TRUNOJOYO-KP-21263-180351100009-Friska Rahmawati Tasya 180351100009.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Perikanan budidaya menjadi tumpuan serta perkembangan di sektor kelautan
dan perikanan Indonesia. Radiarta et al. (2015) menjelaskan bahwa Indonesia
termasuk negara produsen perikanan urutan ke-4 di dunia dengan produksi
3.067.660 ton atau 4,6% produksi perikanan dunia. Perikanan budidaya sebagai
pertumbuhan ekonomi negara yang memiliki daya saing. Usaha pengembangan
perikanan budidaya yang bertujuan untuk meningkatkan target kapasitas produksi
tahunan harus ditingkatkan dengan cara memanajemen ekosistem perikanan
budidaya secara baik dan berkelanjutan. Hal ini harus didukung oleh potensi lahan
tambak serta sumberdaya manusia yang memadai.
Aktivitas budidaya ikan yang terdapat di Indonesia meliputi budidaya air
tawar, budidaya air payau serta budidaya laut. Kementerian Kelautan dan Perikanan
Tahun 2019 melaporkan bahwa luas lahan untuk perikanan budidaya laut yaitu
sebesar 17,91 juta hektar, budidaya air payau sebesar 2,96 juta hektar, dan budidaya
air tawar yaitu sebesar 2,83 hektar. Potensi perikanan budidaya di Indonesia yang
memiliki nilai ekonomis yang tinggi meliputi tuna, udang, lobster, sidat, kepiting,
kakap, bawal, cobia, ikan karang, dan berbagai jenis ikan hias, kekerangan dan
rumput laut. Badan Pusat Statistik Tahun 2017 melaporkan bahwa hasil produksi
udang di Provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 156.139 ton Ditjen Perikanan Budidaya
merancang target produksi beberapa jenis komoditas budidaya pada tahun 2020
salah satunya komoditas udang sebesar 1.208.000 produksi udang di Indonesia.
Produksi hasil udang vannamei di Indonesia lumayan banyak tetapi harga jual
udang vannamei juga tetap mahal dan tidak mengalami penurunan harga jual.
Udang vannamei merupakan jenis komoditas udang yang sering
dibudidayakan karena harga jual yang tinggi serta prospek yang menjanjikan.
Darmawan (2008)mengungkapkan bahwa udang vannamei memiliki keunggulan
seperti padat tebar benih yang lebih banyak, lebih efektif dalam pemanfataan ruang
media budidaya, produk yang dihasilkan lebih banyak berkisar 10-20 ton per
2
hektarnya, dan waktu panen yang lebih cepat. Walaupun ukuran udang vannamei
lebih kecil daripada udang windu, akan tetapi harganya yang relatif lebih terjangkau
untuk masyarakat sehingga udang vannamei banyak diminati oleh masyarakat.
Amri dan Iskandar (2008) menegaskan bahwa udang vannamei memiliki beberapa
keunggulan lain, yaitu lebih resistan terhadap penyakit, laju pertumbuhan baik pada
salinitas normal 5-35‰, dan dapat tumbuh dengan baik walaupun diberikan pakan
yang rendah protein.
Romadhona et al. (2016) menjelaskan beberapa hal yang harus dipersiapkan
dalam rangkaian kegiatan budidaya udang vannamei, diantaranya persiapan lokasi,
sumber air, wadah, benih, peralatan, bahan kimia dan pakan. Air yang akan
digunakan untuk udang vannamei harus diendapkan terlebih dahulu pada kolam
tandon guna memperbaiki kualitas air. Faktor eksternal pemeliharaan udang
mencakup pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit serta manajemen
kualitas air. Padat tebar yang tinggi serta pemberian pakan yang banyak dapat
menurunkan kualitas air karena akumulasi bahan organik (Arsad et al., 2017).
Pakan udang buatan mengandung 40% protein yang berpotensi terhadap
proses pembusukan bahan organik yang tidak terurai secara baik di dalam perairan.
