TRUNOJOYO-KP-23540-180331100002-PKL_180331100002_INDAH SULISTYOWATI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Masyarakat Indonesia menganggap tanaman okra merupakan tanaman asing
bagi mereka, hal ini disebabkan karena produk okra sendiri sangat terbatas di pasaran
seperti pasar tradisional, minimarket bahkan di supermarket. Selain terbatas harga
okra di Indonesia relatif lebih mahal. Sekitar 1.500 ton okra di ekspor ke luar negeri
seperi Jepang, Australia, Taiwan dan beberapa negara lainnya. Pada negara tersebut
okra sudah biasa dijumpai dan ditemui untuk dibudidayakan, dikonsumsi, dan lain
sebagainya. Namun secara global okra sudah didistribusikan ke banyak negara seperti
Jepang, Amerika, China dan salah satunya ke Indonesia (Andespa, 2020). Okra yang
sering dikonsumsi adalah okra yang masih muda atau buah muda. Sifat fisik okra
yang berlendir banyak masyarakat mengolah okra menjadi sayuran dan lauk pauk,
juga menjemurnya sampai kering untuk dijadikan camilan sehat. Masyarakat luar
negeri biasanya mengolah okra dengan cara diekstraksi untuk dijadikan obat dan di
Jepang okra menjadi salah satu bahan pembuat sushi (Simanjuntak & Gulton, 2018).
Kandungan gizi yang ada pada okra sangat berdampak baik untuk tubuh
manusia sehingga okra banyak diproduksi secara komersial di berbagai negara.
Namun untuk saat ini produksi okra di berbagai wilayah menurun atau tidak bisa
mencapai hasil optimum disebabkan oleh menurunnya kualitas tanah dan sempitnya
lahan pertanian (Abd El-Kader et al., 2010). Banyaknya alih fungsi lahan pertanian
menjadi pemukiman padat penduduk salah satu faktor yang menyebabkan produksi
okra tidak maksimal bahkan di beberapa daerah di Indonesia tidak mengenal okra.
Hingga saat ini Indonesia selain dari hasil lokal, juga masih mengimpor okra dari
China untuk dibuat olahan makanan berbahan dasar okra, dengan begitu persediaan
okra di Indonesia bisa terpenuhi (Nadira et al., 2009)
Permasalahan pengendalian kualitas merupakan strategi secara menyeluruh
dalam rangka untuk memiliki daya saing dan bertahan terhadap persaingan global
dengan produk perusahaan lain. Perusahaan harus fleksibel dalam menghadapi atau
memenuhi tuntutan dan permintaan dari konsumen, sehingga akan menghasilkan
produk yang berkualitas dan akan diterima oleh konsumen. Tuntutan dan permintaan konsumen yang berubah inilah yang perlu direspon oleh perusahaan agar konsumen
bisa merasa puas terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Menghasilkan
mutu yang terbaik diperlukan upaya perbaikan berkesinambungan terhadap
kemampuan produk, manusia, proses dan lingkungan (Hatani, 2008)
Pengendalian mutu juga diterapkan pada PT Mitratani Dua Tujuh agar
produk yang diproduksi bisa diterima oleh konsumen. Pengendalian mutu pada PT
Mitratani Dua Tujuh bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.
Produk utama yang dihailkan oleh PT Mitratani Dua Tujuh adalah edamame atau
kedelai Jepang. PT Mitratani juga memproduksi sayuran beku lainnya seperti okra,
buncis, terong, dan lain sebagainya. Pengendalian mutu dilakukan untuk memenuhi
tuntutan konsumen (buyer) terhadap produk yang dihasilkan sehigga konsumen bisa
memperoleh produk yang memang sesuai dengan keinginan konsumen. Pihak
pimpinan perusahaan harus secara hati – hati menetapkan standar kualitas produk dan
melakukan pengawasan dengan teliti agar dapat memenuhi harapan konsumen
(buyer).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM INDAH SULISTYOWATI |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | PENGENDALIAN MUTU; OKRA |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:32 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:48 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/4867 |
