikenal sebagai tanaman hias, namun dalam
pengembangannya bayam diketahui sebagai bahan pangan dengan sumber protein
seperti, vitamin A, vitamin B, dan vitamin C serta mempunyai kandungan garam
seperti kalsium, besi dan fosfor (Sunarjono, 2014). Salah satu jenis bayam yang
banyak dibudidayakan adalah bayam hijau yaitu sayuran daun yang memiliki nilai
gizi yang tinggi dan banyak disukai oleh kalangan masyarakat. Bayam hijau memiliki
ciri bercabang, daun dan batang berwarna hijau muda serta (herbaceous)
mengandung banyak air dengan perakaran tunggang dan biji berwarna hitam.
Bayam hijau siap dipanen antara 20-30 hari (Sunarjono, 2006).
Bayam hijau merupakan tanaman semusim yang tergolong sebagai tanaman
yang mampu mengikat gas CO2 dan tanaman C4 (Setya, 2011). Tanaman ini
merupakan salah satu sumber protein nabati dan selain itu sayuran daun bayam
digunakan sebagai obat untuk memperbaiki system kerja ginjal. Dengan kandungan
39,9 g protein, 2,4 mg besi, 358 mg kalsium, 62 mg vitamin C, 0,8 mg seng setiap
100 g daun bayam (Zuryanti et al., 2016), hal ini membuat tanaman bayam hijau
menjadi salah satu sayuran yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 total luas panen bayam di
Indonesia mencapai 45.914 ha dengan hasil produksi sebesar 157.024.00 ton/tahun
namun, pada tahun 2019 tanaman bayam hijau mengalami peningkatan hasil
produksi sebanyak 160.306,00 ton/tahun artinya berkurang sebanyak 3.282.00 ton
dalam kurun waktu setahun. Penurunan hasil produksi juga dirasakan oleh CV
Kurnia Ayu Kitri Farm usaha tani sayur dan buah organik di Kota Malang, dari data
produksi pada tahun 2020 ke 2021 mengalami penurunan yang cukup drastis akibat
permintaan pasar yang semakin sedikit karena pandemi covid-19 disamping itu
disebabkan oleh penggunaan media tanam yang tidak bisa menunjang bayam hijau
tumbuh dengan optimal. Kurnia Ayu Kitri Farm telah menggunakan pupuk kandang
kambing, tanah, dan sekam padi sebagai media tanam namun, belum bisa
menghasilkan produksi yang maksimal.
Upaya untuk dapat meningkatkan produksi bayam hijau organik diantaranya
dengan pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan percobaan melalui
pencampuran media tanam organik seperti pupuk kandang kambing, arang sekam,
sekam padi dan urine kelinci dengan perbandingan yang berbeda-beda. Budidaya
bayam hijau secara organik dilakukan dengan menggunakan pupuk organik yang
berasal dari kotoran hewan dan tumbuhan yang bermanfaat untuk meningkatkan
bahan organik dan kandungan hara serta memperbaiki sifat kimia, fisik dan biologi
tanah (Permentan No. 70/Permentan/SR.140/10/2011).
Media tanam adalah faktor penting dalam pertumbuhan, menurut
Wuryaningsih (2008) dalam Florentia Bui (2015) media tanam berfungsi sebagai
tempat melekatnya akar, agar tajuk tanaman dapat berdiri dengan tegak serta
sebagai sarana bagi kehidupan tanaman. Media tanam yang baik harus murah,
ringan, gembur dan kaya unsur hara (Pastowo dan Roshetko, 2006). Bahan media
tanam dapat berupa kombinasi beberapa bahan dengan syarat harus berfungsi
sebagai tempat tumbuh yang baik. Kombinasi tepat dalam budidaya pertanian
organik adalah dengan menggunakan pupuk organik sebagai input produksi.
Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang kambing yang memiliki
keunggulan yaitu menurut Parnata (2010) kotoran kambing mengandung kalium dan
nitrogen yang tinggi jika dibandingkan dengan kotoran sapi. Selain itu terdapat arang
sekam yang berfungsi untuk memperbaiki sifat aerase dan porositas tanah serta
pengikat hara ketika tanaman kelebihan hara dan akan dilepaskan ketika tanaman
kekurangan unsur hara, sedangkan sekam padi menurut Florentia Bui (2015)
bermanfaat dalam peningkatan pH tanah. Pupuk cair urine kelinci berperan sebagai
sumber makanan dan energi bagi mikroba dalam tanah yang mengakibatkan
tersedianya unsur hara tanaman seperti nitrogen, kalium dan fosfor yang
kandungannya lebih banyak dibandingkan dengan urine kambing dan sapi
(Maspray,2011). Peranan nitrogen dibutuhkan tanaman untuk membantu
pembentukan bagian vegetative tanaman seperti batang, akar, batang dan berfungsi
sebagai pembentuk klorofil dalam proses fotosintesis.
Penggunaan pupuk organik sebagai input produksi diharapkan dapat
mempercepat pertumbuhan dan perkembangan bayam hijau. Demikian, hal ini harus
didukung dengan komposisi media tanam yang tepat untuk menunjang produksi
bayam hijau di Kurnia Kitri Ayu Farm. Komposisi media tanam yang dimaksud berkaitan dengan nutrisi yang dibutuhkan bayam hijau agar tetap berproduksi.
Permasalahannya adalah belum diketahui komposisi media tanam yang tepat dalam
proses produksinya. Oleh karena itu, melalui kegiatan Praktik Kerja Lapang di Kebun
Kurnia Kitri Ayu Farm Malang menyediakan tempat dan fasilitas yang berkaitan
dengan teknik budidaya bayam hijau serta percobaan mengenai perbedaan
komposisi media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam hijau secara
organik. Melalui kegiatan Praktik Kerja Lapang ini mahasiswa diharapkan dapat
memperoleh ilmu pengetahuan, mempelajari serta menerapkan teori dalam bangku
perkuliahaan terkhusus pada kajian yang akan dilakukan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM SITI AYU AMALIATUS SOLICHA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN; BAYAM HIJAU; MEDIA TANAM; KEBUN KURNIA KITRI AYU FARM |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:36 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5103 |