Romadhona et al. (2016) menjelaskan bahwa proses pembusukan tersebut dapat
menghasilkan senyawa nitrogen anorganik berupa NH3-N dan NH4+ yang bersifat
toksik bagi udang. Senyawa amonia dan nitrit menjadi faktor penghambat
pertumbuhan udang di tambak sehingga perlu dianalisis untuk mengetahui
kadarnya agar tidak melebihi standar baku mutu yang ditentukan. Titah dan Slamet
(2004) menyampaikan bahwa air limbah dari tambak udang pola intensif memiliki
kadar amonium tinggi bersama-sama dengan urea dan senyawa lain yang dapat
meningkatkan konsentrasi nutrien terlarut dalam air.
Nutrien-nutrien terlarut tersebut akan dimanfaatkan oleh fitoplankton yang
dapat menyebabkan eutrofikasi. Senyawa NH3 juga bersifat lebih toksik dari
senyawa NH4. Kandungan NH3 yang terlalu tinggi akan berbahaya bagi udang
dikarenakan hemoglobin pada tubuh udang tidak dapat mengikat O2 dalam darah
dan sufokasi. Kandungan amonia dapat diturunkan dengan meningkatkan oksidasi
sehingga proses nitrifikasi dapat berlangsung sempurna (Komarawidjaja, 2006).
3
Masuknya kadar amonium tidak hanya dari berasal dari feses atau sisa
metabolisme udang saja, tetapi juga berasal dari sumber air yang digunakan untuk
budidaya. Lubis et al. (1987) melaporkan bahwa pupuk urea dari bidang pertanian
merupakan sumber potensial dari pencemaran NH4 yang akhirnya menyebabkan
terkontaminasinya sumber air oleh amonium, nitrit dan nitrat. Kadar amonium
dalam tambak dapat mempengaruhi kualitas air. Parameter-parameter fisika, kimia
maupun biologi kualitas air dapat mempengaruhi kadar amonium dalam suatu
kegiatan budidaya perairan di tambak. Pertumbuhan udang mengalami penurunan
yang disebabkan oleh adanya asosiasi kadar amonium pada media budidaya
perairan disertai oleh kadar salinitas yang tinggi (Suriawan et al. 2019).
Cara pencegahan yang biasa dilakukan untuk mengurangi kadar amonium
dalam budidaya perikanan yaitu dengan melakukan pengurangan jumlah pakannya.
Ismettulloh et al. (2019) menyampaikan bahwa penggunaan zeolit dapat
mengurangi kadar amonium dalam perairan, hal ini dikarenakan pori-pori pada
zeolit dapat mempermudah proses adsorpsi amonium dan menghilangkan senyawa
amonium. Penggunaan zeolit ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menetralkan
kadar amonium dalam budidaya perikanan. Solusi lain untuk mengurangi kadar
amonium yang didapat melalui kegiatan praktik kerja lapang di Training Center dan
Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo yaitu dengan cara
penggunaan pupuk nitrifikasi. Penggunaan pupuk nitrifikasi tersebut selain
menetralkan kadar amonium juga dapat mempercepat proses nitrifikasi dan
meningkatkan nutrisi yang diperlukan plankton untuk tumbuh dan berkembang.
Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton
Probolinggo merupakan salah satu unit training untuk fresh gradute yang memiliki
tugas meningkatkan ilmu pengetahuan akademis maupun lapang, dan kreatifitas
para training. Selain itu, Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina
Prima Paiton Probolinggo memiliki tugas yaitu melakukan analisis kualitas air
untuk budidaya perikanan. Analisis yang terdapat pada Training Center dan
Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo salah satunya yaitu
analisis kadar amonium. Berdasarkan hal tersebut, Training Center dan
Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo layak dan tepat untuk
4
melakukan kegiatan praktik kerja lapang untuk mengetahui dan memahami
prosedur analisis amonium pada sampel air budidaya udang vannamei.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM FRISKA RAHMAWATI TASYA |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | AMONIUM; AIR TAMBAK |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 06:16 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:21 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/30986 |
