TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Abstract.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (287kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Cover.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (767kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Chapter1.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (307kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Chapter2.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (460kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Chapter3.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (320kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Chapter4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (421kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Chapter5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (956kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Conclusion.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (287kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-References.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (189kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-21801-Appendices.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (628kB)
Abstract
Keris dapat diartikan sebagai harta pusaka budaya dari masa lampau yang digunakan untuk kehidupan masyarakat sekarang dan kemudian diwariskan untuk generasi mendatang cara berkesinambungan. Keris di Indonesia trerdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya dunia non-bendawi manusia sejak tahun 2005. Menurut dokumen perbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad Ke-9 dan pernah digunakan sebelum masa tersebut. Pada masa lalu keris digunakan sebagai senjata peperangan sekaligus sebagai benda perlengkapan sesajian. Keahlian membuat kerajinan keris yang di wariskan dari leluhur terdahulu dan satu-satunya desa yang ada di Sumenep bahkan warganya hampir semua merupakan pengrajin keris terdapat di Desa Aeng Tong Tong.
Ritual pembuatran keris yang masih ada sampai saat ini yang tetap dijaga yang tentunya dilakukan secara sakral dan melakukan proses menaruh besi dikeramaian, berpuasa dan bertapa untuk mendapatkan wangsit atau daya magis, proses akad si pembeli dan mpu dengan membacakan mantra dan menanyakan tujuan dibuatkannya keris ageman, memohon izin ke makan leluhur dan berdoa, makna pamor, dan Sesajen merupakan bentuk simbol permohonan kepada sang pencipta dengan bermacam-macam sesajen yang ada diantaranya tajin (bubur) lima warna (koneng, merah, celleng, poteh, bhiru, ijo), demar kambheng (lilin), geddeng maddu (pisang madu), nyior (kelapa), nasek sarasol (masek tompeng) dan jejen pasar (jajanan pasar). Semua prosesi ritual dipercaya oleh pengrajin dan pembuat untuk pegangan diri atau perlindungan diri dengan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta dari berbagai makna simbol pamor.
Dalam ritual pembuatan keris terdapat dua unsur yaitu komunikan dan pesan. Komunikan merupakan orang yang membeli keris dan pesan termasuk dalam bagian dari ritual pembuatan keris.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RIDHO MARROTIN SUBASTIAN |
| Department | Ilmu Komunikasi |
| Uncontrolled Keywords | Keris, ritual pembuatan keris, Aeng Tong Tong, sesajen dan keris ageman. |
| Divisions | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya > S1 - Ilmu Komunikasi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 15:29 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:24 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/33172 |
