TRUNOJOYO-KP-22631-180351100026-LAPORAN PKL_M.AFIF IRFANI_180351100026 .pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang langka dan khas di dunia,
karena luasnya hanya 2% di permukaan bumi. Ekosistem mangrove ini memiliki
peranan dari segi ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya yang sangat penting
(Setyawan dan Kusumo, 2006). Fungsi ekologi hutan mangrove meliputi tempat
sekuestrasi karbon, remediasi bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari
abrasi, intrusi air laut dan gelombang badai, menjaga kealamian habitat, menjadi
tempat bersarang, pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, burung dan fauna
lain, serta pembentuk daratan. Fungsi sosial - ekonomi hutan mangrove meliputi
bahan bangunan, kerajinan tangan, obat-obatan serta memiliki fungsi sosial-budaya
sebagai areal konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya. Ekosistem
mangrove berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi, gelombang laut dan
angin topan, serta berperan juga sebagai buffer (perisai alam) dan menstabilkan
tanah dengan menangkap dan memerangkap endapan material dari darat yang
terbawa air sungai dan yang kemudian terbawa ke tengah laut oleh arus. Bengen
(2001) mengemukakan bahwa dengan pertambahan penduduk dan pesatnya
kegiatan pembangunan di wilayah pesisir untuk berbagai peruntukan (pemukiman,
perikanan, pelabuhan dll), tekanan ekologis terhadap ekosistem pesisir khususnya
ekosistem mangrove semakin meningkat. Tekanan tersebut tentunya akan
berdampak terhadap kerusakan ekosistem hutan mangrove baik secara langsung
(misalnya kegiatan penebangan atau konversi lahan) maupun secara tidak langsung
(misalnya pencemaran oleh limbah berbagai kegiatan pembangunan. Hal tersebut
menjadi persoalan di dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove. Berbagai
peraturan telah dibuat, namun degradasi luasan hutan mangrove di Indonesia
semakin meningkat.
Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir, hutan
mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan (Saparinto ,2007 dalam
Lumbessy et.al 2015). Oleh karena itu pengelolaan ekosistem mangrove perlu dilakukan agar ekosistem mangrove dapat terjaga keberadaannya. Pengelolaan
ekosistem mangrove tidak dapat terlepas dan saling berkaitan dengan pembangunan
serta perkembangan di wilayah pesisir sehingga dalam perencanaan dan
pengelolaan harus berkoordinasi, berintegrasi dan bersinergi dengan sektor lainnya.
saat ekosistem mangrove terjaga, maka semakin banyak pilihan bagi masyarakat
pesisir dalam memenuhi kebutuhan ekonomi pada suatu kawasan. Namun apabila
hutan mangrove sudah rusak, maka kerusakan ekositem yang lain semakin tinggi,
ekosistem lainnya yang terdampak seperti ekosistem terumbu karang dan ekosistem
lamun, sebab ekosistem mangrove berfungsi sebagai biofilter pencemaran air dari
darat serta sebagai penahan ombak alami dan abrasi.Untuk itu, perlu adanya upaya
mengetahui kondisi komunitas mangrove di suatu kawasan.
PRPM (Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove) Mangare merupakan
pusat konservasi mangrove binaan CSR PT. Petrokimia Gresik yang sudah dimulai
dari tahun 2017. Lokasinya berada di Desa Tajung Widoro Kecamatan Bungah.
Tujuan awal didirikan PRPM adalah sebagai Tempat Restorasi dan mengembalikan
Sabuk Hijau (Green belt) Alami, hal ini disebabkan karena daerah pesisir Desa
Tajung widoro telah kehilangan penahan ombak alami berupa hutan mangrove
karena banyaknya peralihan fungsi lahan menjadi tambak. Peralihan Fungsi daerah
pesisir tersebut menimbulkan dampak negatif berupa Abrasi yang cukup tinggi dan
banjir rob yang sering terjadi di sekitar pesisir desa Tajung Widoro. Harapan
dengan adanya daerah restorasi dan pelestarian mangrove dapat mengurangi
ancaman abrasi dan banjir rob. Seiring berjalannya waktu PRPM lebih
dikembangkan menjadi eduwisata mangrove untuk memberikan edukasi
pentingnya pelestarian ekosistem mangrove serta menjadi alternatif perekonomian
masyarakat sekitar.
Pengembangan kawasan wisata pada daerah yang secara ekologi sesuai akan
berdampak positif, baik pada sisi ekologis, sosial maupun ekonominya. Sehingga
kawasan wisata tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan (Triwibowo,
2015). Dalam mendukung pengembangan eduwisata perlu adanya monitoring hutan
mangrove, salah satunya dengan mengetahui kerapatan hutan mangrove. Kerapatan
Mangrove merupakan salah satu indikator pemanfaatan sumberdaya ekosistem
mangrove untuk ekowisata. Nilai kerapatan Mangrove dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam kelayakan pengembangan ekosistem
mangrove. Penulis bertujuan untuk mengetahui jenis dan kerapatan mangrove yang
ada di PRPM Mangare untuk dijadikan pertimbangan dalam pengembangan
ekowisata
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MOHAMAD AFIF IRFANI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | EKOSISTEM; MANGROVE |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 04:45 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:28 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/36208 |
