TRUNOJOYO-KP-23617-190311100019-Mesi Khodijah Murtadlo#190311100019#Agroekoteknologi.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) menjadi bahan utama
pembuatan gula yang permintaannya terus meningkat setiap tahunnya dan
termasuk dalam komoditas tanaman perkebunan yang mempunyai peran
strategis dalam perekonomian di Indonesia. Pada upaya pemenuhan kebutuhan
nasional memiliki permasalahan yakni menurunnya produktivitas tebu
terutama di Pulau Jawa (Hakim, 2010). Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (2020), data produksi gula mengalami penurunan dari tahun 2016
sampai dengan tahun 2020. Pada tahun 2020 produksi gula yakni 2,12 juta
ton, mengalami penurunan sebesar 55,32 ribu ton (4,65 %) jika dibandingkan
tahun 2019. Tingkat produksi berkaitan erat dengan ketersediaan air. Tanaman
tebu memerlukan banyak air, namun bukan tergolong tanaman air (Ardiansyah
dan Purwono, 2015).
Tanaman tebu merupakan tanaman yang membutuhkan banyak air pada
fase vegetatif tetapi membutuhkan kondisi kering sebelum panen. Tanaman
tebu dapat bertahan hingga musim panen tiba dengan cukup mengandalkan air
hujan. Namun, kuantitas suplai air pada tanaman tebu memiliki pengaruh pada
kualitas tebu yang akan dipanen (Tavano, 2018). Berdasarkan Tando (2017),
tidak tersedianya air pada salah satu fase pertumbuhan dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan produktivitas tebu seperti perkecambahan benih yang tidak
optimal dan ruas tebu yang cenderung memendek atau mengalami stagnasi,
sehingga produktivitas tebu menjadi rendah.
Persiapan lahan yang baik juga akan berpengaruh besar terhadap
pertumbuhan dan produktifitas tanaman tebu. Budidaya tebu dapat dilakukan
pada dua tipe lahan yakni lahan sawah dan lahan tegalan. Kondisi tanah yang
dikehendaki pada tanaman tebu yakni tanah yang tidak terlalu kering dan tidak
terlalu basah. Pengairan dan drainase pada lahan tebu penting untuk
diperhatikan dikarenakan akar dari tanaman tebu sangat sensitif terhadap
kekurangan udara dalam tanah (Tando, 2017). Perbedaan lingkungan tumbuh
tanaman tebu pada tipe lahan yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan
pada karakteristik pertumbuhan agronomis tanaman tebu. Lahan sawah irigasi relatif akan memiliki karakteristik pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan
pertumbuhan tebu pada lahan tegalan. Keterbatasan sumberdaya lahan
(lingkungan) mengakibatkan dalam budidaya tebu harus dilakukan dengan
tata cara yang baik dengan menyesuaikan terhadap lingkungannya
(Ardiyansyah dan Purwono, 2015).
Pemilihan lahan dan pengelolaannya akan mempengaruhi pertumbuhan
tanaman tebu. Pengelolaan lahan dan air penting dilakukan dalam
menciptakan lingkungan tumbuh yang sesuai bagi tanaman tebu mulai dari
awal pertumbuhan hingga pemanenan, sehingga diperoleh lahan yang optimal
untuk budidaya tebu. Dengan demikian praktik kerja lapang di PT. PG Candi
Baru Sidoarjo mengenai pengelolaan lahan dan air yang tepat sangat perlu
dipelajari untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi dengan kualitas yang
unggul.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MESI KHODIJAH MURTADLO |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR; TEBU |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:35 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/5053 |
