KANDUNGAN KESADAHAN (HARDNESS) PADA TAMBAK UDANG (Litopenaeus Vannamei) DI TRAINING CENTER DAN LABORATORIUM CENTRAL PROTEINA PRIMA PAITON, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

WASIQATUS SYARIFAH (2021) KANDUNGAN KESADAHAN (HARDNESS) PADA TAMBAK UDANG (Litopenaeus Vannamei) DI TRAINING CENTER DAN LABORATORIUM CENTRAL PROTEINA PRIMA PAITON, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-22607-180351100017-Wasiqotus Syarifah--Laporan PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-22607-180351100017-Wasiqotus Syarifah--Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (774kB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang diekspor dan
memiliki nilai ekonomi tinggi. Hal ini didukung oleh pernyataan Erlando
et.al.(2015) yang menyatakan bahwa udang vaname (Litopenaeus vannamei)
adalah salah satu jenis udang yang permintaannya cukup tinggi baik di dalam
maupun luar negeri. Keberadaan udang vaname di Indonesia, tidak asing lagi
karena keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh udang vaname telah berhasil
merebut simpati para pembudidaya. Pembudidayaan udang vaname bertujuan
untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan ekonomi masyarakat
(Supito,2017). Subyakto et al.(2008) juga menambahkan pernyataannya bahwa
pada Tahun 2001, udang vaname secara resmi diperkenalkan pada masyarakat
pembudidaya setelah menurunnya produksi udang windu karena berbagai
masalah yang dihadapi baik masalah teknis maupun non-teknis.
Kendala teknis pada budidaya udang meliputi metode tambak yang tidak
sesuai, kincir air yang tidak sesuai dengan luasan tambak dan padat tebar udang
(Purnamasari et.al.,2017). Pakan dan padat tebar juga tergolong pada kendala
teknis budidaya. Pakan menjadi sumber nutrisi pada udang yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan secara optimal (Panjaitan et.al 2014
dalam Purnamasari et.al.,2017) sedangkan kincir air berperan dalam pemasok
oksigen dan teraduknya bahan organik pada air tambak. Kegiatan budidaya harus
memperhatikan padat tebar udang yang di tebar pada tambak. Padat tebar sangat
penting untuk menetukan jumlah benur yang akan di tebar dan luas tambak yang
digunakan (Purnamasari et.al.,2017).
Permasalahan non-teknis juga hal yang perlu di perhatikan dalam
budidaya. Terlepas dari keduanya (teknis dan non-teknis) merupakan saling
terhubung dan saling mempengaruhi antar satu sama lain. Permasalahan non teknis antara lain mengenai sumber air yang digunakan terkontaminasi, cuaca
yang tidak stabil, penyakit yang mengganggu pertumbuhan udang (Ali dan
Waluyo,2015). Hal tersebut sebab akibat dari kualitas air pada air tambak yang
tidak normal. Aziz, (2008) menyatakan bahwa Salinitas, pH, DO, intensitas
cahaya merupakan faktor kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan hidup udang. Dapat di artikan bahwa faktor
kondisi lingkungan berperan penting dalam menyokong keberlangsungan hidup
udang.
Penyakit, hama dan stress juga menjadi ancaman untuk keberlangsungan
hidup udang. Penyakit dan stress merupakan faktor biologi yang penyebabnya
tidak lepas dari keberadaan kualitas air yang buruk dan berlebih(Van Wyk dan
Scarpa, (1999) dalam Adipu (2019). Kasus yang diungkap Ghufron et.al (2017)
yang sering dijumpai oleh pembudidaya adalah kompetitor udang dalam hal
pakan, oksigen terlarut (DO), dan ruang gerak yaitu kepiting. Kepiting juga
menjadi agen pembawa penyakit seperti WSSV. WSSV (White Spot Syndrome
Virus) menurut Yanti et.al, (2017) merupakan penyakit pada karapas udang yang
disebabkan oleh virus WSSV yang mengakibatkan udang mengalami kematian
hingga 100%. Hal ini juga tidak terlepas dari faktor keberadaan parameter kimia
yang dijadikan nutrisi untuk pertumbuhan virus tersebut.
Kelebihan ataupun kekurangan bahan kimia sangat mempengaruhi
kondisi perairan budidaya karena dapat bersifat toksik pada udang. Udang akan
sering mengalami proses molting pada saat berumur 2 bulan dan pada saat itu,
kebutuhan Calsium (Ca) dan Phosphor (P) dapat diperoleh dari sumber
makanannya atau lingkungan(Restar et.al 2019). Molting dan imunitas udang
