TRUNOJOYO-KP-23277-180331100014-1645100580906_PKL_180331100014_Ika Yuliatin.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Penanaman dan penggunaan karet di Indonesia sudah ada sejak lama.
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditas ekspor
andalan Indonesia, bahkan Indonesia pernah menjadi produsen karet alam nomor
satu di dunia. Kedudukan tersebut saat ini telah digeser oleh Malaysia dan Thailand,
dikarenakan luas lahan tanaman karet di Indonesia tidak diiringi dengan produksi
besar dan mutu yang baik (Alinda 2013). Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Devi (2015) sebesar 88% dari total areal perkebunan karet Indonesia merupakan
kontribusi dari perkebunan rakyat yang dapat memproduksi 78,9% dari total
produksi karet, sedangkan 12% dari total areal perkebunan dapat memproduksi
21,1% karet yang dihasilkan dari perkebunan besar. Menurut Badan Pusat Statistik
(2018), produksi tanaman karet di Jawa Timur pada tahun 2017 mencapai 27.622
ton, sementara itu wilayah penghasil karet terbesar di Provinsi Jawa Timur adalah
Jember dengan jumlah produksi 15.924 ton. Menurut Badan Pusat Statistik (2018),
ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5.154 ton dengan nilai US$
7,38 juta (Kusnandar 2019).
Di era globalisasi ini karet merupakan salah satu pokok bahan mentah bagi
perindustrian di dunia. Karet alam mentah perlu dilakukan pengolahan mulai dari
tahap penyadapan tanaman karet hingga pengemasan. Tujuannya untuk
mendapatkan karet komersial yang bernilai tinggi dan mutu yang baik sehingga
nilai ekspor meningkat (Savetlana et al. 2019). Kegunaan karet sangat bermanfaat
bagi kehidupan manusia, misalnya sebagai bahan dasar pembuatan ban kendaraan,
bola, tas dan benda lainnya yang berbahan lentur.
Meningkatnya permintaan pasar terhadap produk karet mengakibatkan
perlu adanya penjadwalan proses produksi. Hal ini supaya proses produksi berjalan
lancar sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sehingga kebutuhan pasar
dapat terpenuhi. Menurut Nadia et al. (2017) menyatakan bahwa penjadwalan
merupakan salah satu tahap penting yang harus dilakukan sebelum memulai
kegiatan produksi. Waktu penyelesaian produk harus diperhitungkan oleh
perusahaan, karena jika mengalami keterlambatan produksi mengakibatkan berkurangnya kepercayaan konsumen. Tentunya hal itu dapat merugikan
perusahaan. Selain itu, jika penyelesaian produk terlalu awal dari due date yang
telah ditetapkan, maka biaya penyimpanan akan bertambah. Adanya penjadwalan
produksi diharapkan supaya output dapat optimal. Tentunya setiap perusahaan
berupaya memiliki penjadwalan yang baik dalam sistem produksi, sehingga dapat
meningkatkan keuntungan dengan biaya operasional yang minimal dengan proses
produksi yang efisien dan waktu yang minimal (Nurhasanah, et al 2014).
PT Perkebunan Nusantara XII Kebun Renteng merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan, yaitu karet, kopi dan cokelat. Karet
merupakan produksi utama di perusahaan ini. Praktik Kerja Lapang ini dilakukan
untuk mengetahui penjadwalan produksi Ribbed Smoked Sheet (RSS) di PT
Perkebunan Nusantara XII Kebun Renteng.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM IKA YULIATIN |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | PENJADWALAN PRODUKSI; RIBBED SMOKED SHEET |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 12:14 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:47 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/3857 |
