ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN SEGAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PASONGSONGAN KECAMATAN PASONGSONGAN SUMENEP

MIELDA JOESITA SYAFITRI (2021) ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN SEGAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PASONGSONGAN KECAMATAN PASONGSONGAN SUMENEP. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-22633-180351100073-LAPORAN KEGIATAN PKL_MIELDA JOESITA.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-22633-180351100073-LAPORAN KEGIATAN PKL_MIELDA JOESITA.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi ikan untuk
perbaikan gizi terus meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan peningkatan
konsumsi ikan dari tahun ke tahun (Inara, 2020). Namun di sisi lain, ikan
termasuk jenis bahan high perishable food (mudah rusak). Ikan mudah
mengalami perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologi, dan fisikawi
karena kandungan air dan protein yang tinggi, asam amino esensial, dan asam
lemak tak jenuh yang menyebabkan ikan cepat membusuk selama
penyimpanan sehingga menurunkan mutu ikan. Selang beberapa jam setelah
ikan ditangkap dan didaratkan, akan timbul proses perubahan yang mengarah
pada kerusakan.
Cara yang umum dilakukan oleh nelayan untuk mencegah kerusakan
yaitu pengawetan dengan menggunakan es balok. Penggunaan es balok
sebagai pengawetan cukup memiliki banyak kendala karena dibutuhkan
dalam jumlah yang cukup banyak sehingga tidak praktis dan harganya relatif
mahal. Hal tersebut menyebabkan nelayan maupun penjual berlaku curang
untuk menerapkan praktik penggunaan zat kimia berbahaya seperti formalin
sebagai pengganti es balok (Suryadi et al., 2010).
Formalin atau formaldehida merupakan zat kimia pengawet yang
bukan termasuk Bahan Tambahan Pangan (BTP) karena berbahaya bagi
manusia sebagai zat beracun, karsinogen, korosif, dan iritatif. Peraturan
Menteri Kesehatan tahun 2012 No. 033 menyatakan bahwa formalin dilarang
sebagai bahan tambahan pangan. Namun, sampai saat ini masih banyak
oknum yang menggunakan formalin sebagai bahan tambahan pengawet
makanan karena murah, dan keberadaanya yang mudah didapatkan. Formalin
mempunyai kemampuan untuk mengawetkan makanan karena gugus
aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein membentuk senyawa
methylene (-NCHOH). Ketika makanan berprotein disiram atau direndam
larutan formalin, maka gugus aldehida dari formaldehida akan mengikat unsur protein. Protein yang terikat tersebut tidak dapat digunakan oleh bakteri
pembusuk sehingga makanan berformalin menjadi awet (Dewi, 2018).
Hasil uji laboratorium tentang penggunaan formalin pada ikan telah
dilakukan oleh Mardiyah dan Siti (2020) yang menunjukkan tingginya
penggunaan formalin pada berbagai jenis ikan segar terutama di pasar
Mimbo. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 8 dari 10 sampel diantaranya
adalah ikan tongkol, ikan kembung, ikan makarel, ikan swanggi, ikan bawal,
ikan teri, ikan kakap, dan udang positif mengandung formalin, yang ditandai
dengan adanya perubahan warna dari putih keruh menjadi ungu atau ungu
muda. Hal ini juga didukung oleh penelitian Lema dan Jacob (2020)
ditemukan kadar formalin yang beragam pada sampelnya. Kadar tertinggi
ditemukan pada sampel ikan tongkol dari pasar Oesapa sebesar 3,36 ppm dan
pada ikan kembung sebesar 1,26 ppm. Sedangkan kadar formalin pada ikan
belang kuning di pasar Naikoten sebesar 0,54 ppm dan sebesar 0,414 ppm di
pasar Oeba. Namun, rentang kadar formalin tersebut masih diperbolehkan
karena tidak melebihi ambang batas normal (1,5-14 ppm).
Bahaya mengkonsumsi seafood yang berformalin dalam beberapa kali
saja masih belum terasa atau terlihat akibatnya. Walaupun dalam dosis
sedikit, kadar formalin pada seafood dapat menyebabkan keracunan pada
tubuh manusia dengan gejala sakit perut akut disertai muntah-muntah dan
mencret berdarah (Surahy et al., 2020). Efek jangka panjang yang dapat
dirasakan setelah beberapa tahun kemudian yaitu dapat merusak hati, ginjal,
limpa, pankreas, otak, depresi, susunan syaraf, dan gangguan peredaran
darah, menimbulkan kanker, terutama kanker hidung dan tenggorokan hingga
kematian (Budianto, 2011).
Formalin berbahaya terhadap kesehatan, oleh karena itu penggunaan
formalin sebagai bahan pengawet makanan dilarang oleh pemerintah.
Faktanya banyaknya data yang menunjukkan penggunaan formalin pada ikan
segar di beberapa pasar tradisional maupun modern di Indonesia masih
disebabkan oleh beberapa faktor perilaku. Faktor tersebut meliputi
pengetahuan, sikap, dan tindakan produsen maupun penjual mengenai
keamanan pangan dalam proses pembuatannya (Surahy et al., 2020) Berdasarkan informasi tersebut, penelitian kandungan formalin pada
ikan segar hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai
Pasongsongan, Kabupaten Sumenep perlu dilakukan. Analisis keberadaan
kandungan formalin pada ikan segar di Pelabuhan Perikanan Pantai
Pasongsongan dapat dilaksanakan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang. Hal
ini bertujuan untuk mempraktikkan teori dan pemahaman yang diperoleh di
bangku perkuliahan untuk dapat dikonfirmasi melalui kegiatan Praktik Kerja
Lapang

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
MIELDA JOESITA SYAFITRI
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords FORMALIN; IKAN SEGAR; PELABUHAN PERIKANAN
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 04:45
Last Modified 24 Oct 2026 17:28
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/36211

Actions (login required)

View Item
View Item