PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE BERBASIS EKOWISATA DI DESA PENUNGGUL KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN

AKHMAD FARHAN FARIDY (2021) PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE BERBASIS EKOWISATA DI DESA PENUNGGUL KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-22687-170351100011-laporan pkl akhmad farhan faridy.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-22687-170351100011-laporan pkl akhmad farhan faridy.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Wilayah pesisir merupakan salah satu sumberdaya potensial di Indonesia,
dimana kawasan ini mencakup wilayah pertemuan antara daratan dan lautan.
Sumberdaya ini sangat besar dan didukung oleh adanya garis pantai sepanjang sekitar
81.000 km. Garis pantai yang panjang ini menyimpan potensi kekayaan yang
bersumber dari alam dan sangat besar. Potensi yang tersimpan diantaranya potensi
hayati dan non hayati. Potensi hayati misalnya: perikanan, hutan mangrove, lamun,
dan terumbu karang, sedangkan potensi non hayati misalnya: mineral dan bahan
tambang serta pariwisata (Sofian et al., 2001).
Salah satu sumberdaya pesisir yang penting ialah ekosistem mangrove, yang
mempunyai fungsi ekonomi dan ekologi. Hutan mangrove dengan memiliki variasi
bentuk akar yang dapat menahan sedimen sehingga dapat terbentuk areal rawa. Rawa
yang terdapat pada hutan mangrove dapat menyaring dan menetralkan senyawa kimia
yang beracun sebelum masuk ke peairan bebas. Di sisi lain, hutan mangrove dapat
berfungsi sebagai bangunan alami yang dapat menahan garis pantai dari terpaan
gelombang sehingga tidak terjadinya abrasi dan dapat meredam terjangan angin
sebelum sampai ke pemukiman penduduk(Zainuri et al., 2017).
Hutan mangrove merupakan ekosistem khas di wilayah pesisir dan
dipengaruhi pasang surut air laut. Bagi masyarakat pesisir khususnya, hutan mangrove
disadari atau tidak, mempunyai fungsi sangat strategis secara ekologi, sosial, maupun
ekonomi dalam kehidupannya. Hutan mangrove memiliki banyak fungsi, selain
manfaat yang langsung secara nyata dirasakan oleh masyarakat dan bahkan menjadi
sumber penghidupan ekonomi seperti kayu dan pohon, ikan, kepiting,dan lain
sebagainya juga manfaat tidak langsung penahan abrasi dan tempat ikan bertelur dan
memijah. Namun, seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di wilayah
pesisir dan kebutuhan yang diingini yang tinggi menyebabkan hutan mangrove
mengalami tekanan yang dapat mengancam keberadaan dan fungsinya. Kondisi
tersebut pada akhirnya dapat merugikan manusia dan alam karena terkait dengan
berkurangnya fungsi-fungsi baik ekologis maupun ekonomi dan fungsi
lainnya(Zainuri et al., 2017).
Kondisi mangrove di Indonesia semakin banyak mendapat tekanan baik fisik
maupun ekologis, diantaranya karena masih rendahnya kesadaran masyarakatuntuk
menjaga kelestarian hutan mangrove dan meningkatkan kebutuhan ekonomi sebagai
pemicu terhadap penurunan luas dan kualitas lingkungan hutan mangrove(Mangindaan et al., 2012). Luas hutan mangrove di Indonesia turun dari
5,21 juta hektar antara 1982-1987 menjadi 3,24 juta hektar dan makin menyusut
menjadi 2,5 juta hektar pada tahun 1993(Widigdo, 2003). Kerusakan mangrove di
Indonesia sudah mencapai 70%, hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman
masyarakat mengenai pentingnya fungsi dan manfaat ekosistem mangrove secara
ekonomi. Suatu upaya pengelolaan ekosistem mangrove secara ekonomi adalah
menggunakan instrumen berupa penghitungan nilai dengan valuasi ekonomi.
Kecamatan Nguling merupakan wilayahyang mengalami peningkatan luasan
hutanmangrove di Kabupaten Pasuruan dari 3,5 Ha ditahun 1985meningkat menjadi
84,6 Ha di tahun2005 (Sofian et al., 2001). Berdasarkan data tersebut sebagian besar
hutan mangrove berada di Desa Penunggul. Wilayah pesisir Desa Penunggul
Kecamatan Nguling sebelumnya merupakan areal pertambakan hasil konversi
kawasan mangrove dan jarang sekali ditumbuhi tanaman, bahkan terjadi abrasi yang
tiap tahun semakin mendekati pemukiman. Namun, pesisir Kecamatan Nguling
sekarang dipenuhi rimbunnya hutan mangrove terutama di Desa Penunggul.
Keberhasilan konservasi hutanmangrove di Kecamatan Nguling telah
membawa manfaat yang cukup berarti bagimasyarakat sekitar hutan, yaitu
meningkatnyajumlah produksi dan nelayan yang melakukan penangkapan ikan di
sekitar ekosistem hutanmangrove dan terlindungnya wilayah pantai daribahaya banjir
dan angin badai(Sofian et al., 2001).Penanaman dan pelestarian hutan mangrove
dilatarbelakangi adanya kepedulian masyarakat dengan tokohnya Bapak Mukarim.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
AKHMAD FARHAN FARIDY
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords HUTAN MANGROVE; EKOWISATA
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 05:11
Last Modified 24 Oct 2026 17:28
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/36322

Actions (login required)

View Item
View Item