PENANGANAN IKAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI UPT TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) PAITON, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

Ayu Nadila Insani (2021) PENANGANAN IKAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI UPT TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) PAITON, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-20960-180351100004-Laporan PKL_Ayu Nadila Insani 180351100004.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-20960-180351100004-Laporan PKL_Ayu Nadila Insani 180351100004.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Penangkapan ikan merupakan kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah atau mengawetkannya. Ada beberapa jenis alat tangkap ikan untuk kegiatan penangkapan ikan diantaranya adalah Purse seine (pukat cincin) yang merupakan alat penangkap ikan terbuat dari jaring yang pengoperasiannya dengan cara melingkarkan jaring pada gerombolan ikan lalu bagian bawah jaring dikerucutkan dengan menarik purse line hingga jaring tersebut berbentuk seperti mangkuk pada akhir proses penangkapan ikan (Hastrini et al., 2013). Ikan merupakan komoditas yang memiliki karakteristik cepat busuk (highly perishable) sehingga penanganannya harus dilakukan secara cepat dan sangat baik dilakukan dalam rantai dingin. Kondisi mutu ikan hasil tangkapan tidak bisa diperbaiki tetapi hanya bisa dipertahankan, oleh sebab itu penanganan ikan untuk mempertahankan mutunya harus dilakukan di setiap tahap ikan itu berada, mulai dari ikan dinaikkan ke kapal sebagai hasil tangkapan sampai kepada konsumen saat dikonsumsi (Fachrussyah, 2017).
Ikan merupakan komuditas yang mudah dan cepat membusuk, sehingga ikan memerlukan penanganan yang cepat dan cermat, dalam upaya mempertahankan mutunya sejak ikan di angkat dari air. Pendinginan merupakan perlakuan yang paling umum dalam mempertahankan mutu hasil perikanan terutama dalam tahap penanganan. Dalam penanganan ikan segar di upayakan suhu tetap rendah mendekati 0°C. Penanganan ikan harus di lakukan secepat mungkin untuk menghindari kemunduran mutu ikan sehingga di butuhkan bahan dan media pendinginan yang sangat cepat dalam menurunkan suhu ikan pada pusat thermal ikan. Tingkat kesegaran ikan akan semakin cepat menurun atau ikan akan mudah menjadi busuk pada suhu tinggi dan sebaliknya pembusukanan dapat di hambat suhu rendah (Deni, 2015).
2
Ikan mengandung sekitar 60 – 84% air, protein sekitar 18 - 30%, lemak sekitar 0,1 - 2,2%, karbohidrat 0 – 1% dan vitamin sisanya. Ikan ternyata juga memiliki beberapa kekurangan yaitu kandungan air yang tinggi (80%), pH tubuh ikan yang mendekati netral dan daging ikan yang sangat mudah dicerna oleh enzim autolysis menyebabkan daging sangat lunak, sehingga menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk. Kekurangan yang terdapat pada ikan dapat menghambat usaha pemasaran hasil perikanan, tidak jarang menimbulkan kerugian besar terutama disaat produksi ikan melimpah, oleh karena itu diperlukan proses penanganan untuk menjaga kesegaran mutu ikan sampai berada di tangan konsumen (Wahyudi dan Maharani, 2017).
Penanganan ikan adalah suatu rangkaian kegiatan atau perlakuan terhadap ikan tanpa mengubah struktur dan bentuk dasar dari ikan itu sendiri yang dilakukan dengan tepat guna dan berdaya tepat dengan mengarah pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas waktu yang pada prinsipnya bermuara pada sistem jaminan mutu yang aman bagi kesehatan manusia. Penanganan ikan diperlukan perlakuan khusus untuk menjaga mutu dari hasil tangkapan tersebut. Tingkat kesegaran ikan yang dikonsumsi tergantung pada proses penanganan ikan yang baik dan benar. Penanganan yang dianggap baik adalah dengan penerapan rantai dingin, yaitu mengusahakan agar ikan tetap dingin (suhu rendah). Penanganan yang dianggap paling ekonomis dan efektif adalah menggunakan es. Hasil tangkapan ikan yang tidak langsung ditangani, maka akan mempengaruhi tingkat kesegaran ikan. Penurunan mutu ikan dapat terjadi mulai dari saat penangkapan dan terus berlangsung hingga ke tangan konsumen akhir (Metusalach et al., 2014).
Ikan segar hasil tangkapan yang memiliki mutu tinggi sangatlah penting untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, mengingat bahwa produk perikanan merupakan bahan makanan yang mudah rusak. Masalah yang dihadapi nelayan saat ini yaitu menurunnya kualitas ikan hasil tangkapan yang diakibatkan oleh lamanya waktu penangkapan ikan di laut, meningkatnya lama trip penangkapan, mengakibatkan kualitas ikan menjadi menurun. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi pengawetan yang mempertahankan kualitas ikan lebih lama mulai saat ditangkap hingga didaratkan di pelabuhan perikanan. Secara
3
tradisional, setelah nelayan memperoleh hasil tangkapan mereka lalu mencoba menjual sendiri ke konsumen setempat, melalui cara barter dan nilai uang tertentu. Kegiatan ini pada umumnya tidak terorganisir dengan baik dan kurang efisien dan tidak produktif, karena mutu ikan kurang terjaga sehingga harga cenderung menurun. Tempat pelelangan ikan (TPI) memegang peranan penting dalam suatu pelabuhan perikanan dan perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar dapat tercapai manfaat secara optimal.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
Ayu Nadila Insani
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords IKAN; PURSE; Pelelangan Ikan
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 18 Oct 2026 01:50
Last Modified 24 Oct 2026 17:20
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29901

Actions (login required)

View Item
View Item