TRUNOJOYO-KP-23541-190351100016-190351100017 LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia,
dimana indonesia memiliki 17.000 pulau yang terdiri dari pulau kecil sampai
dengan pulau besar, hal ini yang membuat indonesia di juluki sebagai negara
maritim. Selain itu indonesia juga mempunyai garis pantai yang panjang yakni,
garis pantai Indonesia adalah 81.000 km, dengan garis pantai ini banyak
masyarakat indonesia khususnya masyarakat pesisir yang menggantungkan
hidupnya pada lingkungan pesisir (Asiyah dan Gamal, 2015). Kawasan pesisir
merupakan kawasan yang mempunyai potensi yang sangat besar, adanya
potensi di wilayah pesisir ini yang akan menjadi permasalahan besar jika tidak
ada pengelolaan secara baik, baik oleh masyarakat ataupun pemerintah, maka
dari itu hal ini menjadi ancaman serius bagi kelestarian kawasan pesisir, apabilah
tidak ada pengelolaan yang baik dan benar(Asiyah dan Gamal, 2015)
Pada wilayah pantai pastinya kita dapat menjumpai suatu ekosistem
mangrove yang mempunyai jenis yang beragam. Hutan mangrove itu sendiri
merupakan suatu ekosistem tum buhan pesisir yang selalu dipengaruhi oleh
pasang surut air laut. Hutang mangrove tumbuh berbatasan dengan daratan dan
jangkauan air laut dengan pasang tertinggi, dan ekosistem mangrove merupakan
daerah peralihan yang pastinya dipengaruhi oleh darat dan laut. Tumbuhan
mangrove sendiri dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim,
seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam (salinitas) yang tinggi, dan
tanah yang kurang stabil. Hutan mangrove yang seharusnya di jaga namun saat
ini banyak oleh masyarakat, hal ini yang merusak fungsi utama hutan mangrove
yang seharusnya sebagai benteng utama masuknya gelombang laut ke daratan
serta sebagai pencegah abrasi pantai tergangggu akibat ulah dari masyaraknya
sendiri(Asiyah dan Gamal, 2015).
Indonesia juga memiliki hutan mangrove terluas di dunia (18-23%)
melebihi negara-negara lainnya seperti, Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha)
dan Australia (0,97 ha)(Spalding, M.D., 1996). (Giesen, 1993), menyebutkan
bahwa luas hutan mangrove yang ada di indonesia melebihi 2,5 juta ha.
(Spalding, M.D., 1996) menyatakan bahwa luas mangrove di indonesia adalah
4,5 juta ha. Pada umumnya hutan mangrove di indonesia banyak di temukan di
daerah kepulauan, dengan daerah hutang mangrove terluas di indonesia berada di daerah Irian Jaya sekitar 1.350.600 ha (38%), Kalimantan 978.200 ha (28%),
dan Sumatera 673.300 ha (19%) (Dit. Bina Program INTAG, 1996). Dengan
luasan hutan mangrove ini, memuat sebuah potensi bagi masyarakat sekita
untuk melakukan pengelolaan yang baik, sehingga nantinya dapat menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat baik terhadap ekosistem lingkungan atau ekosistem
perikanan yang ada di sekitar hutan mangrove ini(Spalding, M.D., 1996)
Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di ujung paling timur
pulau jawa dan termasuk dalam kawasan Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi
sendiri mempunyai garis pantai sekitar 175 km sehingga dapat di katakan
banyuwangi mempunyai potensi di dalam kawasan pesisirnya . Banyuwangi
merupakan salah satu kabupaten yang menawarkan banyak tempat wisata, baik
wisata alam ataupun wisata buatan, salah satu destinasi wisata yang ada di
Banyuwangi adalah wisata Pantai Rejo (Pantai Cemara) yang berada di Desa
Pakis. Pantai Cemara merupakan pantai yang menawarkan 3 komponen yang
menjadi fokus pengelolaan yakni berupa, Konservasi Penyu, Ekosistem Cemara,
dan Ekosistem Mangrove.
Pantai Rejo (Pantai Cemara) merupakan kawasan konservasi yang
pengelolaannya dinaungi oleh DKP Banyuwangi dan Kelompok nelayan. Pada
tahun 2011 kondisi Pantai Rejo(Pantai Cemara) masih gersang dengan kondisi
pasir pantai yang terkikis oleh ombak, DKP banyuwangi dengan dibantu oleh
kelompok nelayan melakukan kegiatan penanaman pohon cemara sehingga saat
ini menjadi kawasan wisata konservasi yang berada di Banyuwangi,
pemanfaatan kawasan mangrove sebagai destinasi wisata merupakan salah satu
cara dalam pengembangan sekaligus kegiatan konservasi yang ada di Pantai
Rejo (Pantai Cemara). Oleh kerena itu, kegiatn yang dilakukan di Pantai Rejo
(Pantai Cemara) tidak hanya berfokus pada pengembangan di sektor wisata saja
namun juga berkegiatan dalam pembibitan Mangrove, hal ini merupakan salah
satu cara dalam menunjang kegiatan konservasi khususnya dalam
pengembangan ekosistem mangrove yang ada di Pantai Rejo (Pantai Cemara).
KUB Pantai Rejo (Pantai Cemara) merupakan pantai yang mempunyai
pasir yang berwarna Hitam dengan deretan pohon cemara laut (Cemara udang)
sehingga Pantai Rejo ini sering disebut dengan Pantai Cemara. Lokasi Pantai
Cemara ini berada di Desa Pakis kecamatan Banyuwangi Kabupaten
Banyuwangi Jawa Timur, yang berjarak kurang lebih 5 km dari pusat kota
Banyuwangi, Pantai Cemara ini mempunyai luas sekitar 5 hektar serta terbagi dalam 3 zona, yakni zona Pemanfaatan, zona lanjutan dan zona inti. Kegiatan
yang dilakuan di Pantai Cemara ini salah satunya adalah kegiatan pembibitan
mangrove yang dilakukan di sekitar area kawasan wisata Pantai Cemara dalam
membantu kegiatan pelestarian hutan mangrove di kawasan Pantai Cemara.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ACH WAHYUDI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | PEMBIBITAN; MANGROVE; Rhizopora mucronata; PANTAI |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:32 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:48 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/4868 |
