PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KRISAN (Chrysanthemum spp.) DI CV. SEKARTIKA JATI KENCANA, KOTA BATU

NOVA RIZQI AMELIA (2022) PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KRISAN (Chrysanthemum spp.) DI CV. SEKARTIKA JATI KENCANA, KOTA BATU. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-23566-190311100088-Laporan PKL_Nova Rizqi Amelia_190311100088.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-23566-190311100088-Laporan PKL_Nova Rizqi Amelia_190311100088.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam, baik kekayaan
flora maupun fauna. Dewasa ini, masyarakat dunia termasuk Indonesia mulai
menggunakan obat dari bahan alami. Salah satu sumberdaya hayati tersebut adalah
tanaman bunga krisan (Chrysanthemum spp.). Krisan merupakan salah satu
tanaman dalam kelompok tanaman hias yang sangat populer di Indonesia. Bunga
krisan juga dikenal dengan sebutan aster atau seruni. Krisan telah lama dikenal dan
banyak diminati oleh masyarakat karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Tanaman krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
memiliki peluang yang cukup besar di Indonesia. Permintaan bunga krisan potong
terus mengalami peningkatan, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Produksi
bunga krisan potong di Indonesia menempati urutan terbesar pertama yaitu
mencapai 383.466.100 tangkai pada tahun 2020 (BPS, 2020). Permintaan bunga
Krisan biasanya akan mengalami kenaikan pada hari-hari besar tertentu seperti hari
besar keagamaan dan hari besar nasional lain (Swasti et al., 2014).
Bunga krisan memiliki keragaman bentuk (baik bunga maupun daunnya),
jenis, dan warna bunga yang menarik. Disamping itu, krisan merupakan bunga yang
mudah dirangkai serta memiliki tingkat kesegaran yang relatif lama. Keunggulan
lain dari tanaman krisan ini adalah pembungaan dan panen yang dapat diatur
menurut kebutuhan pasar. Tanaman krisan umumnya dibudidayakan dalam bentuk
bunga potong maupun ditanam di dalam pot (Hanudin et al., 2014). Sebagai bunga
potong, krisan dapat dijadikan sebagai bahan dekorasi ruangan dan rangkaian bunga
pada acara-acara seperti acara pernikahan. Sedangkan krisan dalam pot biasanya
dimanfaatkan sebagai penghias taman.
Menurut Setiawati et al (2019), selain digunakan sebagai tanaman hias,
bunga krisan memiliki banyak manfaat lain diantaranya sebagai tanaman obat,
kuliner, (etno) farmakologis, dan bahan biopestisida. Pemanfaatan krisan dalam
bidang kuliner biasa dikemas dalam bentuk teh (Hariyati et al.,2016). Daun krisan
dapat diolah menjadi kudapan seperti permen, keripik, dan minuman instant
(Wanita et al, 2014). Adapun bunga, daun, dan batang tanaman krisan dapat
berpotensi sebagai zat pewarna alami pada kain sutera (Listyani dan Widiawati, 2013). Kandungan pada hampir semua bagian tanaman krisan dapat digunakan
untuk bahan obat. Pada bagian batang, daun, dan bunga tanaman krisan dapat
dimanfaatkan untuk mengobati flu, sakit mata, batuk, sakit kepala akibat sinusitis,
membantu detoksifikasi, membantu menyembuhkan nyeri perut, gangguan
pernapasan, serta diare.
Permasalahan utama yang dihadapi dalam usahatani krisan adalah
serangan hama dan penyakit yang dapat menyebabkan penurunan kualitas maupun
kuantitas pada hasil panen. Kutu daun, ulat grayak, dan thrips merupakan hama
penting yang sering ditemukan pada pertanaman krisan. Serangan ulat grayak, kutu
daun, dan thrips terutama pada daun, tunas yang telah tumbuh maupun pada bunga
dapat menurunkan nilai jual produk dan penundaan panen tanaman krisan (Lala dan
Max 2019).
Penyakit karat putih merupakan penyakit penting yang terdapat pada
tanaman krisan. Karat putih ini menyerang daun sejak dari pembibitan hingga
panen. Penyakit karat pada tanaman krisan disebabkan oleh cendawan Puccinia
horiana dan Puccinia chrysanthemi. Cendawan tersebut dapat menurunkan
kesegaran bunga krisan (vase-life) yang umumnya pada bunga sehat tanpa cacat,
kesegarannya dapat bertahan hingga 12 hari pada suhu 27–29°C (Hanudin et al.,
2012). Namun, pada bunga yang telah terinfeksi kesegarannya menjadi hanya 5
hari. Apabila tingkat serangannya berat, dapat menyebabkan daun menggulung,
mengkerut dan mengering. Jika serangan terjadi saat bunga belum mekar, bunga
akan gagal mekar atau mekar terlambat dan ukurannya menjadi kecil.
Berbagai upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit karat putih
pada tanaman krisan, diantaranya melalui penggunaan vaerietas toleran, kultur
teknis (perompesan daun terinfeksi dan pengaturan penyiraman), serta
pengaplikasian pestisida kimia sintetis secara terjadwal. Oleh karena itu, dilakukan
pengamatan secara berkala terhadap hama dan penyakit penting pada tanaman
krisan di CV. Sekartika Jati Kencana.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
NOVA RIZQI AMELIA
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT; KRISAN
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 12:33
Last Modified 24 Oct 2026 16:49
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/4934

Actions (login required)

View Item
View Item