terhadap penyakit ada keterkaitannya dengan kesadahan oleh keberadaan kalsium
(Ca2+). Rosvita et.al, (2019) menyatakan bahwa kesadahan merupakan parameter
kimia yang pada dasarnya ditentukan oleh keberadaan kalsium (Ca2+) dan
magnesium (Mg2+).
Kesadahan penting untuk dianalisa karena kesadahan penting untuk
kesuburan kualitas air dalam tambak. Cholik et.al dalam Ramdiani (2014) menyatakan Pembudidaya juga harus mengetahui nilai kesadahan agar mudah
dalam menentukan dosis kapur yang akan digunakan untuk meningkatkan
kesuburan tambak. disamping itu, Sitanggang dan Listia (2016) berpendapat
bahwa kesadahan juga berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap pH air
tambak. Manfaat ketersediaan calcium yang memadai akan membuat proses
molting berlangsung cepat dan lancar. Hal ini di setujui oleh Yulihartini et.al.,
(2016) yang menytakan bahwa peranan calcium sangat dominan dalam proses
pengerasan dam pembentukan kulit udang setelah molting.
Sitanggang dan Listia (2019) menegaskan bahwa kondisi normal ataupun
tidak normalnya kualitas air budidaya yang salah satunya adalah kesadahan akan
berakibat pada proses pertumbuhan udang, aktivitas, nafsu makan, proses
molting, serta imunitas udang terhadap penyakit. Templeton dalam Ramdiani
(2014) menyatakan bahwa tingkat kesadahan yang tinggi akan mengakibatkan
toksisitas melalui ion logam tertentu. Hal ini didukung dengan pernyataan Ali
dan Waluyo (2015) yang menyebutkan dalam penelitiannya bahwa umumnya
udang mudah terserang penyakit pada saat udang dalam keadaan molting, saat
nafsu makan dan daya renang udang menurun. (Effendi (2003) menyatakan
bahwa air sadah dalam suhu tinggi akan menyisakan deposit yang akan
mengganggu pernafasan udang. Selain itu, air sadah yang tinggi akan
menyebabkan udang akan kesulitan untuk melakukan molting . hal ini di perkuat
dengan pernyataan Adegboye dalam Erlando (2015) yang menyatakan bahwa
kadar calsium yang rendah akan menyulitkan untuk pembentukan cangkang,
Sedangkan kadar calsium yang tinggi juga menyulitkan proses pergantian kulit.
Petambak dalam mengatasi kesadahan yang rendah dengan memberikan
penambahan kapur, dolomit dan sodium bikarbonat (NaHCO3) serta akan
menambah konsentrasi air tawar apabila terjadi kesadahan yang terlalu tinggi
namun ini jarang terjadi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Boyd (1982) yang
menyatakan bahwa dengan penambahan kapur atau dolomit akan menaikan kadar
pH. Selain itu menurut Zaidy, (2007) menyatakan bahwa dengan penambahan
kapur akan meningkatkan jumlah udang yang molting dan mempertahankan kekerasan kulit udang. Supono, (2019) menyatakan bahwa penambahan sodium
bikarbonat dapat meningkatkan nilai kesadahan dan bereaksi lebih cepat
dibandingkan kapur. Kesadahan yang tinggi dapat mengakibatkan deposit yang
diatasi dengan penambahan air tawar karena bersifat hard water maka dari itu,
perlu dilakukan pengenceran (Effendi, 2003)
Kesadahan perlu di analisa dikarenakan kesadahan merupakan gambaran
garam-garam kalsium dan magnesium yang penting untuk kesuburan kualitas air
suatu tambak (Sitanggang dan Listia, 2016). selain itu, Yulihartini et.al., (2016)
menyatakan bahwa kesadahan dibutuhkan dalam proses molting udang. Training
Center dan Laboratorium (Central Proteina Prima atau biasa dikenal dengan TC
dan Lab. CPP Paiton merupakan tempat training dan laboratorium yang
memengang peranan penting dalam menganalisa kualitas air di beberapa tambak
yang tersebar di probolinggo dan sekitarnya. Laboratorium ini memproritaskan
analisa bahan kimia yang terdapat pada tambak udang. Maka dari itu, perlu
dilakukannya analisa kesadahan karena dapat membantu memberikan informasi
kepada petambak untuk kesuburan tambak udangnya.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
WASIQATUS SYARIFAH
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords KANDUNGAN KESADAHAN (HARDNESS); TAMBAK UDANG
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 19 Oct 2026 04:37
Last Modified 24 Oct 2026 17:28
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/36168

Actions (login required)

View Item
View Item