TRUNOJOYO-KP-23568-180311100082-Laporan PKL_Moh. Hendri Aliansyah.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Tebu merupakan sejenis rerumputan seperti halnya tanaman padi yang di
kelompokkan kedalam famili graminiae. Tanaman tebu juga termasuk tanaman
semusim, karena waktu untuk menghasilkan produksi gulanya itu bisa mencapai
11-12 bulan. Berbagai penelitian terhadap komoditas tebu maupun gula sudah
banyak dilakukan, mengingat gula merupakan komoditas strategis dan sangat
penting peranannya bagi perekonomian Indonesia. Batang tebu dimanfaatkan
terutama sebagai bahan dasar utama dalam industri gula dan bahan baku industri
lainnya seperti farmasi, kimia, pakan ternak, pupuk, jamur, dan lain-lain.
Problem pada tanaman tebu di Indonesia yang saat ini sering terjadi adalah
pada produksinya yang belum dapat memenuhi kebutuhan gula nasional, padahal
potensinya sangat besar karena perluasan pertanaman masih dimungkinkan dan
perbaikan teknik budidaya dan benih dapat dilakukan. Sehingga perlu
diadakannya proses perbanyakan pada tanaman tebu tersebut agar dapat
meminimalisir problematika yang ada saat ini.
Perbanyakan tebu dengan teknik kultur jaringan tanaman (KJT) bisa
menyebabkan variasi genetik yang disebabkan oleh pelaksanaan sub kultur
berulang-ulang. Dimana tahapan-tahapannya yaitu mencakup isolasi meristem,
pembuatan media, multiplikasi tunas, aklimatisasi satu dan aklimatisasi dua.
Semua tahapan itu sangatlah penting dalam proses perbanyakan tanaman tebu.
Oleh karena itu, dikarenakan sama pentingnya dalam tahapan-tahapannya, pada
pemilihan topik kali ini lebih difokuskan terhadap proses aklimatisasi satu. Karena
pada aklimatisasi satu inilah nantinya yang menjadi penentu pada tahapan
selanjutnya yaitu pada proses aklimatisasi dua yaitu pada proses pembesarannya
hingga sampai pada lahan yang luas.
Aklimatisasi merupakan adaptasi planlet dari lingkungan yang terkendali
(in vitro) ke lingkungan in vivo sebelum ditanam di lapangan (Husni et al. 2004).
Dalam aklimatisasi ada masanya yang disebut dengan masa aklimatisasi. Masa
aklimatisasi ialah masa dimana pucuk atau planlet yang diregenerasikan dari
kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat yang kurang menguntungkan seperti
lapisan lilin (kutikula) tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata
sering sekali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan
ini menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap transpirasi, serangan
candawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas yang tinggi dan suhu yang tinggi.
Karakterisasi hasil bibit kultur jaringan tanaman (KJT) yang dilakukan
pada tahap aklimatisasi merupakan langkah penting yang harus dilakukan dengan
tujuan untuk memastikan bahwa varietas baru yang diperoleh telah sesuai dengan
yang di inginkan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MOH. HENDRI ALIANSYAH |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | KARAKTERISASI DAN AKLIMATISASI; BIBIT TANAMAN; TEBU; BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:33 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:49 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/4936 |
